Tampilkan postingan dengan label era digital. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label era digital. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

Srikandi Blogger, Aktualisasi Perempuan di Era Digital

Hiruk pikuk perhelatan akbar ajang Acer Srikandi Blogger 2013 telah selesai. Senyum puas para finalis, panitia dan semua pihak yang terlibat menghiasi dunia maya. Sebuah ajang apresiasi terhadap para perempuan blogger yang mungkin selama ini tidak terlalu disadari sepak terjangnya.

Tak dapat dipungkiri ajang yang melibatkan para perempuan blogger yang tergabung dalam Kumpulan Emak Blogger ini merupakan perhelatan terbesar pertama kali untuk dunia blogging Indonesia.Bukan saja terbesar semangatnya namun juga terbesar cakupannya. Karena tidak hanya diikuti oleh blogger di satu propinsi tertentu tetapi seluruh perempuan blogger dari ujung Barat Indonesia ke ujung Timur hingga menyeberang ke negeri tetangga dan negeri saudara jauh. Tidak hanya itu, acara dengan sponsor utama Acer dan Rinso ini pun bertabur hadiah, mulai dari stok rinso selama setahun, TV Samsung hingga Notebook Acer. Awesome.

Kumpulan Emak Blogger 

Dengan tagline " Kami Ada Untuk Berbagi", Kumpulan Emak Blogger yang digawangi oleh MakPon Mira Sahid,sampai saat ini berhasil menjaring anggota mencapai 1000 perempuan blogger yang terdiri dari berbagai profesi. Uniknya, walaupun memakai nama Emak, namun nyatanya para anggota tidak hanya terbatas oleh perempuan yang telah berkeluarga, namun semua perempuan blogger dengan batas usia tertentu. Masuk akal sih, karena kan nantinya para perempuan ini juga akan menjadi seorang emak. 

Panggilan emak sendiri menjadi begitu akrab saat diucapkan, walaupun terkesan kampungan dan udik tapi ternyata hal itulah yang menjadi perekat saat bertegur sapa di dunia maya. Bahkan tak jarang panggilan yang awalnya dilontarkan di dalam grup akhirnya terbawa juga ke wall masing-masing anggotanya.

Berbeda dengan kebanyakan grup di facebook yang biasanya melakukan interaksi di dalam grup, justru di KEB ini interaksi terjalin saat melakukan blog walking ke masing-masing blog para emak. Semakin aktif menulis di blog maka semakin intenslah blog si emak akan dijambangi. Sharing is Caring benar-benar diterapkan disini. Karena yang namanya perempuan, dunia yang digeluti tak jauh-jauh dari dunia parenting, keluarga dan kehidupan sehari-hari. 

Blogging

Bagi para emak mungkin awalnya kegiatan ngeblog hanya untuk mencurahkan isi hati. Ada juga yang menjadikan blog sebagai arsip kisah pribadi. Tak sedikit yang menjadikan blog sebagai sarana berbagi pengetahuan yang dimilikinya, seperti dunia kepenulisan, masak-memasak, politik, hingga kesehatan. Dan tak dipungkiri akhirnya ada beberapa yang menjadikan blog sebagai lahan untuk menambah penghasilan, baik untuk jualan online ataupun untuk mengikuti berbagai ajang lomba blog yang semakin menjamur dengan hadiah yang begitu menggiurkan. Apapun tujuan para perempuan blogger ini menulis di blog, toh pada akhirnya semua tulisan tersebut akan memberi manfaat bagi para pengunjungnya dan tentu saja manfaat bagi si empunya blog. 

Ngeblog bagi saya, awalnya adalah terapi jiwa. Saya aktif ngeblog sejak tinggal terpisah dengan suami. Rasa rindu, putus asa dan merasa sebagai istri yang egois saya tuangkan dalam tulisan. Di tengah tumpukan pekerjaan, saya tenggelam dalam dunia yang ternyata sangat saya sukai ini. Dari sekedar curhat colongan, akhirnya ngeblog malah menjadi obat hati untuk saya. Sejak rajin menulis, saya merasa diri saya menjadi pribadi yang lebih baik. Ngeblog juga mendongkrak kepercayaan diri saya beberapa level lebih tinggi, karena dengan latihan menulis di blog saya bisa menerbitkan beberapa tulisan saya dalam bentuk buku, sesuatu yang tidak pernah ada dalam pikiran saya sebelumnya. Dan entah karena keberuntungan atau memang rezeki, beberapa tulisan di blog saya ini malah mendatangkan materi yang tidak sedikit untuk saya dan keluarga.

Ya tanpa saya sadari, jika ditekuni secara serius ngeblog itu banyak sekali manfaatnya. Termasuk bertemu dengan para perempuan inspiratif dari kegiatan bewe yang saya lakukan.

Srikandi Blogger


Saat digaungkan pengumuman akan diadakannya pemilihan Srikandi Blogger, saat itulah kegiatan blogging seperti mendapat sebuah apresiasi luar biasa. Awalnya saya sendiri tidak mengerti, apa yang dimaksud dengan pemilihan Srikandi Blogger ini, namun melihat semangat para makpan dan makmin dalam woro-woro pemilihan ini saya pun tergerak untuk mengikutinya. Dengan syarat yang tidak menyulitkan yaitu minimal telah ngeblog selama 2 tahun dan mengirimkan email tanda kepesertaan saya pun melayangkan lamaran kesanggupan berkompetisi dengan perempuan blogger lain. Satu hal yang saya tidak tahu adalah kalau para peserta lain mengirinkam resume yang berisi alasan mengikuti ajang ini.Saya tahunya setelah deadline berakhir, kala membaca ulang lagi syarat dan peraturan lomba, karena itu saya segera melupakan ajang ini.

Siapa sangka saat pengumuman 50 semi finalis, nama saya terjaring di dalamnya. Dari 150 emak yang mendaftar, blog saya terpilih, waduh senang bukan kepalang. Saya berpositif thinking bahwa mungkin para makpan melihat ada sesuatu di blog saya sehingga saya layak menjadi 50 finalis.

Para Finalis

Pun saat ke 10 finalis diumumkan dan nama saya tidak ada di dalamnya, saya mengacungkan apresiasi setinggi-tingginya untuk pilihan dewan juri. Karena ke 10 nama Srikandi Blogger yang terpilih memang para perempuan yang aktif dalam dunia blog baik online maupun offline. Myra Anastasia, Winda Krisnadefa,Dina Begum,Alaika Abdullah,Diadjeng Laraswati adalah pemilik blog yang sering saya kunjungi. Menurut saya blog mereka unik, dengan penggunaan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami dan kisah yang terkadang sepertinya sederhana tapi menjadi sesuatu yang istimewa berkat ramuan tulisan mereka. Kelebihan lainnya adalah mereka tak segan melakukan kunjungan balasan dan menanggapi komentar yang mampir di setiap postingan blog. tak heran Srikandi -Srikandi ini bisa dibilang merupakan selebritis blog perempuan ( menurut saya lho ).

Sedangkan finalis lainnya saya memang tidak terlalu kenal, maklum saja saya baru beberapa bulan bergabung dalam KEB. Syukurlah ada ajang Srikandi Blogger ini, saya jadi lebih mengenal mereka melalui tulisan-tulisan di blognya. Anazkia ,Shinta Ries,Nci Hanie,Octaviani N,Eka Maya finalis yang ternyata blognya juga sering saya baca tapi saya tidak tahu siapa pemiliknya. 

Penganugerahan

Setelah satu bulan berjibaku dari mulai pendaftaran, penyaringan 50 semi finalis hingga penyusutan menjadi 10 finalis, akhirnya pada hari Minggu 28 April 2013 acara puncak pun di gelar. Bertempat di Gedung F Kemendiknas Jl Sudirman Jakarta. Sungguh saat itulah saya merasa betapa beruntungnya orang yang tinggal di Jakarta, karena bisa menghadiri acara bergengsi tersebut. Sedangkan saya yang berada di Medan cukup berpuas diri dengan menyaksikan melalui live streaming yang bisa diakses via internet ( thanks to internet ).

Saya dibuat takjub oleh penampilan emak-emak yang berubah bak Cinderella, cantik-cantik dan sungguh anggun. Tentu saja itu semua tak lepas dari sapuan ajaib Wardah kosmetik yang menjadi salah satu sponsor acara ini. 

Emak-emak yang mungkin sehari-harinya gemar berdaster ria, memakai pakaian senyaman mungkin di rumah, kini harus berjuang berjalan di catwalk memakai sepatu/sendal berhak dengan balutan kebaya yang mengeluarkan aura kewanitaan meraka, so beautiful. Ah emak, ternyata ada kecantikan tersembunyi dalam diri kalian.

Walaupun tidak hadir di antara para Srikandi tersebut, saya melihat susunan acara yang disajikan tertata dengan baik, dari mulai monolog, mini drama, fashion show hingga tentu saja acara puncak yang ditunggu-tunggu. Tidak hanya para finalis, saya pun turut deg-deg-an menanti pengumuman siapa yang terpilih menjadi Srikandi Blogger 2013.


Daaan akhirnya terpilihlah tiga Srikandi Blogger 2013 untuk masing-masing kategori:

Acer Srikandi Blogger 2013
Mak Alaika Abdullah

Acer Srikandi Favorit 2013
 Mak Anazkia

 Acer Srikandi Persahabatan 2013
Mak Myra Anastasia.

Ketiga srikandi terpilih ini menurut saya memang pantas sekali menyandang gelar tersebut. 

Myra Anastasia memang seorang blogger yang sangat bersahabat. tak heran setiap postingan di blognya selalu dibanjiri komen karena belaiu memang aktif sekali blogwalking ke blog orang lain. Dan kekonsistenannya ngeblog itu lhooo patut diacungin jempol, karena ngga hanya mengelola satu blog tapi tiga blog sekaligus yang ketiganya selalu update. 

Anazkia. Entah kenapa, saat saya Bewe ke blognya saya selalu merasa nyaman dengan segala cerita yang dibaginya. Sebagai seorang TKI di negeri orang saya sangat salut dengan manajemen waktunya yang bisa membagi antara pekerjaan, koordinator hibah sejuta buku hingga menyempatkan diri berbagi melalui blog.

Alaika Abdullah,saya mengenalnya sebagai blogger dengan bahasa tulisan yang sangat tertata dan sistematis. Selain itu saya juga tahu mak Alaika Abdullah sebagai seorang penulis novel Selingan Semusim. Sungguh tak salah juri menobatkannya sebagai Acer Srikandi Blogger 2013 karena beliau memang merupakan sosok perempuan blogger multitalented yang menginspirasi para perempuan lain.

Di samping tiga penghargaan di atas, ternyata ada dua penghargaan tambahan yaitu Live Time Achievement yang disematkan ke mak Yati Rachmat, seorang perempuan berusia 70 tahun yang usianya tak menghalangi semangat untuk berbagi. Angkat topi untuk mak yang satu ini.

Kemudian Acer Srikandi Inspiratif 2013 diberikan kepada mak Haya Alia Zaki, seorang editor yang tulisannya selalu bernas. Entah sudah berapa banyak tulisannya yang malang melintang di media.

Perempuan Era Digital

Applaus yang sangat meriah pantas kita berikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam ajang ini. Acara ini menunjukkan pada dunia digital, bahwa seorang perempuan memiliki potensi luar biasa di dalam dirinya yang akan menjadi penggerak bagi lingkungannya. Keterbatasan yang mungkin selama ini dirasa menghalangi, dengan ajang ini membuka mata para perempuan dimanapun berada bahwa sebenarnya diri kitalah yang membuat batasan-batasan itu.

Bahwa seorang perempuan, entah itu yang berkarir di luar rumah atau berkarir di dalam rumah memiliki kesempatan yang sama untuk mengaktualisasikan dirinya. Memiliki kesempatan yang sama untuk maju, berkembang, memperoleh ilmu, berprestasi  dan bermanfaat bagi lingkungannya. Tinggalkan stigma negatif bahwa perempuan itu tidak melek teknologi, bahwa perempuan lamban dalam menerima arus informasi baru.

Para Srikandi Blogger ini telah membuktikan pada kita semua, bahwa saat perempuan punya gawe bahkan yang dipanggil emak - dengan konotasi seorang perempuan lugu,berdaster,bau susu bayi- ternyata bisa menggelar perhelatan akbar yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Terbukti dengan para sponsor yang bersedia mendukung acara ini, Acer, Rinso, Wardah, merupakan bentuk pengakuan secara eksplisit dari brand-brand ternama bahwa acara Acer Srikandi Blogger 2013 ini adalah acara bergengsi yang memang patut di dukung dan diapresiasi setinggi-tingginya.

Dan satu hal yang paling membekas dari ajang Srikandi Blogger ini bagi saya yaitu saya benar-benar jadi melek. Dulunya saya ngeblog sesuka hati. Setelah beberapa kali menang lomba, saya malah kebanyakan posting hanya untuk lomba. Melihat para Srikandi Blogger ini saya jadi malu pada diri sendiri. Karena isi blog mereka semua benar-benar merupakan hal yang bermanfaat. Sederhana tapi menginspirasi. Dan jujur saya, saya tidak mengira ada begitu banyak perempuan blogger yang sehari-hari di rumah ternyata memiliki amunisi demikian kuat untuk menulis dan berbagi. Hal tersebut memberi masukan positif kepada saya yang selama ini dihantui ketakutan apabila suatu saat karena keadaan saya harus resign dari pekerjaan saya. Kini saya sudah melihat begitu banyak contoh nyata, bahwa perempuan di era digital ini bisa berekspresi dan mengaktualisasikan diri tak peduli apapun profesinya.


Selamat kepada semua finalis, kepada para pemenang, kepada para panitia, dewan juri, dan tentu saja kepada seluruh perempuan blogger yang telah berbagi melalui tulisan, menginsiprasi melalui kisahnya. Semoga ajang ini akan ada setiap tahunnya , melahirkan Srikandi-Srikandi baru yang tahu apa yang dia mau, berani memanfaatkan peluang yang ada dan tidak takut mengemukakan pendapatnya. Karena dialah perempuan era digital.













Rabu, 25 Juli 2012

Wanita di Era Digital: Aktif Tanpa Ribet



sumber:www.jalanhidup.jpg

Hidup adalah perjalanan
Membuka mata, melihat luasnya cakrawala
Di dalam perjalanan selalu ada hal istimewa
Karena perjalanan selalu akan memperkaya jiwa

Saya percaya tidak ada suatu kebetulan di dunia ini. Semua terjadi karena adanya sebab akibat. Bahkan rumput di atas pusara pun tumbuh karena suatu alasan.

Sebagai wanita bekerja , saya sering mendengar omongan miring dari orang-orang. Beberapa kali malah ada yang dengan terang-terangan mempertanyakan apa yang saya cari sehingga mau bersusah payah bekerja dari pagi sampai sore. Padahal gaji suami saya bisa dibilang cukup untuk menghidupi keluarga kecil kami.Bagi saya itu merupakan bentuk perhatian yang harus saya hargai.

Namun tak sedikit juga yang mengapresiasi pilihan yang saya jalani.

Ada yang salah dengan kata-kata bersusah payah. Karena pada kenyataannya saya sangat menikmati peran sebagai wanita karir sekaligus seorang istri.

Menurut saya, apapun pilihan yang diambil oleh seorang wanita terutama yang telah berkeluarga, bekerja di luar rumah atau menjadi full mother itu kembali ke diri masing-masing.

Sejak kecil saya selalu melihat ibu saya bangun pagi, menyiapkan sarapan kami, bersiap diri untuk kemudian pergi mengajar. Saya sangat mengagumi ketangguhan ibu. Sepulang mengajar , ia akan bergegas kuliah dan tiba di rumah hari sudah menjelang senja. Namun itu tidak dilakukan setiap hari, hanya 3 hari dalam satu minggu. Tapi entahlah, saya tidak pernah sekalipun merasa kehilangan perhatian dan kasih sayang dari ibu.

Saat saya ingin jalan-jalan ke mall ibu selalu ada. Saat saya mengenal cinta pertama ,ibu juga ada mendengarkan curhatan saya, dan saat hati remaja saya lebur , ibu ada untuk memeluk saya. Sungguh tak sekalipun saya merasa ibu mengabaikan keluarga demi pekerjaan. Bukti konkritnya, empat anak ibu memiliki prestasi belajar yang memuaskan.

Melihat itu, membulatkan tekad saya untuk tak ragu menjadi wanita karir. Saya sudah melihat contoh, bahwa ibu bekerja bisa menyeimbangkan antara keluarga dan dunia kerja.

Setamat kuliah Alhamdulillah saya langsung diterima bekerja di salah satu bank nasional. Tak lama berselang, saya pun menikah. Suami sama sekali tidak melarang saya untuk terus berkarya. Saya tidak menampik, bahwa dengan bekerja maka ada satu dua hal pekerjaan rumah tangga yag tidak dapat saya tangani. Memasak, mencuci misalnya. Tapi itu hal yang sangat mudah diatasi, karena saya melihat, para ibu yang bekerja di rumah pun kebanyakan menyerahkan pekerjaan tersebut ke tangan asisten rumah tangga.

Sampai saat ini saya belum dikarunia buah hati. Hal ini, saya tidak tahu menyebutnya seperti apa. Ada yang bilang mumpung belum punya anak, bolehlah bekerja. Ada juga yang mengatakan, gimana mau punya anak kalau kerja terus. Apapun itu, saya yakin rejeki tidak akan tertukar dan tidak akan salah alamat, apalagi datang terlambat. Menurut saya, sudah banyak doa-doa saya yang dikabulkan oleh-Nya. Kalau toh satu dua hal saya disuruh menunggu, saya akan terima itu sebagai bentuk kasih sayang-Nya.

sumber:  http://retnodamayanthi.files.wordpress.com/2008/06/wanita-karir21.jpg 

Selagi diberi Allah berupa kelonggaran dalam hal waktu, saya memanfaatkannya semaksimal mungkin. Saya merasa memiliki kemampuan yang sangat disayangkan jika tidak didaya gunakan. Bagi saya, itu merupakan salah satu bentuk rasa syukur terhadap talenta yang diberikan.

Namun memang tak selamanya hal tersebut semudah yang dikatakan. Dua tahun lalu, perusahaan memutasikan saya ke Jakarta. Berpisah dengan suami di Medan. Mutasi tersebut bukan tanpa sebab, tapi merupakan apresiasi perusahaan terhadap kinerja saya. Tentu saja saya bangga, senang. Namun ada dilemma di hati, harus memilih antara meninggalkan suami atau menerima tugas tersebut.

Kesempatan tidak datang dua kali. Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya saya berangkat. Bagi saya dukungan dari suami sangat penting untuk menciptakan rasa nyaman saat bekerja. Ternyata tantangan yang saya hadapi semakin berat. Disamping tanggung jawab yang semakin besar, saya pun harus memikirkan suami di Medan. Bukan hal yang mudah bagi kami melewati semua itu.

Namun, di era digital ini, begitu banyak kemudahan yang bisa kita dapati. Semua seolah berada dalam genggaman. Jarak beratus kilometer pun dapat terjembatani dengan kecanggihan teknologi. Saya sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberi otak-otak pintar kepada para penemu internet. Karena bantuan alat tersebut, saya dan suami bisa berkomunikasi dengan lancar. Dimanapun selama ada sambungan internet dan computer, saya bisa skype-an bersama suami. Terkadang, webcam bisa aktif nyala semalaman, sementara saya melakukan apa, suami juga melakukan pekerjaannya, berasa seperti di dalam satu ruangan.

Gambar dari sini

Disamping internet, kami juga menggunakan ponsel sebagai media berkomunikasi. Setelah ada BB, menjadi lebih mudah lagi. Setiap pagi saya akan mengirim foto diri saya, sebagai pelepas rindu. Bahkan dengan dukungan para pebisnis termasuk perbankan, memudahkan saya melakukan reservasi tiket pesawat dan melakukan pembayaran-pembayaran yang seabrek-abrek. Jadi walaupun, saya tidak ada di rumah, segala jenis tagihan seperti telepon, listrik, air, bisa teratasi hanya dengan memencet sejumlah angka di ponsel. Teknologi yang sangat memudahkan.

Hal yang dikhawatirkan tentang keharmonisan rumah tangga yang akan terganggu oleh jarak, Alhamdulillah tidak kami alami selama ini. Semoga selamanya seperti itu. Bahkan , jarak yang memisahkan membuat kami merajut rindu setiap hari. Rasanya , kembali seperti pacaran. Saling menyapa, bertanya sudah makan belum, sedang apa, persis abege jaman sekarang. Siapa sangka kami malah tambah mesra.

Saya tidak mengingkari kuantitas pertemuan dalam suatu keluarga itu sangat penting. Namun, kalau kondisi tidak memungkinkan, pilihan ada pada kita, mau menyesalinya, atau mencari cara untuk menikmatinya. Untuk menyiasatinya, saya memilih daerah-daerah yang saya kunjungi untuk perjalanan dinas yang berdekatan dengan Medan. Agar bisa sekalian bertemu suami. Malah pernah saat saya ke Bali, suami saya ajak serta selama seminggu, sekalian honeymoon deh jadinya. Selalu ada kemudahan dalam kesempitan.

Dengan keterbatasan waktu saat bertemu, membuat saya dan suami menjadi saling menghargai. Saling mengerti tanpa harus diutarakan. Kami bisa duduk berdua dalam diam, hanyut dalam kegiatan masing-masing, namun kami tahu kami ada dalam frekuensi dan gelombang yang sama.

Begitu pula, waktu yang terbatas tersebut membuat kami lebih kreatif mencari cara agar tetap bisa bersama, mengunjungi orangtua, bermain dengan keponakan, dan menghadiri undangan pesta rekan kerja atau kerabat. Hal tersebut bisa karena terbiasa.

Banyak hal yang saya dapati saat bekerja. Apalagi saya bekerja di bank yang bergerak di sektor mikro. Membantu membiayai usaha nasabah, melihat jatuh bangun mereka, memberi saja pelajaran baru tentang semangat pantang menyerah. Saya jadi tahu bagaiaman kiat-kiat untuk membangun usaha yang bagus. Selain itu, bertemu orang-orang dengan berbagai type kepribadian, makin memperkaya dan mengasah rasa empati dan toleransi yang saya miliki. Saat saya berinteraksi dengan nasabah, baik eksternal maupun internal, bisa menyelesaiakan masalah mereka, menjawab pertanyaan, dan membantu mempermudah pekerjaan mereka, hal itu bagi saya sudah merupakan kontribusi saya dalam kehidupan.

Dengan bekerja pula, saya belajar hal-hal baru, yang semakin meluaskan wawasan. Diakui atau tidak, saya dan suami bisa menjadi teman diskusi yang sangat klop, karena dia bergerak di bidang perkebunan dan industry sedangkan saya perbankan membuat kami saling take and give terhadap berita-berita dari masing-masing pihak. Menyenangkan sekali bukan, memilki teman diskusi yang kita cintai. Bahkan banyak teman suami yang sering bertukar pikiran dengan saya untuk masalah-masalah perbankan yang mereka alami.

Dan yang paling menyenangkan, saya bisa mengunjungi banyak daerah saat perjalanan dinas. Hal yang mungkin akan sulit saya lakukan kalau saya tidak bekerja. Sara pernah ke daerah rawan bencana di pelosok negeri ini. Melihat dari dekat lokasi-lokasi tersebut membuat saya semakin mensyukuri hidup ini.

Ketahun, Bengkulu
Bagi saya bekerja bukan untuk membebaskan diri dari tanggung jawab terhadap keluarga. Malah membuat saya belajar untuk lebih gesit, lebih pintar mengatur waktu dan kemampuan mengatur strategi antara membagi waktu kerja, keluarga, liburan dan kegiatan social. Tak jarang saya mengambil cuti jika ada acara kantor suami yang mewajibkan saya hadir. Sebisa mungkin, bekerja tidak menjadi penghambat.

Saat saya jauh dari suami, membuat saya lebih berhati-hati dalam menjaga sikap dan perilaku. Karena saya tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikannya. Saya selalu mengusahakan mengabari dimanapun saya berada. Walaupun ia tidak disamping saya, saya akan selalu meminta izin padanya jika ingin pergi ke suatu tempat yang agak jauh. Bagaimanapun saya adalah tanggung jawabnya. Dan saya juga berkewajiban menjaga kehormatannya.

Demikian pula, waktu-waktu luang sepulang kerja, yang mungkin kebanyakan wanita melewatkannya dengan berbagai kesibukan di rumah, saya mengisinya dengan melakukan hal-hal yang menjadi passion saya. Membaca, menulis, berselancar di dunia maya, yang mungkin tidak akan seleluasa saat saya berada di rumah. Tidak banyak, namun ada beberapa tulisan saya yang sudah mejeng di buku dan nangkring di rak Gramedia. Saya hanya berusaha menerima keadaan dengan melakukan hal-hal yang memberi nilai lebih.Dengan teknologi digital, melalui media sosial seperti facebook, twitter saya juga sering mengikuti lomba-lomba menulis. Jadi jangan gunakan media sosial hanya untuk menghabiskan waktu. Dari hobi saya itu, saya malah berkesempatan memenangkan hadiah dari yang kecil-kecil sampai yang terbilang lumayan. Nah kan, hobi kalau ditekuni jadi sangat menyenangkan.

Antologiku
Bekerja juga turut memperngaruhi cara saya berpenampilan. Saya jadi terbiasa tampil rapi kemanapun. Setidaknya saya akan berdandan saat ke kantor.Bukan dandan yang berlebihan, seperlunya dan sepantasnya saja.  Dan karena terbiasa dengan rutinitas, maka saya pun terbiasa dengan ritual kecantikan yang membuat saya selalau merasa fresh. Agar selalu tampil segar, setidaknya melakukan perawatan wajah dan tubuh menjadi rekreasi tersendiri bagi saya. Minimal sebulan sekali ke salon, memanjakan diri, merilekskan otot-otot yang tegang . Dan untuk itu semua, saya bisa melakukannya sesering saya mau, karena saya memiliki budget dari uang pribadi yang saya hasilkan sendiri.

Bekerja juga membuat kebutuhan pakaian saya menjadi spesifik. Cukup tiga kategori, baju kerja, baju santai, dan baju kondangan atau arisan. Karena sudah terkategori demikian, saya tidak pusing. Baju kerja saya sangat simple, hanya berupa blazer dan kemeja. Dengan begitu menghindarkan saya dari belanja yang tidak perlu. Karena saya sudah tahu jenis pakaian yang saya butuhkan. Disamping itu dengan bertemu berbagai macam orang dari berbagai kalangan, memberi saya kemudahan melihat trend fashion yang lagi in. Lumayan, referensi gratis.


Satu hal yang mungkin tidak banyak disadari, keuntungan bekerja adalah memiliki networking yang luas, dari berbagai macam orang dan berbagai macam kalangan. Setidaknya saya memiliki relasi dari Sabang sampai Merauke, juga dari instansi-instansi yang berhubungan dengan pekerjaan saya. Hal tersebut sangat bermanfaat, karena semakin banyak orang yang kita kenal dan mengenal kita maka semakin banyak kesempatan dan keberuntungan yang bisa kita raih.

Ya bekerja memberi saya triple bonus sekaligus, gaji setiap bulan, peluang belajar menjadi ahli, serta pengalaman yang laku dijual.


Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang wanita, karena itu ia disebut makhluk multitasking. Di era digital ini, banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Wanita di era digital adalah wanita yang tahu apa yang ia mau.Bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang tercipta untuk memaksimalkan potensi yang ada di dalam dirinya .

Keterbatasan waktu dan ruang bukan menjadi penghalang untuk berkarya. Tidak ada excuse dalam setiap hambatan. Teknologi yang ada , manfaatkan sebesar-besarnya untuk mendukung segala aktivitas kita. jangan hanya sebagai pengisi waktu luang yang kurang menghasilkan.

Saya sangat mensyukuri apa yang saya miliki saat ini. Suami yang mencintai saya, keluarga yang selalu mendukung, sahabat yang peduli. Hal-hal tersebut semata-mata adalah curahan kasih sayang-Nya kepada saya. Apa yang telah diberi-Nya membuat saya semakin merasa semakin kecil .

Me, My Life
Sampai hari ini, saya masih berharap dan tak henti berdoa agar diberi jalan untuk bisa berkumpul bersama keluarga. Juga agar diberi kepercayaan menerima titipan-Nya. Sembari menunggu doa-doa saya diijabah, saya hanya bisa mengisinya dengan menghargai setiap tetes cinta-Nya dalam kehidupan saya.

Menjadi wanita bekerja diluar rumah, atau bekerja di dalam rumah, atau menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang memiliki sisi positif masing-masing. Apa yang saya utarakan panjang lebar diatas semuanya dapat dimiliki dan dilakukan oleh ibu yang bekerja di dalam rumah maupun ibu rumah tangga. 

Setiap orang mungkin ditakdirkan untuk memainkan peran yang berbeda- beda yang dibutuhkan untuk membentuk keharmonisan dalam dunia yang tak selebar daun kelor ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan suatu saat saya menjadi ibu rumah tangga. Dan karena tuntutan kebutuhan, ibu rumah tangga menjadi wanita karir. Bukankah hidup adalah misteri?. Apapun peran kita, selama kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh, ikhlas maka akan ada imbalan dari yang maha Kuasa untuk itu semua.

Perjalanan, seperti kendaraan yang membutuhkan bahan bakar yang cukup untuk sampai di tujuan. Semoga dengan rute yang berbeda-beda, perjalanan hidup kita masing-masing berakhir di tempat yang paling indah.

Let's Check This Story