Sabtu, 20 April 2013

Happy Anniversary Ayank


Yah tanggal 20 hampir berganti. Besok semua perempuan di seluruh Indonesia akan merayakan harinya persamaan Gender dinisbahkan. Yang kata orang itulah tonggak emansipasi wanita, Hari Kartini.

Bagiku April bukan sekedar bulannya kaum perempuan, tapi lebih dari itu, April selalu membawa kenangan indah bagiku, karena di satu hari di bulan April, kodratku sebagai perempuan disempurnakan oleh seorang pria, dialah pria yang menggenapkan separuh dienku, padanya surgaku berada.

Mengingat 5 tahun silam, tepat hari ini tanggal 20 April 2008, saat jabat tangannya bertemu dengan tangan pria lain yang membesarkanku, saat kata sah bergema di sebuah ruangan mungil rumahku, saat itulah rasa ini membuncah. Perasaan haru, bahagia dan takut menjadi satu. Haru mengingat tanggung jawab orangtua padaku akan segera berakhir, bahagia karena telah kutemukan pemilik tulang rusukku dan sedikit takut akan ketidakmampuanku menjadi makmum yang baik untuknya.

Genap 5 tahun kita bersama. Usia pernikahan yang tak bisa dibilang baru, namun belum pantas dibilang lama. Selama 5 tahun ini banyak warna-warni yang menghiasi rumah tangga kita.

Namun yang paling membedakan tahun ini dibanding tahun-tahun yang telah lewat adalah adanya kehadiran malaikat mungil yang sedang bersemayam di rahimku. Memberi denyut kehidupan yang baru bagi warna rumah tangga yang kita jalani. Rasanya lima tahun menjadi tidak ada apa-apanya, hanya sekedipan mata.

Jadi ingat bagaimana perjuangan kita untuk melihat dua buah garis merah di alat pengetes kehamilan itu. Perjuangan yang tidak hanya menguras perasaan, tapi juga energy, waktu dan materi. Semua terbayar saat melihat gerakan-gerakan lembutnya di perutku, merasakan detak jantungnya dan tumbuh bersamanya dari hari ke hari.

Happy aniversary ayankku. Tak ada kata yang mampu kuucap untukmu. Hanya syukurku yang tak terhenti akan kehadiranmu di hidupku. Terima kasih telah menyempurnakanku dan memberi kesempatan padaku untuk merasakan kehidupan baru tumbuh bersamaku.

Penulis dan Kopi




Lagi-lagi tentang kopi. Memang minuman yang satu ini ngga ada matinya. Jangankan meminumnya, baru membicarakan saja sudah memberi sensasi tersendiri bagi panca indera.

Entah sudah berapa banyak penulis yang bercerita tentang kopi dalam karyanya. Atau menjadikan kopi sebagai benang merah dalam setiap tulisannya. Sebut saja “ Filosofi Kopi” Dewi Lestari, atau “ The Coffee Memory “ Riawany Elita, “ Cinta Dalam Gelas “ Andrea Hirata, “ Club Camilan “. Itu baru yang berbentuk novel dan ditulis oleh penulis dalam negeri, belum lagi kumpulan cerita seperti antologi “ The Coffe Shop Cronicles sampai “ Antologi Kopi Tubruk”.

Untuk novel luar, sebut saja “ The Various Flavours of Coffee”- Anthony Capella.

Memang minuman hitam ini punya segudang cerita untuk dikupas. Di samping rasanya yang memang sensasional, bagi sebagian orang kopi memang merupakan sumber inspirasi. Penulis adalah salah satu kalangan yang paling dekat kehidupannya dengan kopi.

Saya pribadi adalah penyuka kopi. Bahkan cerita tentang kopi sudah berulang kali saya ulas di blog ini, seperti disini dan disini. Saya dan kopi ibarat sepasang kekasih remaja, malu-malu mau atau malu-malu rindu. Ya , saat ini karena saya lagi hamil, maka konsumsi kopi saya kurangi, akibatnya saya seperti yang dikatakan tadi, ingin selalu minum seperti kondisi sebelum hamil, namun demi kesehatan bayi yang saya kandung, jadi dengan segala kesadaran saya pun menguranginya. Walau terkadang saya tetap juga curi-curi kesempatan untuk sekedar mencicipinya, Bagaimanapun juga yang namanya sudah jatuh cinta, susah berpisah darinya.

Balik lagi ke hubungan antara kopi dan penulis. Tidak semua, namun dari semua teman penulis yang saya kenal, kebanyakan menjadikan kopi sebagai teman saat menulis. Sebagai seorang blogger, saya pun demikian. Karena bekerja dari pagi hingga sore, bahkan tak jarang saya baru sampai di rumah menjelang Isya, maka waktu yang saya miliki untuk menulis adalah di saat jam dinding telah condong ke posisi kanan. Bukan hanya bagi pekerja seperti saya, kebanyakan penulis yang notabeneibu rumah tangga pun memiliki kebiasaan menulis di jamnya orang tidur. Tak heran menjelang tengah malam sampai pagi, media social seperti FB , Twitter  pun diramaiakan oleh para penulis yang sedang bergentayangan. Dan biasanya, kopi menjadi topic yang sering mengisi kolom komentar dan postingan di timeline.

Sejujurnya, kalau ada yang mengatakan dengan meminum kopi ide-ide akan keluar, saya tidak terlalu mengamininya. Karena sejauh ini, saya meminum kopi saat menulis bukan untuk memancing ide keluar, tapi lebih kepada menginginkan efek kafein yang bisa memperlama kondisi mata dalam keadaan melek dan otak tetap terjaga. Karena setahu saya salah satu fugsi kafein adalah mengubah cadangan lemak menjadi energy. Itulah yang saya butuhkan dari secangkir kopi di malam hari.

Mengapa bisa demikian ?

Salah satu hal yang membuat kita mengantuk adalah senyawa adenosine dalam sel otak. Jika zat ini terikat oleh receptornya, secara otomatis akan memperlambat aktivitas sel tubuh dan menyebabkan pembesaran pembuluh darah. Kondisi ini terjadi jika tubuh dalam keadaan lelah. Untuk menghilangkan pengaruh senyawa adenosine ini diperlukan tidur . Ya tidur akan membantu otak untuk membersihkan senyawa adenosine penyebab ngantuk tadi.

Dan ternyata kafein dapat menyaingi fungsi adenosine, terutama dalam membuat ikatan dengan receptornya. Kafein membuat tubuh tidak merespon terhadap perintah-perintah adenosin, karena receptordi otak lebih sibuk bergulat dengan kafein. Dengan kata lain,kafein membalikkan semua kerja adenosin. Itulah sebabnya dengan meminum secangkir kopi yang mengandung kafein, rasa kantuk bisa dihalau.

Namun, perlu diketahui, kafein dapat mencapai otak dan masuk ke system saraf melalui saluran darah membutuhkan waktu 15-20 menit setelah seseorang meminum kopi. Jadi sebenarnya cara yang paling ampuh untuk mengusir ngantuk dan membuat tubuh tetap terjaga adalah setelah minum kopi sebaiknya kita tidur sebentar kurang lebih 15 menit. Karena saat tidur senyawa adenosine akan dibersihkan, Dan saat kita bangun, kafein juga telah mulai bereaksi. Ini lebih ampuh dibanding hanya meminum kopi saja. Saya biasanya seperti itu.

Konon katanya, kafein memang masuk dalam kelompok zat yang dapat menstimulus kerja otak. Dengan meminum kafein, tubuh akan memperoleh kekuatan ekstra untuk berperang melawan rasa lelah, karena munculnya semangat yang tinggi. Nah semangat yang tinggi itu saya rasa yang bisa menelurkan ide-ide saat menulis.

Jadi bukan karena minum kopi terus ide jadi meluber-luber. Tapi kopi bisa membuat kita terjaga.

Namun, seperti hukum alam, segala sesuatu yang berlebihan akan memberi dampak negatif pada tubuh. Pun demikian dengan kafein yang terdapat pada kopi. Karena walaupun pada malam hari kita bisa terjaga dan merasa fit, tetapi tubuh tetap akan menghasilkan senyawa adenosine tadi secara berkala sepanjang hari. Itulah sebabnya kalau kita bergadang di malam hari, maka siangnya akan mengantuk. Kalau sudah mengantuk kita akan mengulang ritual yang sama. Lama kelamaan konsentrasi kafein di dalam tubuh akan menumpuk, dan tentu saja dapat menyebabkan penyakit.

Jadi para penulis, minumlah kopi sesuai ambang batas tubuh. 240 mg perhari cukup untuk membuat stamina tubuh oke. Karena tulisan-tulisan bergizi akan dihasilkan oleh tubuh-tubuh dan pikiran penulis yang sehat













Rabu, 17 April 2013

BAW, Makes Me Feel be a Writer

Dulu, setiap selesai membaca satu novel, saya akan menghela nafas panjang, larut dalam emosi tokoh-tokoh di dalamnya dan kemudian saya akan berkata dalam hati "Kok bisa yah penulisnya memikirkan cerita yang seperti ini". Kemudian saya akan kembali bertanya, " Bagaimana ya, bisa menulis novel setebal ini ?" dan lanjut " Seperti apa sih penulisnya?"

Benar, saya sangat takjub dengan para penulis. Penulis adalah profesi yang begitu saya kagumi. Karena seorang penulis mampu menyampaikan berbagai rasa, sedih, senang, haru,kecewa, marah ke dalam untaian kata yang bermakna lebih. Penulis juga mampu mendeskripsikan lukisan alam menjadi sebuah sinfoni yang merdu. Penulis juga bisa mengubah sesuatu yang terlihat biasa menjadi tidak biasa. Lebih dari itu, di tangan penulislah sebuah kenangan akan abadi.

Pernah saat saya selesai membaca buku Ika Natasha, salah sorang teman yang bekerja di bank lain berkata bahwa ia mengenal Ika Natasha secara personal, saya begitu kagum, wow saya merasa betapa beruntungnya teman saya itu bisa kenal dengan seorang penulis. Begitulah kekaguman saya terhadap para penulis semakin bertambah dari hari ke hari.

Dari saya kecil sampai beberapa waktu lalu, satu-satunya hal di dunia ini yang bisa membuat saya melakukannya dengan sepenuh hati, berjam-jam tanpa kebosanan adalah membaca. Ya, saya sangat suka membaca, apa saja. Saya ingat, pernah saat saya berumur delapan tahun, SD, saya demam selama berhari-hari. Saya ngga mau makan, dan tidur saja di kamar. Ibu saya sampai capek membujuk saya makan. Akhirnya entah mendapat ide darimana, ibu saya pergi ke tukang majalah bekas dan membelikan saya beberapa buah majalah Bobo yang sudah expired. Bukan main, saat itu juga tubuh saya langsug fit. Saya langsung lahap makan, karena sudah tidak sabar untuk menghabiskan tulisan-tulisan di majalah Bobo tersebut.

Pernah juga, saat saya memperoleh ranking di sekolah, ibu menawarkan hadiah untuk saya. Tapi saya disuruh memilih. Pilihannya adalah es krim atau majalah. Saya ingat, saat itu saya sangat menyukai es krim Conello, dan es krim bermerk seperti itu merupakan jajanan yang lumayan mahal Saat itu harga es krim dan harga majalah bobo sama yaitu Rp 1.200,-. Tanpa pikir panjang saya langsung memilih majalah sebagai hadiah.Saya tidak peduli apakah majalah yang dibelikan ibu majalah baru atau bekas, Bagi saya yang penting adalah tulisan di dalamnya.

Membaca seperti sudah mendarah daging bagi saya. Makanya saat kuliah, dan menemukan persewaan buku menjamur di sekitar kos, saya seperti terdampar di surga dunia. Saya rela menghemat makan demi bisa menyewa novel-novel yang saya suka, karena kalau harus membeli, saat itu saya tidak sanggup.

Membaca membuat saya kaya, saya bisa berkeliling ke penjuru dunia tanpa harus melangkahkan kaki di sana. Namun, di balik sisi positif hobi membaca saya, akhirnya saya tersadar bahwa saya tidak memiliki kemampuan lain, apapun. Saya tidak bisa bernyanyi, saya tidak bisa bermusik. Padahal sebenarnya saya adalah type orang yang tak pernah takut mencoba hal baru. Akhirnya saya mengambl kursus gitar, hanya untuk menambah keahlian saya, tapi gagal total, satu-satunya lagu yang bisa saya mainkan dengan gitar hanya lagu Sheila On 7 yang judulnya "Buat Aku tersenyum", itupun ngga sampai akhir.

Setelah itu saya pasrah dan menerima takdir bahwa satu-satunya keahlian saya hanya membaca. Beuugh, sejak kapan membaca jadi suatu keahlian.

Kira-kira dua tahun yang lalu, saat saya lagi blogwalking ke blognya penulis favorit saya Dewi Lestari, saya melihat undangan untuk bergabung ke sebuah grup, namanya "RT". Karena penasaran saya klik undangan tersebut dan saya join di dalamnya. Awalnya saya tidak tahu itu grup apa, hanya saja sepertinya penghuni di grup itu adalah orang-orang yang punya kecintaan terhadap buku. Dan punya kesamaan sifat, yaitu suka bertanya. Wah saya merasa menemukan komunitas yang sesuai dengan kepribadian saya. Ngga nyangka ternyata hobi membaca merupakan hobi yang keren juga. Dan saat saya tahu bahwa pendiri grup tersebut adalah seorang penulis, saya girangnya minta ampun. Maka, saat kopdar pertama grup tersebut digelar, saya bela-belain datang hanya untuk bertemu dengan si penulis. Itulah pertama kalinya saya bertatap muka langsung dengan seorang penulis. Benar-benar pengalaman yang berharga bagi saya.

Dari situ saya mengambil satu kesimpulan, bahwa ternyata seorang penulis itu adalah bisa jadi seseorang di sekitar kita, yang bertingkah laku sama seperti kita. Oleh karena itu siapapun bisa jadi penulis. Gara-gara pemikiran itu, saya jadi kepikiran buat jadi penulis. Haloooooo, kesambet apa yah saya. tapi entah mengapa sepulang dari kopdaran itu saya langsung semangat menulis sesuatu yang kemudian saya upload di grup tersebut.

Seiring berjalannya waktu, grup yang mempertemukan saya dengan salah satu penulis itu pun mati suri. Entahlah, apa saya yang mulai bosan atau apa, saya tidak mendapat ketertarikan lagi berada di dalamnya seperti saat pertama bergabung.

Namun demikian, grup tersebut memberi saya seorang sahabat bernama Mamah Ghulam Itu Linda. Awalnya hanya say hello di FB, hingga saya  melihat, begitu sering mbag linda ini mengupload buku-buku antologi yang ada tulisan dirinya di buku tersebut. Wow, saya makin takjub, ngga nyangka ternyata teman saya adalah seorang penulis. Benar-benar sesuatu yang membuat saya tercengang-cengang. 

Dari hari ke hari, saya semakin penasaran, bagaimana caranya agar tulisan saya bisa masuk dalam sebuah buku. Dari mbag Linda lah saya tahu ada yang namanya audisi antologi. Jangan ditanya bagaimana antusiasnya saya ikut berbagai audisi. Beberapa meloloskan nama saya sebagai kontributornya namun tak jarang saya terdampardi pinggiran. Dari audisi antologi tersebut saya mengenal banyak nama-nama yang langganan menjadi kontributor.

Dalam masa-masa itu, tak satupun grup atau komunitas yang saya ikuti. Hingga datang ajakan dari mbag Linda untuk bergabung dengan salah satu grup menulis bernama BAW. Sebelumnya mbag Linda, menerangkan bahwa untuk masuk ke grup tersebut harus atas ijin pendirinya, jadi saya harus bersabar. Dan akhirnya saya pun bergabung di BAW.

Saat membaca nama grup, saya sempat membatin, apa saya ngga salah masuk grup. Karena saya sama sekali tidak merasa sebagai penulis. Dan saya sungguh terkaget-kaget saat tahu bahwa di grup tersebut para anggota harus aktif, mana ada jadwal belajarnya lagi.Waduh rasanya seperti terdampar di dunia antah berantah. 

Saya benar-benar merasa asing disitu. Apalagi tiba-tiba ada tugas yang harus dikerjakan oleh seluruh  anggota grup, yaitu membuat sebuah cerpen dengan genre bebas. Wow, saya yang baru belajar menulis tentu saja kelabakan. Namun tak urung saya tuntaskan juga tugas tersebut, karena saya masih ingin tahu seperti apa grup menulis itu. Siapa sangka, saat cerpen saya dipajang di grup, banyak kritikan yang saya terima. Dari mulai pemilihan kata, tanda baca sampai alur logika cerita. Saya sampai tergagap-gagap melihat serangan bertubi-tubi tersebut. Terus terang sampai beberapa saat, saya tidak tahu siapa founder BAW, dalam arti siapa dia sebenarnya, sampai saya tersadar kalau beliau adalah seorang penulis novel yang karyanya sudah puluhan biji di toko-toko buku.

Seperti sebelum-sebelumnya, tiba-tiba saja saya begitu bersemangat. Yes, saya berinteraksi dengan seorang penulis, begitu pikir saya. Makin lama berada di BAW, saya baru mengetahui ternyata anggota grup ini adalah kumpulan penulis-penulis beken yang sudah menelurkan novel, memenangkan berbagai lomba menulis dan tulisannya terserak-serak di berbagai media. Aiiih, seperti mimpi yang jadi kenyataan, saya begitu bahagia, bahwa saya bisa berteman, ngobrol melalui tulisan dengan para penulis. Dan sebagian besar juga ternyata disana terdapat nama-nama para kontributor antologi yang sering saya ikuti audisinya.Ehm ehm langsung berasa sebagai bagian dari para penulis Indonesia, halah.

BAW, Be A Writer nama grup yang memberi banyak perubahan positif pada saya. Inilah grup menulis pertama yang saya ikuti. Disini saya belajar banyak sekali, dari postingan-postingan tugas yang diberikan, sampai dari sekedar thread biasa pun selalu ada ilmu di dalamnya. Saya merasakan banyak kemajuan yang cukup signifikan dari cara saya menulis sampai menangkap ide-ide di sekitar. Dan itu semua terkadang bermula dari curhat geje salah seorang penghuninya, atau malah dari komen ngasal yang berseliweran di sana.

Jumlah anggota yang terbatas hanya kurang lebih 100 orang membuat para anggotanya intens berinteraksi dan akrab. Sayangnya sampai detik ini saya belum kesampaian untuk ikutan kopdar yang diadain. Padahal ingin sekali ketemu secara langsung dengan para penulis beken itu.

Kini saat berada di toko buku dan melihat nama para anggota grup BAW menempel di sampul novel yang ada di rak-rak display, ada rasa yang membuncah di dada saya, " Hey, ini buku temanku, ini yang nulis di anu ". Kadang tanpa sadar saya langsung nyerocos ke pengunjung yang berdiri terdekat dengan saya, menceritakan siapa penulisnya, padahal belum tentu juga dia suka saya ajak ngobrol, xixixi. Ada kebanggan luar biasa saat melihat seorang sahabat walaupun hanya sahabat dunia maya menelurkan karyanya. Ada rasa bahagia dan bersyukur telah mengenal mereka.

Seperti kata pepatah, " Berteman dengan tukang besi, kita bisa terkena cipratan bara apinya, berteman dengan tukang parfum minimal menghirup aroma harumnya, syukur-syukur ketumpahan cairannya dan malah jadi tukang parfum sekalian ". semoga saja, dengan berinteraksi dengan para penulis di grup BAW ini saya kecipratan semangat berkarya mereka, semangat berbagi dan sekalian bisa tertular kemampuan menulis mereka yang memiliki nafas yang sangat panjang.

Dalam suatu komunitas, tidak ada siapa lebih baik dari siapa. di BAW saya menemukan kondisi seperti itu, tidak ada pilih kasih, bahkan pendirinya mba Leyla Hana pun layaknya seperti anggota lain, tidak mengeksklusifkan diri. Dan para mentor mba Riawany Elita, Eni Martini, Afifah Afra pun berinteraksi seperti seorang sahabat, tidak merasa lebih karena sudah menerbitkan karya, dan karenanya saya merasa begitu nyaman disini.

Dan BAW telah membuat saya bisa menambahkan satu kata lagi dalam kolom hobi saat mengisi biodata. Ya, kata itu adalah menulis. Dan kini, saya tidak ragu menambahkan embel-embel penulis di profil blog saya. Bukankah blogger juga seorang penulis kan yah?

Semoga ke depan BAW tetap eksis berdiri, dan tentu saja akan lahir penulis-penulis sesuai keahlian masing-masing dari grup ini. Dan saya sangat berharap BAW menjadi salah satu komunitas penulis yang tidak sekedar memberi manfaat pada anggotanya tapi juga memberi manfaat ke luar, ke dunia kepenulisan di Indonesia.

Bagi yang tertarik mengetahui BAW, bisa kunjungi blognya nih di http://bawindonesia.blogspot.com/. Mungkin kamu akan temukan nama-nama anggotanya yang ternyata adalah teman FB mu dengan segudang prestasi. Tapi jangan salah, kamu ngga harus punya embel-embel jam terbang yang tinggi untuk masuk grup ini, karena grup ini bukan untuk penulis yang sudah jadi tapi malahan untuk membentuk seseorang menjadi seorang penulis, walaupun hanya penulis blog amatiran seperti saya.

Di dalam blog tersebut banyak harta karun yang bisa kamu gali, mulai dari tips menulis,cara membuat plot, pilihan diksi,eksplorasi novel,cara mengirim karyamu ke penerbit dan semua printilan tentang kepenulisa. Mungkin kalau kamu cari di google, semuanya juga ada, namun yang istimewa, yang ada di blog BAW semuanya adalah berdasarkan pengalaman para penulisnya, jadi lebih membumi dan lebih aplikatif.

Saat ini BAW memasuki usia satu tahun. usia yang tidak bisa dibilang baru bagi sebuah komunitas dunia maya yang hanya mengandalkan tuts-tuts komputer dan koneksi internet sebagai penghubungnya. Dan di anniversary ke satu nya ini BAW mengadakan Giveaway, tidak hanya untuk para anggotanya tapi juga yang belum menjadi anggota. Siapa tahu kamu berminat nyemplung dan mendalami ilmu disini. baca infonya di bawah ini yah.










Srikandi Blogger, Perempuan Era Digital Tanpa Busur Panah


Sebelum membaca postingan saya, lihat video ini dulu yah :)



Ngerasa seperti yang dialami emak-emak di video itu ngga?. 

Saya membuat video itu karena seperti itulah gambaran sehari-hari para perempuan menikah yang saya baca, saya dengar maupun saya lihat. Namun, kebanyakan yang merasa seperti itu hanya ibu yang full ada di rumah, alias bukan ibu yang bekerja di luar rumah. Duh padahal ibu bekerja seperti saya ini juga mengalami hal yang serupa lho. Walaupun saya belum memiliki anak ( masih di perut ), namun masalah rumah berantakan, cucian menumpuk, stress, juga kerap menerpa saya. Karena walaupun bisa dibilang hampir separuh hari saya habiskan di kantor, tapi saat kembali ke rumah, saya tetaplah seorang istri yang harus melayani suami, saya tetaplah seorang ibu rumah tangga yang ngga bisa lepas tangan terhadap segala tetek bengek kerjaan rumah yang ngga ada habisnya. Apalagi saya tidak memiliki asisten yang membantu di rumah, jadilah semua harus dikerjakan sendiri.

Berbicara tentang kesibukan dan masalah rumah tangga, saya rasa baik perempuan bekerja ataupun full di rumah pastilah memiliki cara masing-masing untuk mengatasinya. Pilihan ada di tangan kita, mau tenggelam di dalamnya atau bangkit dan berusaha menjadi pemenang dari setiap masalah yang kita hadapi.

Dari pengamatan saya, dewasa ini, para perempuan Indonesia khususnya, semakin pintar dalam mengatasi persoalan-persoalan hidup. Mengapa saya katakan demikian?, karena sependek pengetahuan saya, sejauh ini saya berinteraksi dengan perempuan-perempuan yang memiliki daya juang tangguh dalam kesehariannya.

Walaupun sehari-hari saya disibukkan dengan pekerjaan di kantor ( saya seorang bankir ), namun saya selalu menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan sahabat-sahabat dunia maya. Jangan salah, berinteraksi disini bukan sekedar haha hihi , ngerumpi tanpa juntrungan. Tapi selalu ada diskusi hangat dengan materi bergizi yang saya peroleh. Ya, hampir 80 persen sahabat dunia maya saya adalah perempuan blogger. Disebut perempuan blogger karena mereka adalah perempuan-perempuan yang aktif di dunia blogging dan selalu berbagi kesehariannya di dalam media bernama blog.

Kemajuan teknologi atau yang sering disebut era digital saya rasakan menjadi satu solusi cerdas untuk perempuan berkespresi, mencari ilmu seluas-luasnya, mengembangkan segala daya yang ia punya tanpa harus menembus batas ruang yang melingkupinya. Baik batas yang berwujud tembok rumah atau batas dalam arti penghalang yang menjerat keseharian mereka.

Dari blog mereka saya mendapat banyak asupan pengetahuan yang mungkin akan mahal sekali harganya jika saya mengikuti seminar. Namun karena kiprah mereka di dunia blogging, membuat saya bisa menikmatinya secara gratis tanpa batasan waktu. Kapan saja saya perlu suatu informasi saya tinggal blogwalking ke blog-blog para perempuan blogger tersebut.

Kenapa hanya perempuan blogger, bukan blogger pada umumnya?.

Jawabannya jelas sekali, karena saya juga seorang perempuan, jadi masalah sehari-hari yang saya hadapi pun masalah perempuan. Seperti saat ini, saya lagi mengandung anak pertama. Banyak hal yang tidak saya ketahui, Dari blogwalking , saya mendapat berbagai pengetahuan tentang kehamilan. Bukan sekedar teori tapi merupakan pengalaman pribadi yang tentu saja akan berbeda dibanding saya membaca buku-buku teori yang terkadang memakai bahasa yang sulit dipahami. Namun karena sesama perempuan dan karena ditulis di blog, maka bahasa yang digunakan pun lebih dimengerti karena merupakan bahasa sehari-hari.

Saya sendiri adalah seorang perempuan blogger. Seingat saya, kegiatan blogging mulai saya lakoni sejak kurang lebih empat tahun yang lalu. Namun benar-benar aktif dua tahun belakangan. Tepatnya di tahun 2010 saat saya harus berpisah dengan suami karena tuntutan perkerjaan. Saya di mutasi ke Jakarta sedangkan suami berada di Medan. Awalnya jarak menjadi masalah besar bagi kami. Tiket pesawat Jakarta-Medan yang sangat menguras isi dompet membuat saya lebih realistis. Tak kehabisan akal, kami memanfaatkan segala perangkat digital untuk mengatasi masalah tersebut. Melalui internet dan skype saya tetap bisa mendampingi suami tanpa terhalang jarak ribuan kilometer yang terbentang. Lagi-lagi teknologi menjadi solusi untuk menembus ruang dan waktu.

Balik lagi ke masalah blog. Sejarah perblog-an saya cukuplah menarik. Dari sekedar menumpahkan isi hati, lambat laun saya mulai memanfaatkan blog yang saya punya untuk kegiatan yang lebih memberi nilai lebih. Awalnya hanya untuk diri sendiri. Saya mengikuti lomba-lomba menulis yang ada di sela-sela waktu luang yang saya punya. Ya karena jauh dari suami, saya jadi punya me time yang melimpah ruah, daripada saya gunakan buat bersedih menahan rindu, saya lebih memilih menikmati waktu yang ada untuk kegiatan yang menjadi passion saya.

Mungkin keberuntungan pemula ada pada saya. Karena saat pertama kali mengikuti lomba blog, nama saya langsung keluar jadi pemenang pertama. Walaupun hadiahnya tidak seberapa tapi senangnya luar biasa. Semangat saya langsung terbakar. Saya ketagihan untuk mengikuti lomba. Namun ternyata beberapa kali saya harus menerima berita kekalahan. Tapi anehnya, bukannya surut, saya malah semakin penasaran. Hingga beberapa kali blog saya ini keluar sebagai pemenang. Mungkin gara-gara kemenangan-kemenangan itu, blog saya yang dulunya sepi akhirnya mulai banyak dikunjungi peserta lomba yang mungkin penasaran. Melihat lonjakan jumlah pembaca, semakin memacu saya untuk  terus mengupdate dan tak membiarkan blog ini sampai dihinggapi sarang laba-laba.

Saya benar-benar tidak menyangka dari aktivitas ngeblog saya memperoleh begitu banyak hal. Saya dapat tambahan teman baru. Ngeblog juga menjadi terapi jiwa untuk diri saya pribadi. Karena saat menulis, saya juga turut membebaskan energy-energy negatif yang ada di pikiran saya. Sehingga jiwa saya lebih sehat. Dan dari ngeblog juga beberapa karya saya dibukukan dan mejeng di tobuk -tobuk keren. Walaupun baru berupa antologi, menurut saya itu sudah menjadi awal yang baik.

Namun yang paling membahagiakan adalah saat ada pesan masuk ke inbox saya yang menyampaikan bahwa ia sangat terinspirasi dengan tulisan dan kemenangan-kemenangan saya. Ujung-ujungnya, beberapa orang minta diajarkan membuat blog. Wuih, sejujurnya blog saya ini sangat standar, namun pantang bagi saya menyurutkan semangat seseorang. Sebisa mungkin saya membantu siapa saja yang meminta saya untuk mengajarinya membuat blog. Walau hanya sekedar mencarikan link yang berisi tutorial pembuatan blog. Jadi bukan saya yang mengajari, saya hanya membantu saja. Dan setiap mereka membuat postingan di blognya, pasti saya akan diberi tahu. Rasanya bahagia sekali bisa menularkan semangat menulis kepada orang lain.

Ngeblog ternyata bisa menjadi sarana untuk berbagi, berbagi ilmu, berbagi pengalaman, berbagi kebahagiaan, bahkan berbagi semangat. Itulah yang saya rasakan selama ini.

Maka saat KEB ( Kumpulan Emak Blogger ) membuka pendaftaran untuk pemilihan Srikandi Blogger, tanpa pikir panjang saya langsung mengirim email untuk mendaftarkan diri ( mungkin saya termasuk salah satu pengirim pertama ;)). Tak ada keraguan sama sekali, tidak ada rasa minder dalam diri saya . Karena saat mendaftar, saya tidak terfikir masalah menang kalah. Saya hanya merasa bahwa saya adalah perempuan blogger yang aktif di dunia blogging selama ini. Dan jika ada ajang yang bisa saya manfaatkan untuk lebih berkontribusi dalam memajukan dan membantu perempuan lain mengaktualisasikan dirinya, maka dengan senang hati saya bersedia turut berperan aktif di dalamnya.

Apalagi tema yang diangkat adalah "Aktualisasi Perempuan di Era Digital". Wow, saya banget lah kalau yang ini. Karena saya memang benar-benar memanfaatkan teknologi yang ada sebesar-besarnya untuk mengupgrade pengetahuan saya. Walau tidak bisa dikatakan saya ini melek teknologi dalam arti ahli dan mumpuni, namun setiap ada hal yang bisa dipermudah dengan teknologi saya tidak akan melewatkannya. Termasuk info-info kehamilan yang begitu mudahnya didapat hanya tinggal klik-klik saja, sangat membantu saya selama masa-masa kehamilan pertama ini. Makanya saya selalu bilang, kalau buka internet itu jangan cuma buat hiburan semata, tapi harus ada nilai tambah yang kita peroleh. Facebookan pun jangan cuma buat update status geje, tapi gunakan buat menggali ilmu sebanyak-banyaknya, syukur-syukur kita yang bisa memberi tambahan ilmu bagi orang lain. Sayang waktu yang terbuang percuma kalau buat hal yang sia-sia.

Memang sudah bukan zamannya lagi perempuan takut untuk mencoba hal baru, merasa tersisih di dunianya. Baik itu perempuan bekerja ataupun perempuan tidak bekerja di luar, semuanya memiliki kesempatan yang sama, asal mau membuka diri, membuka mata dan membuka pikiran.

Seperti di video yang membuka tulisan ini, menurut saya itulah beberapa sosok perempuan masa kini. Saya mengambil contoh beberapa karena tidak mungkin saya memasukkan semua perempuan inspiratif yang ada. Mereka mumpuni masing-masing di bidangnya. Mereka mengaktualisasikan diri menurut peran masing-masing. Tidak perlu merasa profesi mana lebih hebat, yang penting kita berkarya dan mengoptimalkan diri sesuai apa yang kita lakoni.

Ajang Pemilihan Srikandi Blogger 2013 ini, adalah salah satu sarana buat kita para perempuan blogger untuk lebih memacu diri lagi , mengaktualisasikan diri melalui tulisan di blog yang bisa dibaca di belahan dunia manapun yang masih terkoneksi dengan internet.

Seorang Srikandi tidak harus memegang busur untuk terlihat perkasa. Srikandi tidak harus terjun di kancah peperangan untuk menunjukkan jiwa pejuangnya. Karena di dalam diri setiap perempuan, sejatinya ada jiwa Srikandi yang melekat. Dalam diri seorang emak, ada Srikandi yang akan selalu memperjuangkan kebaikan bagi keluarganya. Dalam diri seorang perempuan karir ada Srikandi yang membela kaumnya   Hanya saja kita membiarkannya tertidur atau berusaha membangkitkannya dan menularkan semangat juang Srikandi kepada sesama . Dan dalam diri perempuan blogger, ada Srikandi yang tak pernah lelah untuk  menginspirasi orang lain , berbagi melalui  setiap tulisannya. Itulah Srikandi sejati, Srikandi masa kini.

Jika saya terpilih menjadi Srikandi Blogger 2013?
Srikandi Tanpa Busur Panah
created by Anik Nuraini
.Hmm, tidak perlu menunggu sampai ajang pemilihan selesai. karena seperti yang saya utarakan di atas, saat ini pun saya adalah Srikandi Blogger, hanya saja tanpa sebuah mahkota yang menisbahkannya. Terpilih atau tidak terpilih, saya akan tetap berbagi melalui blog ini, melalui tulisan dan melalui media apapun yang memungkinkan baik online maupun offline. Terus memantaskan diri menjadi perempuan yang tidak tergilas egoisme jaman. 
Namun mungkin ada satu keinginan saya, yaitu mengadakan program laiknya member get member yang sering diadakan bank. Yaitu setiap blogger mengajak minimal lima orang lain untuk membuat blog, karena saya yakin, banyak perempuan di luar sana ingin menulis, namun belum tahu caranya, mungkin belum kenal dengan blog atau tidak tahu cara membuat blog. Terbukti banyak yang menginbox saya hanya untuk bertanya, gimana sih cara biar punya blog.
Dengan begitu, diharapkan semakin banyak perempuan yang aktif menulis, dan hal tersebut tentu akan berimbas positif terhadap kehidupan yang lebih baik. Loh apa hubungannya?. Tentu saja ada, karena dengan menulis, para perempuan akan lebih bisa membebaskan pikiran-pikirannya. Berinteraksi dengan para blogger lain pun akan turut membuka pikiran dan saling berbagi yang ujung-ujungnya akan berdampak pada cara mendidik anak yang lebih baik lagi ( sharing is caring ). Semua itu tentunya merupakan peran perempuan blogger untuk generasi mendatang yang lebih berkualitas.

Oya, ada hal yang membuat saya begitu bangga terpilih menjadi salah satu dari 50 nominasi Srikandi Blogger 2013. Kemarin saya membaca salah satu tulisan di blog mba
 Afifah Afra, bahwa menurut Helvy Tiana Rossa, kenapa Kartini lebih dikenal  dibanding pejuang perempuan lainnya. Ya, karena Kartini adalah perempuan yang menulis. Kenapa Bung Hatta dan pemimpin -pemimpin terdahulu masih dikenang hingga kini?. Lagi-lagi karena mereka menulis. Dengan menulis, kita turut mengukir sejarah. Dengan menulis kita abadi. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer " Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menuls, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah kerja untuk keabadian".

Maka kepada semua 50 nominasi Srikandi Blogger, berbahagialah karena kita sudah termasuk perempuan yang mengukir sejarah. Harapan saya, ajang Srikandi Blogger ini akan melecut semangat para perempuan blogger dimanapun untuk terus berkarya dan lebih bisa mengaktualisasikan di era serba digital ini.
Perempuan era digital adalah perempuan yang tahu apa yang ia mau, Melihat setiap peluang dan memanfaatkannya. Dan Srikandi Blogger adalah salah satunya.



Menurutmu, apa saya pantas mengenakan tiara Srikandi Blogger?





Senin, 15 April 2013

Cuma Ada di Medan (Part 2)

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mamiri Minggu Kedua dengan Tema " Rasa Lokal ( Local Flavour )

Wah kalau ngomongin rasa lokal di daerah saya Medan, bisa bermeter-meter saya menulisnya. Medan itu kota yang sangat unik. Dari sekian banyak kota yang pernah saya kunjungi, Medan tetap menempati peringkat tertinggi yang memiliki hal-hal yang ngga akan habis untuk diceritakan.

Kalau baru pertama kali menginjakkan kaki ke Medan dan berinteraksi dengan masyarakatnya, maka hal pertama yang akan terasa berbeda dan tidak akan ditemui di daerah lain adalah logat bicara orang Medan. Mungkin di semua kota memiliki kekhasan logat masing-masing, tapi biasanya di tiap daerah itu, logat yang unik karena penggunaan bahasa daerah. Kayak logat orang Padang, ya karena mereka menggunakan bahasa Padang sebagai bahasa sehari-hari. Demikian juga orang Madura, orang Jawa atau orang Bandung. Namun di Medan, bukan karena bahasa daerahnya yang membuat unik. Sehari-harinya di Medan itu orang-orangnya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Tapi.... bahasa Indonesianya itu yang membuat pendatang pada geleng-geleng kepala dan sering salah paham.

" Orang Medan ini yah, suka sekali membesarkan sesuatu yang kecil dan mengecilkan yang besar"

Seorang teman dari Jakarta berkata demikian pada saya saat berkesempatan melakukan perjalanan dinas ke kota Medan.

" Hueeeeh, maksud lo"

" Ya itu, kayak mobil disebut kereta, kereta disebut motor "

Pertama-tama saya bingung maksud perkataannya. Oalaaah, ternyata temen saya itu ngga nyambung saat bicara dengan supir kantor. Gimana ngga?. Di Medan, memang kalau yang kita maksud sepeda motor, sama orang sini nyebutnya kereta ( tanpa api ). Kalau kereta yang beneran nyebutnya "kereta api". Nah sedangkan mobil masih banyak yang nyebutnya "motor". Bingung kan?. Makanya saat temen saya nanya si supir, kalau dari Medan mau ke Rantau Prapat ( jarak 6 jam ), bisa ngga naik kereta, si supir langsung jawab," Wah ntar ibu kecapekan bu, mending naik kereta api. Kalau naik kereta mana sanggup". Hahaha, si supir mikirnya yang dimaskud temen saya itu sepeda motor. Ya iyalah jelas, masa jarak 6 jam pakai sepeda motor.


Makanya, kalau di Medan, akan sangat jarang ditemui tempat service motor, karena takut salah pengertian, ntar dikira service buat mobil. Jadi untk amannya akan ditulis lengkap " Service sepeda motor".

Bukan itu aja, kadang orang Medan suka nyebut sepeda motor itu "Honda", walaupun mereknya Suzuki.

" Pinjem Hondamu ya". Padahal jelas-jelas itu motor MIO.

belum lagi penyebutan untuk plat kendaraan. Kalau yang umum kita dengar kan, orang akan bertanya " Berapa plat no mobilmu". Kalau di Medan berubah jadi " Mobilmu BK berapa?". jadi BK yang merupakan plat kendaraan Medan, dianggap mewakili kata plat kendaraan . 

Waktu kuliah di Semarang dulu, saya sempat keceplosan juga, saat mau pinjem sepeda motor sama teman, nanyanya " Motormu BK berapa?". Terang aja teman saya bingung. Halo????

Oya ada lagi, di sini istilah ojek juga kurang familiar, apalagi kalau di daerah luar kota Medan, kayak di Kabupatennya. Penyebutan ojek diganti jadi RBT. Jadi ntar tulisannya bukan " Pangkalan Ojek", tapi " Pangkalan RBT " singkatan dari Rakyat Banting Tulang, CMIIW.

Itu baru soal kendaraan. Belum lagi istilah-istilah aneh lain.

Jadi pernah suami saya yang asalnya dari Kutoarjo nyari alamat. Terjadilah percakapan antara suami dan penduduk setempat yang ditemui di pinggir jalan.

S: " Pak, numpang tanya, tahu alamat ini ngga ?"
P : " Oooh, disana tuh, bapak jalan lurus, teruuus aja sampai ketemu pasar hitam, nanti ada mesjid, nah disamping itu pak rumahnya"
S : " Oh ya udah makasih pak"

Sampai berkilo-kilo suami saya jalan, belum juga ketemu yang namanya pasar hitam. Pikiran suami saya, ntar akan ketemu pasar yang bertuliskan " Pasar Hitam". Singkat kata akhirnya dia nyerah.

Barulah nanya lagi sama temennya melalui telepon. Selidik punya selidik ternyata yang dimaksud pasar hitam disini adalah " Jalan Aspal". Iya, jalan yang sudah di aspal itu, namanya pasar hitam, jadi bukan pasar dalam arti bahasa Indonesia tempat orang berdagang, hadeeeh, pantes aja ngga ketemu-ketemu.


Ngga heran, di Medan juga ada istilah Pasar 1, pasar 2,pasar 3 untuk menyebut suatu jalan, atau gang. Kalau di tempat lain kurang lebih artinya sama dengan Blok 1, blok 2, blok 3, gitu.

Trus ada juga cerita, salah seorang teman saya yang dapat suami orang Jakarta. Saat acara nikahan di rumahnya, biasalah para tetangga pasti pengen tahu kerjaan si calon pengantin pria itu apa. Jadi mereka nanya.

Tetangga : " Calon suamimu kerja dimana"
Teman    : " Itu di pajak", jawab teman saya bangga
Tetangga: " Ngapain di pajak?, jual bawang sama cabai?"

Xixixi, kalau denger cerita ini sampai sekarang saya masih geli. Salah persepsinya parah banget. Yang dimaksud temen saya itu adalah kantor pajak, karena memang suaminya kerja di kantor Pajak. Eh disangka para tetangga kerja di " Pajak". Di Medan, untuk menyebut pasar- tempat orang berdagang- ya bilangnya pajak. Jadi kalau mau beli bawang dimana?. Di pajak, beli ikan? ya di pajak. Kalau di daerah lain ada nama-nama kayak, pasar pagi, pasar burung, pasar Senen, nah di Medan namanya berubah jadi "Pajak ikan", " Pajak burung", " Pajak Bunga". sesuai dengan barang yang dijual.

Wah masih banyak lagi lah istilah-istilah yang aneh. Kalo mau diceritakan seluruhnya, sampai minggu depan juga ngga akan habis saya nulisnya.

Di Medan juga orang suka nyingkat kata seenaknya. Kayak di bawah ini nih
Limpul = lima puluh, " Mintalah duitmu limpul aja"
Limrat = Lima ratus

Kemudian, disini juga sangat tidak akrab dengan istilah RT RW. Jadi lebih familiar dengan dusun, lorong. Makanya ngga ada sebutan pak RT atau pak RW, tapi adanya pak Keplor ( Kepala Lorong) atau pak Kepling ( Kepala Lingkungan )

Kalau sering dengerin si Ruhut Sitompul ngomong di tivi, nah itu dia banyak bicara dengan istilah-istilah Medan. Seperti kata "Paten" untuk menggantikan kata "hebat". 
" Sok paten kali kau" samalah dengan " Sok hebat banget sih elo"

kali = banget
kau = kamu, lo

Di Medan , kalau kita ngomong pake kata banget, ntar diketawain, dikira sok orang Jakarta. Trus kalau nyebut orang lain pakai kamu, itu tuh sopan banget, kalo mau akrab gunakan kata " kau", kesannya kasar tapi lebih cepat membaur dibanding nyebut kata kamu, kesannya berjarak.

Ah udah lah ya, segitu dulu, ntar saya sambung di postingan berikutnya. Soalnya masih banyak lagi keunikan kota Medan, yang ngga akan ditemui di kota lain. 





Ide Yang Terealisasi

Setelah menerima SK mutasi beberapa waktu yang lalu, akhirnya terlaksana juga kepindahan saya ke Medan. Sudah menjadi aturan di perusahaan saya, kalau pekerja yang mutasi itu akan mendapat fasilitas di samping uang pindah juga akan disediakan hotel sebagai persiapan untuk mencari tempat tinggal selama sepuluh hari. Itu dia enaknya. Karena saya mutasinya ke daerah asal, yang notabene saya sudah punya tempat tinggal, jadi fasilitas hotelnya saya gunakan buat leyeh-leyeh, tidur-riduran saja bersama suami. Siang saya ngantor, sore pulang bentar ke rumah, malamnya bobok di hotel, assek. Lumayan selama sepuluh hari bebas tugas dari nyiapin sarapan buat suami.


Sewaktu saya check-in, di resepsionis disediakan koran untuk dibaca sambil menunggu proses check-in. Nah disitulah saya membaca sebuah berita yang membuat saya girang.



Di surat kabar lokal Medan, Investa Medan, halaman pertama, mata saya tertumbuk pada berita tentang keputusan pemerintah yang akan memberlakukan kebijakan baru sehubungan dengan subsidi BBM yang begitu ramai pro kontranya beberapa waktu yang lalu.

Bunyi beritanya, kira-kira seperti ini. Bahwa pemerintah akan menetapkan harga premium yang berbeda untuk angkot dan sepeda motor serta untuk mobil pribadi. Harga premium untuk angkot dan sepeda motor akan tetap memeroleh subsidi sehingga dijual ke konsumen Rp 4.500. Namun berbeda dengan premium untuk kendaraan pribadi, akan dipatok lebih mahal, karena premium tersebut tidak bersubsidi. Jenis premiumnya tidak ada perbedaan, sama saja. 

Pemberlakuan harga yang berbeda ini, karena secara logika masyarakat yang mampu membeli mobil pribadi maka sudah termasuk golongan mampu, sehingga tidak perlu diberi subsidi lagi. Untuk mendukung terlaksananya kebijakan tersebut, maka akan ada pemisahan SPBU. Pertama untuk SPBU khusus angkot dan sepeda motor dan yang kedua SPBU khusus mobil pribadi.

Yang membuat saya menarik sudut-sudut bibir saat membaca berita ini adalah karena apa yang akan diterapkan pemerintah tersebut persis sama dengan ide saya untuk mengakali pembengkakan APBN yang membebani pemerintah akibat subsidi BBM yang tidak pada tempatnya. Ide untuk Pertamina tersebut saya tulis dalam rangka lomba yang diadakan oleh Pertamaxind dengan tema #apaidemu. Dan memang tulisan saya keluar sebagai pemenangnya. Duuh seneng banget deh. Kalau mau baca, disini nih saya tulis. Walaupun belum tentu juga kebijakan itu diambil dari tulisan saya, tapi mengetahui kalau pemerintah menerapkan ide yang sama dengan apa yang saya pikirkan itu rasanya sesuatu banget.

Semoga saja, dengan adanya aturan baru tersebut, pro dan kontra terkait dengan subsidi BBM segera menemukan solusi. Dan semoga juga dana subsidi yang dikurangi tersebut dapat dialihkan untuk kepentingan rakyat yang lebih penting lagi. Dampak ke depannya, dengan pemisahan SPBU dan perbedaan harga ini mudah-mudahan akan membuat mesyarakat lebih bijak dalam pemilikan kendaraan pribadi dan mungkin bisa mulai melirik menggunakan kendaraan umum sehingga dapat mengurangi kemacetan di kota-kota besar.

Jadi, jangan pernah remehkan ide yang berseliweran di pikiranmu, siapa tahu kalau kamu tuangkan menjadi tulisan bisa bermanfaat untuk kebaikan sekitar kita.




Sabtu, 13 April 2013

Serba-Serbi Sekitar Rumahku

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mamiri Minggu Pertama, dengan tema " Sekitar Rumahmu"



Sebenarnya sudah satu tahun dua bulan saya menempati rumah ini. Namun selama ini saya cuma singgah saat weekend, karena sehari-hari saya kerja di luar kota. Jadilah sebenernya saya ngga terlalu familiar dengan lingkungan sekitar. Namun dua hari ini karena saya sudah pindah tugas ke Medan, akhirnya saya benar-benar bisa menempati rumah di sebuah komplek perumahan di daerah ringroad Medan ini. Wah senangnya, saya mulai bisa observasi lingkungan sekitar.

Setiap Sabtu Minggu saat lagi bersama suami, kami pasti menghabiskan waktu dengan jalan-jalan mencari makan ke luar. Ya daerah ringroad kota Medan ini memang merupakan pusat wisata kuliner. Kalau saya bandingkan dengan ringroadnya kota Jogja, sungguh keadaannya sangat berbeda. Kalau di Jogja kan daerah ringroad tuh tidak terlalu ramai, makanya djadikan jalur untuk menghindari macet dibanding harus masuk kota. Nah di Medan, malah kebalikannya, namanya aja ringroad, tapi malah jadi tempat jajan, banyak butik dan tempat nogkrong anak muda. 

Setiap sore ada yang unik di kawasan ini. Berpuluh motor yang dikendarai remaja seusia tanggung akan menyesaki pinggiran jalan. Apa yang mereka lakukan?. Ga ada. Mereka cuma duduk-duduk di atas motornya ( kalau di MEdan namanya kereta). Bikin saya dan suami geleng -geleng kepala. Ngapain lah orang itu disitu, kayak ngga ada kerjaan aja.

Awalnya saya pikir demikian. Sampai suatu sore saat saya mau cari cemilan sama suami, kok tiba-tiba mobil kami diberhentikan. Kirain ada apaan. Ternyata para anak remaja yang biasanya nognkrong-nongkrong itu menutup jalan sementara. Coba tebak untuk apa?. Yup mereka menutupnya untuk melakukan balap motor, hadeeeh. Bayangkan.... bayangkan. Seenak udelnya aja, emangnya mereka pikir ni jalan nenek moyangnya, main berhentiin mobil orang seenaknya. Akhirnyaa jalan jadi macet. Dan itu bisa berlangsung berulang-ulang dalam satu hari. Duuh, anak sekarang yah. AKhirnya ringroad pun beralih fungsi. Bukan sebagai jalur alternatif untuk mengurangi kemacetan di tengah kota, tapi malah jadi ajang kebut-kebutan, karena ngga ada polisi yang jaga disini.

Tapi syukurlah kemarin, saat saya da suami baru keluar dari komplek perumahan, tiba-tiba kumpulan remaja tersebut terlihat panik dan langsung berhamburan, berrrrrrr. Ada apa gerangan?. Ternyata ada Kamtib yang beraksi, xixixix lucu juga melihat mereka panik gitu. 

Memang sudah seharusnya tuh, kegiatan kongkow-kongkow anak muda gitu ditertibkan, soalnya disamping mengganggu lalu lintas, juga dikhawatirkan suatu saat jika terjadi selisih sedikit saja bisa berakhir dengan tawuran, seperti yang seirng terjadi di berita-berita di tivi. wew.

Itu baru kondisi di lingkungan luar perumahan. Di dalamnya sendiri tak kalah anehnya. 

Komplek perumahan yang kami tempati ini memang bukan perumahan baru. Kami memutuskan beli rumah disini karena ukuran tanah untuk satu rumah tuh lumayan luas dibanding perumahan-perumahan baru, disamping itu juga harganya yang ga terlalu mahal. Dan yang paling utama, lokasinya sangat bagus, tepat di pinggir jalan besar dan sangat dekat dengan segala jenis penjual makanan. Jadi kalau mau makan ringgal ngesot aja. Mana di depan perumahan persis ada indomart dan Alfamart lagi, jadi ngga susah mau ngapa-ngapain. Laundry juga tersebar di sepanjang jalan. Benar-benar komplek yang pas dengan yang kami cari.

Karena selama ini cuma weekend doang disini saya belum sempat keliling komplek. Kemarin sore saya ajak suami buat jalan-jalan sambil mengitari seisi perumahan. Wah saya baru tahu, ternyata di salah satu sudut jalan ada tanah kosong yang dijadikan tempat sampah umum oleh para penghuni komplek. Waduh, takjub banget saya melihatnya. Kok bisa-bisanya di komplek perumahan di tengah kota gini, orang-orangnya masih pada buang sampah sembarangan. Dan heranya lagi kok yang punya rumah persis di depan TPS ini ngga komplain. Saat kami lewat terlihat ada seorang warga yang lagi melempar seplastik sampah, plung.



Sepanjang jalan saya jadi berdikusi hal tersebut sama suami. Sayang sekali, lingkungan perumahan jadi kotor karena penghuni yang ga pedulian. 

Begitu sampai di depan rumah, kami langsung terdiam. Di depan pagar rumah kami yang berbatasan langsung dengan tetangga teronggok sekarung besar sampah entah darimana. Diduga itu adalah sampah tetangga sebelah rumah . Hadddduh, ternyata ngga perlu jauh-jauh. Di depan idung sendiri juga ada yang seenaknya menaruh sampah di depan rumah orang. OMG.

Yang berikutnya, yang ga kalah seru, dari hasil investigasi suami, ternyata penghuni komplek ini latar belakangnya sangat beragam . Di samping kiri rumah saya, ada rumah besar yang masuk kategori sangat bagus menurut saya. Teryata itu adalah rumah seorang Bupati di salah satu Kabupaten di Sumut, trus tetangganya juga Bupati. Haduuuh ni sebenarnya komplek apaan sih , bingung saya. Trus samping kanan saya ternyata rumah pejabat PDAM. Di depan sono rumah anggota DPR. Nah disudut ntu rumah simpenannya pejabat BUMN. 

Barulah sadar kenapa selama ini perasaan perumahan ini kok sepi banget. Ternyata lagi, semua rumah yang saya sebut tadi hanyalah rumah investasi yang tidak ditempati. Makanya kemarin pas hujan deras lebat dan ada petir menyambar , dari rumah si bupati terdengar bunyi alarm mobil yang menjerit-jerit. Baru tahu saya, kalau ada alarm mobil yangsensitif dengan petir. Karena tuh rumah ga ada orangnya, sepanjang malam kuping kami harus tabah mendengar alarm yang bunyinya annoying tersebut.

Dan begitulah kondisi sekitar perumahan yang saya tinggali. Namun walau banyak hal aneh bin ajaib yang terjadi disini saya suka tinggal di rumah ini. Di samping alasan lokasi dan kemudahannya juga karena saya memang tidak terlalu suka dengan perumahan yang ramai. Dan di perumahan ini banyak teman kantor suami saya, sehingga kami ngga merasa sendiri. 

Yah dimanapun kita tinggal, kalau semua biasa-biasa saja , pasti bakal bosenin. Dan bagaimanapun kondisi tempat tinggal kita, kalau kita enjoy di di dalamnya,mudah-mudahan slogan home sweet home akan terwujud.