Sabtu, 12 Oktober 2013

Dehidrasi Ide

Dan malam ini saya tiba-tiba tersadar, bahwa kemampuan menulis itu sangat berbanding lurus dengan waktu yang kita sisihkan untuk membaca, setidaknya itu menurut saya.Praktis hampir empat bulan ini saya sama sekali tidak membaca satu buku pun. Berpuluh buku yang saya beli dan saya kumpulkan sejak saya hamil dengan harapan bakal dibaca saat saya cuti melahirkan hanya teronggok begitu saja di rak buku saya. Bahkan sampul plastiknya pun masih menempel disana.

Biasanya kebanyakan saat saya membaca satu buku, berpuluh ide bagai melompat-lompat di pikiran saya. Membaca satu kalimat saja bisa menghasilkan satu postingan di blog ini. 

Saat ini, setiap mau ikutan lomba atau mau nulis sesuatu, begitu lepi sudah dibuka, waktu sudah diluangkan dan siap untuk menulis, otak saya kosong. Mau nulis apapun kok ya rasanya garing banget. Ngga berisi sama sekali, hanya celotehan ngga jelas. Walau itu pun masih mending daripada tidak menulis sama sekali.

Awalnya saya pikir karena saya lagi tidak mood, tapi masa iya sih ngga mood kok setiap saat. Setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin penyebab terbesar adalah karena saya mulai malas membaca buku. Dan itu adalah sesuatu yang luar biasa. Saya MALAS membaca buku????? hal tersebut tidak pernah terjadi dalam 1 dasawarsa terakhir, aiiih. Membaca itu sudah seperti air minum bagi saya. Tidak membaca dalam satu hari harusnya sudah membuat saya dehidrasi. Dan sekarang, kenyataannya saya sudah absen minum air sampai berbulan-bulan, berarti patut dipertanyakan pentingnya sebuah buku bagi saya. 

Saat saya mempertanyakan itu, barulah saya sadari, saya memang sudah dehidrasi berat. Benar-benar kekeringan ide sama sekali untuk bahkan menulis satu paragraph saja. Untuk itu harusnya saya sudah diinfus saat ini, diberi asupan cairan yang bisa mengembalikan stamina saya.

Jadi, pembaca yang budiman, berhati-hatilah saat anda mulai kekeringan ide, ogah-ogahan dalam menulis. Barangkali bukan karena ide yang tak kunjung datang, atau mood yang lagi labil atau tema yang terlalu sulit. Bisa jadi karena anda mengalami dehidrasi seperti saya. WASPADALAH....................

Rabu, 09 Oktober 2013

What a Wonderfull Day

Setelah pontang-panting selama dua hari ini, akhirnya bisa merebahkan badan sejenak. Karena si papa lagi tidur dan Tara main sama mba nya, iseng ngisi blog lagi .

Ya, Dua hari ini energi saya terkuras habis. Pasalnya suami tercinta sakit dan harus opname di RS. Kalau diinget-inget lagi, saya jadi merasa bersalah banget sama si beliau.


Selasa dini hari saat Tara bangun dan minta nenen, saya lihat suami ngga ada di tempat tidur. Sayup-sayup saya dengar suara pertandingan bola dari tivi di ruang tamu. " Huh, pasti si papa nonton bola lagi nih, sedangkan saya harus terkantuk-kantuk menyusui anak kita bersama ",pikir saya. Ngerasa ga rela suami saya asyik dengan kesenangannya, saya pun memanggil-manggilnya dengan nada agak sedikit marah.

" Maaaaas, maaaaaaaaaas ambilin minum dong, haus nih " teriak saya
Karena ngga mendapat sahutan saya pun memanggil lebih keras lagi ( duh durhaka banget jadi istri )
" Ambil sendiri dek, mas sakit nih " 
Saya dengar ia menjawab lirih.

Ih saya makin sebel. " Ya kalau sakit jangan disitu dong, sini masuk kamar" kata saya judes
Diem, ngga ada jawaban.
" Maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaasssss, kesini napa, dipanggil istrinya kok ngga nyahut " saya mulai bawel
" Mas sakit deeek, ngga bisa bangun "

Merasa ada yang aneh dengan suaranya, saya pun keluar kamar sambil menggendong Tara.Dan disitu saya lihat suami saya meringis-ringis sambil memegang perutnya. 

" Sakit banget nih dek, melilit, mas udah 7 kali BAB, muntah-muntah juga"

What??? duh kaget saya. Kok saya bisa ngga tahu ya suami bolak-balik ke kamar mandi.

" Lha terus napa kok ngga bilang ade, dan kok malah tidur di luar"
" Iya, mas takut Tara ketularan, lagian adek tidurnya nyenyak banget"

Hiks, melihat wajahnya yang menderita plus jawabannya yang mentingin anak kami gitu, jadi ngerasa berdosa banget tadi udah misuh-misuh. Ngga nunggu lama, saya langsung pakaikan ia jaket dan kaos kaki, tujuannya rumah sakit

" Ntar aja dek, satu jam lagi, kalau ngga sembuh juga baru ke rumah sakit"

Oooo tidak bisaa. Dasar saya orangnya suka parno sama segala jenis penyakit, maka ngga ada kata menunggu, cepat-cepat saya keluarkan mobil dan membopong suami ke dalamnya.

Sampai di rumah sakit, langsung saya bawa suami ke IGD. Begitu melihat kami si perawat langsung bertanya
“ Dari PT XXX ya pak?”
“ Iya’ jawab suami heran, kok tahu
“ Muntah mencret?”
“Benar” makin heran
“ Bapak orang ke 8 yang masuk RS malam ini”

Hwaaa kaget, tadinya saya pikir suami ketularan penyakit Munmen dari ponakan saya beberapa hari yang lalu. Ternyata dari keterangan si perawat, telah terjadi keracunan makanan massal. Jadi di kantor suami setiap hari diberi jatah makan siang gratis. Diduga mereka keracunan makanan setelah memakan tauco cumi di hari sebelumnya.

Waduh, emang sih suami saya tuh suka banget sama yang namanya cumi, udang dan sebangsanya.
Singkat cerita akhirnya suami harus opname pagi itu.

Duh sebenarnya saya dilemma banget. Kebetulan karena ART saya yang lama si Nur mau nikah, saya sudah mulai mencari ART baru. Baru saya jemput tadi malam, maksud hati agaaar bisa terjadi transfer knowledge dulu diantara mereka, tsaaaah, jadi biar Tara ngga terlalu kaget ganti kakak baru. Tapi rencana saya berantakan, karena tadi malam keluarga si Nur mengabarkan kalau neneknya meninggal dunia dan ia diminta segera pulang. Saya sudah berjanji akan mengantarnya setelah subuh.

Maka yang terjadi adalah, setelah mengantar suami ke kamar, memastikan ia nyaman, cepat-cepat saya balik ke rumah, mengantar si Nur ke terminal bis. Setelah itu balik lagi ke rumah, karena saya masih khawatir meninggalkan tara dengan si mba baru. Dengan sangat terpaksa saya meminta ibu saya datang untuk menemani Tara hari itu, minimal ada yang mengawasi dulu, sebelum si mba terbiasa dengan Tara.



Begitu ibu saya tiba, saya segera meluncur ke klinik di kantor suami, untuk mengambil surat pengantar ke rumah sakit. Tak disangka ternyata sudah banyak wartawan disana, wooo baru tahu saya sampai pagi itu sudah ada 13 orang yang keracunan, duh ngeri.

Dapat surat, saya kembali ke rumah sakit. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Begitu makan siang datang, saya suapin suami yang masih lemas akibat kekurangan cairan. Begitu suami tertidur, saya tinggalkan ia sendiri, balik lagi ke rumah, syukurnya kekhawatiran saya ngga terbukti. Si mba baru yang bernama Ajeng itu, lumayan gape ngurus Tara. Saya lihat Tara sibuk berceloteh dan ngikik-ngikik dengannya. Karena sudah sore sekalian saya mandiin Tara dan nyusuin dia. Begitu Tara terlelap saya kembali ke rumah sakit, sudah maghrib saat itu.

Tetiba, si papa pengen makan roti keju yang kejunya buanyaak katanya. Ya ela, demi suami yang lagi manja saya pun keluar lagi dari RS, meluncur ke Clover, eh disana Cuma ada roti isi keju, atasnya ga ada kejunya. Maka demi apa, saya pun nyari lagi ke toko roti lain, ke Helious, untungnya dapat, mana hanya dua biji lagi yang tersisa. Balik ke rumah sakit, dan si ayank pun makan roti dengan lahapnya.

Pukul Sembilan malam dengan terpaksa saya tinggalkan suami seorang diri, dan kembali ke rumah, soalnya ga mungkin Tara tidur sendiri. Hiks, dilemma banget antara suami yang tergolek sakit sama bayi mungil yang menggemaskan. Yeah hidup harus memilih (halah), saya pun memilih menemani Tara bobok dan dengan berat hati membiarkan papanya tidur sendiri di rumah sakit.

Pagi tadi, selesai sholat subuh, nyusuin Tara, mandiin dia, trus boboin Tara, saya kembali maning ke RS. Syukurnya si papa sudah baikan, tinggal pusing-pusing doang. Maka demi kemashalatan umat saya pun membawanya pulang keluar dari RS. Soalnya repot sekali saya harus bolak-baik rumah –RS. Biarlah dirawat di rumah saja pikir saya sekalian saya bisa jagain Tara.

Daaan akhirnya tiba di rumah dengan selamat sentosa. Papanya diurus anaknya juga.



Benar-benar saya merasakan betapa pentingnya seorang ibu harus bisa mengendarai kendaraan ( entah mobil entah motor). Beruntung banget beberapa bulan yang lalu, begitu melahirkan Tara saya ngotot kursus mengemudi. Pikiran saya saya saat itu, lebih kepada kemudahan pergi ke kantor, soalnya kalau berharap tebengan dari suami bisa-bisa dia terlambat setiap hari atau saya harus pagi banget datang ke kantor.

Walaupun dengan modal nekad, sempet nyerempet mobil dua kali, nabrak angkot sekali, plus nyenggol motor dua kali, kini saya sudah mulai lancar nyetir. Dan bisa dibayangkan apa yang terjadi kalau saya tidak kekeh sumekeh untuk belajar nyetir. Mana mungkin semua yang saya lakukan di atas bisa dijalani.

Jadi, emak-emak, yang belum bisa naik motor atau naik mobil, cepetan deh belajar, karena kita tidak tahu apa yang bakal terjadi tiba-tiba.

Dan Alhamdulillah suami saya sudah baikan. Melihatnya tertidur sambil memeluk Tara, jadi hilang semua lelah dari kemarin hingga hari ini. Berasa jadi supermom nih saya hehehe.

Anyway teman-teman terima kasih doanya yah, langsung diijabah Allah :D








Selasa, 08 Oktober 2013

I Love You Tara

Dear Putriku tercinta.........

Sabtu kemarin tanggal 28 September 2013  genap empat bulan usiamu, yang artinya sudah empat bulan ini dirimu menjadikanku resmi menyandang status sebagai seorang ibu. Dulu kupikir memiliki anak itu kerjaannya cium-cium bayi, main-main sama kamu, ngajak jalan-jalan, trus asik belanja-belanji baju-baju lucu untukmu.

Ternyata tidak segampang itu. 

Siapa sangka aku yang kata orang adalah seorang perempuan tangguh,percaya diri, ternyata mengalami yang namanya baby blues. Di awal kelahiranmu aku seperti mengalami jetlag.Jam tidurmu yang tak menentu membuatku lelah luar biasa. Apalagi saat kau menangis dan aku tak mengerti arti tangisanmu, diam-diam aku pun menangis seorang diri di kamar. Merasa tak becus menjadi seorang ibu. Di tambah ASI ku yang sedikit sekali keluar, membuatku merasa gagal menjadi ibu yang baik untukmu.

Benar kata orang, tidak ada yang namanya sekolah untuk menjadi seorang ibu. Learning by doing itulah yang kulakukan. Walau takut-takut, akhirnya aku bisa memandikanmu sendiri, tentu saja dengan bantuan baby bather. Walau masih sering salah mengerti, tapi minimal aku sudah faham tiap-tiap arti tangismu. Meskipun terkadang masih sering miss juga, kukira kau menangis karena haus ternyata karena kau tak nyaman dengan popokmu yang sudah berisi kotoran. Ah, kau sungguh telah merontokkan keangkuhanku yang berfikir semua ada di internet.

Putriku sayang…….
Memilikimu mengajarkanku arti pentingnya bersabar dalam belajar

28 Mei 2013 pukul 22.39, 12 jam lebih penantian di rumah sakit, akhirnya tangisanmu memeriahkan keriuhan di ruang bersalinku. Persalinan secara spontan yang menakjubkan. Kau tahu sayang, tak ada satu pun orang yang yakin kalau aku bisa melahirkanmu secara normal. Semua berfikir aku akan operasi. Sepertinya penampakanku cocok untuk menjalani operasi Caesar. Tak heran, saat mengetahui bahwa persalinanmu normal, banyak yang berdecak kagum padaku. Toss dulu nak untuk semangat pantang menyerah kita. Saat itu tak ada kata yang bisa menggambarkan perasaanku. Bahkan aku pun tak terlalu yakin akan perasaanku. Yang aku tahu pasti, ada perasaan lega luar biasa menyadari kau telah selamat kuantarkan menghirup udara yang sama dengan yang kuhirup.

Pramodawardani Lalitavistara

Itu nama yang kami beri untukmu. Siapapun akan otomatis bertanya padaku mengenai arti namamu. Namamu memang tidak biasa, sama seperti kehadiranmu yang memang luar biasa.
Pramodawardani adalah nama pemberian ayahmu, Lalitavistara nama pilihanku. Kau tahu sayang, terjadi perdebatan yang alot untuk menentukan siapa namamu. Aku dan ayahmu masing-masing memiliki argument sendiri untuk memenangkan nama pilihan kami.

Pramodawardani, nama seorang ratu pertama di kerajaan Mataram, Dyah Ayu Pramodawardani tepatnya. Ayahmu ingin kau seperti dia, kuat dan tangguh. Kebahagiaan yang terus tumbuh, itulah arti dari Pramodawardani. Kami ingin kau bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarmu. Seperti yang telah kau lakukan bahkan saat kau masih berwujud setitik noktah di rahimku.

Lalitavisatara………………. Hmmm nama yang sangat cantik menurutku.

Aku menemukannya saat lagi searching di internet. Kamu tahu sayang, aku suka sekali membaca kisah-kisah sejarah sama seperti ayahmu. Kisah perwayangan adalah kegemarannya, sedangkan aku, aku suka sekali membaca buku kisah ratu-ratu jaman dahulu. Mulai dari ratu mesir,india,china. Membaca perjalanan hidup mereka bayak mengajarkanku menjadi seorang perempuan tangguh.

Dan Lalitavisatara aku temukan saat aku membaca kisah dibalik pembangunan candi Borobudur ( yang ikut #10daysforasean pasti juga membacanya). Lalitavisatara adalah sebuah kitab yang menceritakan perjalanan hidup Sidharta Gautama. Lalitavistara diceritakan di relief  pada bagian Rupadatu di candi Borobudur. Arti Lalitavistara sendiri adalah rezeki yang berlimpah. Menurutku nama itu sangat cocok untuk dirimu, karena selama kehamilanmu begitu banyak rezeki yang diberikan Allah untuk keluarga kecil kita. Mulai dari kepindahanku dari Jakarta ke Medan yang membuat aku dan ayahmu bisa berkumpul, sampai berbagai lomba menulis yang kumenangkan. Bagiku kau adalah si pembawa rezeki.


Akhirnya, karena tidak ada yang mau mengalah, maka kedua nama itu kami sematkan bersamaan padamu. Semoga kelak kau menyukainya, dan semoga apa yang menjadi doa kami melalui namamu akan terwujud nyata.

Tara…. Begitu kami memanggilmu.

Sungguh begitu banyak harapanku padamu.Dalam setiap ayunan pengantar tidurmu terselip doa bagimu. Dalam setiap bait lagu yang kudendangkan untukmu tak lupa kurapalkan segala impianku.
Putriku….

Kau tak perlu pintar melebihi Einstein atau kaya melebihi raja Arab. Tak perlu pula cantik melebihi Miss universe.Bahkan kau tak perlu seberuntung Untung. Cukuplah kau menjadi dirimu sendiri. Menjadi anak yang takut Tuhannya, cinta Rasul, cinta Islam. Bagi kami itu sudah cukup nak.

Anakku…
Terima kasih telah memilih rahimku untuk tempat tumbuhmu. Terima kasih telah memilih kami untuk menjadi orang yang akan kau panggil bunda dan papa. Kehadiranmu seperti sebuah matahari bagi kami, memberi kehangatan, memberi energy . Lima tahun penantian, terbayar lunas saat kudengar tangis pertamamu.

We Love You lalitavistara




Tulisan ini lanjutan dari Project Dear Daughter. maaf agak lama postingnya, emak rempong ;D. Saya dapet tongkat Estafet dari mba Lina Sasmita. Sekarang tongkat saya serahkan ke mak Nda Syahdu. Silahkan lanjuuut maaak ;)



Selasa, 10 September 2013

Orang Pintar banyak Cara, Orang Malas Banyak Alasan

Orang Pintar Banyak Cara, Orang Malas Banyak Alasan

Kalau kalian sempat, sekali-kali mampirlah ke BRI di jalan Putri Hijau Medan. Kalimat di atas akan menyambut siapapun yang menginjakkan kaki ke dalam gedung berlantai tiga tersebut. Dalam satu hari saya bisa membacanya sampai puluhan kali. Dulu kalimat ini pun menghiasi tembok putih di unit kerja saya sebelumnya yaitu Tebing Tinggi.

Saya tidak bisa lebih setuju dengan apa yang terkandung di dalamnya ( ceilah bahasa guweh udah kayak vicky ajah). Bahwa hanya orang malas yang apa-apa selaluuu aja punya alasan. 

" Kok karirmu gitu-gitu terus? "
" Iya, bos saya nepotismenya tinggi sih "

" Ngerjain berkas kredit satu debitur ajaaaa lamanya minta ampun "
" Abis jaringan lelet sih, masukin data ke aplikasi jadi lama"

dst .....dst......

Saya suka sebel sama orang yang selalu punya alasan kalau melakukan kesalahan atau tidak melakukan tanggung jawabnya dengan baik. Karena seperti kalimat di atas, harusnya selalu ada cara untuk mengatasi setiap masalah, bukan hanya bertamengkan alasan.

Saya pikir selama ini saya termasuk golongan orang di dua suku kata pertama, ternyata saya SALAH BESAR.

Beberapa waktu lalu setiap ada orang yang nanya kok saya bisa nulis, ikut lomba dengan tema yang lumayan berat padahal siangnya saya kerja, kapan waktunya. Dengan entengnya saya menjawab bahwa kalau ada niat apapun bisa dilakukan. Bahkan ada beberapa teman yang minta tips gimana caranya membagi waktu antara keluarga, pekerjaan dan passion saya dalam menulis.

Tapi.............. sekarang ini sepertinya saya harus mengakui, bahwa saya ternyata termasuk golongan orang yang punya seribu satu alasan untuk menutupi ketidakmampuan saya.

Sejak melahirkan putri kecil yang begitu menggemaskan, dan kembali ke dunia kerja, saya seperti selalu kehabisan waktu dan dikejar-kejar rutinitas. Boro-boro untuk menikmati " Me Time ", bahkan untuk merasakan tidur nyenyak saja merupakan sesuatu yang mahal bagi saya saat ini.

Rutinitas setiap harinya, bangun pagi jam lima, mandi, sholat subuh, Tara bangun, nyusuin Tara sampai setengah tujuh, pakaian, dandan, beberes, jam tujuh berangkat ngantor. Pulang kerja diusahain on time, namun se teng go teng go nya, tetep jam setengah enam baru bisa keluar kantor. Macet di jalan, ditambah saya memang baru bisa naik mobil, sehingga jalannya masih alon-alon asal kelakon, akhirnya nyampe rumah menjelang maghrib juga, pyuuuuuh.


Nyampe rumah, langsung megang Tara, nyusuin, main-main bentar, sholat maghrib, makan malam, nyusuin lagi, Tara tidur saya pun ikutan tidur. Tara punya rutinitas minum susu setiap 2 jam sekali. Jam 11 dia bangun, kemudian jam satu, jam tiga dan terakhir jam 5 pagi. Itu kalau Tara lagi baik budi dan ngga rewel. Belakangan ini Tara susah banget tidur malam, maunya main terus, ngoceh-ngoceh, ketawa-ketiwi. Duuuhhhhh, pengennya nemenin Tara tapi apa daya jasmani ngga mau kompromi, terkadang si Tara masih segar bugar, matanya masih 100 watt saya sudah tepar.

ni malam2 masih ngajak main :D

Selama ini saya berkomitmen terhadap diri sendiri, bahwa begitu saya tiba di rumah ngga ada cerita anak saya dipegang ART lagi. Masa udah seharian ditinggal, malam pun Tara sama kakaknya, jadilah walau ngantuk-ngantuk, setengah sadar setengah mimpi sepanjang malam Tara berada di dalam dekapan saya. Begitu pun Sabtu Minggu, mulai dari mandiin sampai ngurusin semua keperluan Tara saya lakukan sendiri untuk menebus waktu yangs saya lewatkan dari Senin sampai Jumat.

Kalau dulu, malam merupakan sahabat setia saya untuk menulis, sekarang begitu ada waktu luang dikit, saya lebih milih tidur daripada megang laptop. DI kantor pun, sepertinya pekerjaan berkonspirasi sehingga tak sedikit pun tersisa waktu untuk sekedar menulis satu postingan geje seperti dulu. Karena ingin pulang secepatnya, maka selama jam kerja saya benar-benar manfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan, supaya ngga ada cerita kerjaan dibawa-bawa ke rumah, atau lembur di hari libur untuk ngerjain yang ngga selesai.

Trus, pertanyaannya, kapan dong saya bisa nulis ?...... huhuhuhu

Makanya beberapa waktu lalu saat ada tantangan #10daysforasean, saya ngotot mendaftarkan diri. Saya pikir dengan begitu saya akan mau tidak mau terpaksa menulis dan bisa keluar dari hibernasi yang saya lakukan. Tapi ternyata... saya kalah. Saya ngga mampu bahkan hanya menulis satu postingan setiap hari. Padahal temanya juga sudah ditentukan. Walau ngga bisa dibilang gampang tapi semuanya bisa dicari di google. 

Maka yang terjadi adalah setiap di lempar tema untuk hari itu, saya curi-curi waktu untuk searching literatur yang mendukung. Ngga bisa ngulik-ngulik google pakai laptop, hape jadi satu-satunya yang paling praktis dan bisa saya gunakan. Sambil merah ASI di kantor, disitu saya baca artikel-artikel yang saya butuhkan. Makan siangpun disempet-sempetin buat baca-baca. Niatnya ntar malam nyampe di rumah baru nulis buat tema hari itu. Tapi rencana tinggal rencana, begitu sampai di rumah, peran sebagai wanita karir pun harus ditanggalkan. Si imut Tara begitu menggoda iman, akhirnya tulisan yang sudah terangkai di kepala pun hanya ngendon di otak saja tanpa sempat tertuang ke dalam blog karena deadline yang sangat sempit. 

Dan, sampai event #10daysforasean berakhir saya hanya bisa menulis sampai tuntas beberapa tema saja. Beberapa ada yang sempat saya tulis sebagian, kemudian terputus oleh rengekan Tara yang minta haknya untuk disusui. Sebagian ibu mungkin bisa nyusuin sambil nulis, kalau saya kok ngga bisa yah. Momen menyusui adalah momen yang begitu intim antara saya dan bayi mungil saya, sehingga rasanya eman-eman kalau disambi kegiatan lain. 

Hmmm, akhirnya saya harus akui, bukan karena tidak sempat atau karena repot ngurus bayi, tapi memang saya yang belum bisa memanage waktu dengan baik, sehingga sampai detik ini, berbagai info lomba menulis hanya teronggok begitu saja di folder lepi saya. Hasrat hati ingin kembali bersinar di dunia maya, apa daya ternyata kapasitas saya tidak mumpuni.

Walau sering terbersit, " Emak yang lain bisa, bahkan yang punya balita tiga orang kayak mba Leyla aja bisa nerbitin buku di tengah kerempongannya, masa saya kalah sih ". Pada akhirnya saya memang kembali menyalahkan waktu sebagai alasan untuk menutupi kelemahan saya.

Orang Pintar banyak Cara, Orang Malas Banyak Alasan

Semoga saya segera menemukan cara untuk kembali menulis di sela rutinitas baru yang alhamdulillah membuat saya merasa menjadi perempuan paling bahagia di muka bumi ini.

Doakan sayah ya maaaks :))



Minggu, 01 September 2013

Ini Milikku bukan Milikmu

Tahun 2010 yang lalu saya membeli sebidang tanah beserta bangunan rumah di atasnya dengan ukuran tanah 15 m x 25 m. Cukup luas untuk hunian yang nyaman menurut saya.Rumah tersebut saat kami beli belum memiliki pagar. Maka demi keamanan, saya dan suami berencana untuk membangun pagar di sekeliling rumah. Agar tahu estimasi biaya dan titik tempat pagar dibangun, dimulailah pengukuran tanah sesuai dengan yang tertera di sertifikat tanah dan rumah tersebut. 

Saat suami mengukur bersama seorang tukang bangunan yang sedianya bakal meembangun pagar tersebut, kami dikejutkan oleh ketidaksesuaian antara sertifikat tanah dan kondisi di lapangan. Ternyata, bangunan rumah itu selama ini telah melewati batas tanah seperti yang telah dituangkan di surat tanah. Wooow panik deh saya, boro-boro mau bangun pagar, lha bangunan yag sekarang aja sudah lewat batas.Sebenarnya saya heran juga, kok selama ini yang punya tanah di sebelah ngga protes.

Tanah yang saya beli ini adalah milik nenek saya. Ketika nenek dan kakek saya meninggal dunia, anak-anaknya sepakat menjual rumah tersebut. Dan dengan banyak pertimbangan saya pun membeli rumah yang merupakan rumah masa kecil ibu saya.Sejak tahun 1970 sampai dengan saat ini tetangga kiri kanan, muka belakang tak mengalami pergeseran, sehingga disana semua saling kenal. Mungkin itulah yang menyebabkan selama ini tidak pernah ada masalah dengan bangunan rumah yang sudah masuk tanahnya tetangga.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, saya dan suami pun mendatangi tetangga rumah yang merupakan pemilik tanah sebelah. Setelah memohon maaf karena ketidaktahuan kami, suami malah meminta mereka untuk menjual sekitar 1-2 m tanah mereka agar cukup untuk membangun pagar. Syukurnya mereka mau, karena bagi mereka kehilangan satu meter tanahnya tak mempengaruhi apapun, sedangkan bagi kami satu meter itu sangat berguna . Karena sudah menganggap saudara sendiri,  kami hanya melakukan transaksi jual beli dalam selembar kuitansi yang tidak punya kekuatan hukum.


Sabtu, 31 Agustus 2013

Laos, Penambah Cita Rasa ASEAN

LAOS

Jujur saja, saat mendengar kata Laos, hal yang pertama terlintas di benak saya adalah bumbu dapur berwarna merah muda,xixixi. Memang diantara teman-temannya seperti jahe,kunyit,kencur, laos termasuk umbi-umbian yang gampang saya ingat,soalnya bentuknya berbeda dibanding kroni-kroninya.


Berbeda dengan laos bumbu dapur yang unik, negara Laos malah susah sekali saya ingat. Tak ada satu pun hal yang saya tahu tentang negara ini kecuali ia adalah anggota negara ASEAN. Ya dibanding negara ASEAN lain, Laos memang termasuk negara yang belakangan bergabung.

Selain sebagai negara anggota ASEAN, yang saya ketahui tentang LAOS adalah saat negara ini dikalahkan oleh Singapura pada laga terakhir babak grup piala AFF 2012. Hahaha ini sayanya yang kuper atau memang negara ini yang memang kurang gaungnya ya.

Baiklah mari kita kulik-kulik si negara bumbu dapur ini, eh maksud saya si negara seribu gajah.


Kalau melihat dari peta, secara geografis Laos dihimpit oleh Vietnam,Thailand, Kamboja dan China. Kondisi tersebut membuat Laos menjadi satu-satunya negara di ASIA Tenggara yang tidak memiliki wilayah lautan.

Menurut yang saya bacai di Google, kota Viantiane merupakan tujuan wisata utama jika kita ingin berkunjung ke negara seribu gajah ini. Katanya sih ,saat kita menelusuri jalan-jalan di Kota Viantiane serasa berada di jalan Prawirotaman Malioboro Jogjakarta. DImana di sepanjang jalan tampak hotel-hotel kecil dan guest house untuk menampung para wisatawan. Wah ternyata memang antara negara ASEAN yang satu dan lainnya itu memiliki kemiripan-kemiripan yang entah disengaja atau tidak. Kamboja punya candi dengan relief yang mirip dengan candi Borobudur, Malaysia memiliki kemiripan bahasa,Vietnam punya kopi senikmat kopi Indonesia, dan Laos pun tak mau ketinggalan juga,ckckckck.

Berbeda dengan negara ASEAN tetangganya Vietnam yang pertumbuhan ekonominya melaju pesat, tidak demikian halnya dengan Laos. Pertumbuhan ekonomi terhambat disinyalir karena banyaknya penduduk yang berpendidikan tinggi pindah dan mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri. Hal tersebut karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan  yang memadai.

Bukan saja lapangan pekerjaan, infrastruktur di negara ini pun masih ketinggalan di banding negara-negara tetangganya. Jalur transportasi dan telekomunikasi belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya
Tentu saja hal ini tidak sejalan dengan isi deklarasi Bangkok yang menjadi kesepakatan di antara anggota negara ASEAN. Yang antara lain berisi bahwa pembentukan negara ASEAN bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan kerjasama dan saling membantu antar negara anggota untuk kepentingan bersama baik dalam bidang ekonomi,social,teknik ,ilmu pengetahuan dan administrasi.

Selain kondisi perekonomian dan sarana prasana yang berada di bawah negara anggota ASEAN lainnya, peran Republik Demokratik Laos di ASEAN bisa dikatakan belum banyak berkontribusi. Tenggelam di dalam bayang-bayang negara ASEAN lainnya yang semakin maju.

Menurut saya, untuk mensejajarkan diri dan turut berkontribusi maksimal sebagai negara anggota ASEAN , Laos perlu melakukan investasi diplomatic dan menjalin kemitraan dengan dunia internasional khususnya negara-negara ASEAN.

Sejalan dengan Asean Economic Community, bahwa ekonomi suatu negara salah satunya dipengaruhi oleh sumber daya manusia yang ada. Seperti dijelaskan di atas, pada kenyataannya sumber daya manusia terbaik di Laos yaitu orang-orang dengan pendidikan tinggi lebih memilih berkarya dan mengadu nasib ke negara lain. Hal tersebut dikarenakan lapangan pekerjaan yang tidak memadai.

Untuk itu, Laos bisa memberi kontribusi ke negara-negara ASEAN khususnya dengan memberi kemudahan dan menawarkan peluang investasi ke negaranya. Dengan masuknya para investor dari negara-negara ASEAN ke Laos diharapkan laju pertumbuhan pembangunan akan meningkat yang akan diikuti dengan munculnya lapangan-lapangan pekerjaan dari perusahaan-perusahaan berskala internasional. Dengan begitu para penduduk berpendidikan tinggi bisa mendedikasikan diri ke negaranya sesuai dengan standar yang diharapkannya. Hal ini juga akan mendorong para generasi muda di Laos untuk optimis terhadap masa depan mereka.

Dengan dibukanya peluang investasi, secara tidak langsung akan mempengaruhi segala lini kehidupan. Tidak menutup kemungkinan sektor pariwisata pun akan terangkat. Dan sebelum sektor pariwisata Laos bisa diangkat untuk memperkuat ikon wisata di Asia, sudah saatnya pemerintah Laos sowan ke negara ASEAN Singapure untuk mencontoh sitem transportasinya. Transportasi yang baik, akan sangat mempengaruhi perkembangan pariwisata di suatu negara.



Banyak tempat wisata yang bisa diandalkan di Laos. Ga tanggung-tanggung, terdapat 1.493 situs pariwisata resmi. Dari jumlah tersebut 849 diantaranya adalah lokasi dengan keindahan alam,435 situs budaya dan 209 situs bersejarah.

Ke Laos belum lengkap tanpa berkunjung ke kota bersejarah, salah satu warisan situs dunia Unesco yaitu  Luang Prabang, Kota Vang Vieng,Tat Xuangzi dan ibukota Viantiane. Belum lagi candi Khmer yang termasuk dalam daftar peninggalan sejarah dunia. Dan tak lengkap rasanya tanpa menyebut candi Kuno di That Luang serta situs rausan batu megalitik di Plain of Jars.

Investasi hubungan diplomatic antara Laos dan negara-negara ASEAN dengan saling menempatakan duta besarnya di negara lain membuat laju pertumbuahn ekonomi setiap negara akan tumbuh positif. Dan dengan kerjasama antara sesama anggota ASEAN dalam mewujudkan isi deklarasi Bangkok, bukan hal yang mustahil tidak akan ada kendala dalam menyongsong Asean Economis Community tahun 2015 mendatang.

Seperti halnya bumbu laos yang berguna untuk menambah cita rasa makanan, Laos pun akan berkontribusi menambah posisi negara-negara ASEAN di mata dunia.,Laos pun akan berkontribusi menambah posisi negara-negara ASEAN di mata dunia.


Jumat, 30 Agustus 2013

Harumnya Duet Maut Kopi Indonesia dan Vietnam

Seminggu yang lalu sebuah berkas paket kredit mendarat di meja kerja saya. Permohonan baru sebesar Rp 40M dari sebuah perusahaan pengolahan kopi di Sumatera Utara. Menurut prosedur, yang harus saya lakukan adalah melakukan prescreening, memastikan apakah usaha debitur yang akan dilayani masih masuk dalam Pasar sasaran dan tidak termasuk dalam negative list  usaha yang dibiayai.

Negative list adalah usaha-usaha yang dilarang untuk dibiayai. Biasanya karena memang aturan pemerintah yang telah menetapkannya, seperti perdagangan senjata, prostitusi, obat-obatan terlarang. Selain itu bisa juga karena usaha tersebut sudah jenuh, seperti gerai handphone, voucher isi ulang ataupun hotel untuk daerah-daerah tertentu. Dikhawatirkan usaha-usaha tersebut jika diberi pinjaman dari Bank, maka akan mengalami kendala dalam pembayaran atau sewaktu-waktu ijin usahanya bisa dicabut.

Begitu melihat daftar negative list usaha, ow ow terkejutlah saya, ternyata kopi termasuk salah satu di dalamnya. Why....why... pikir saya.

Di tengah keheranan saya tersebut saya jadi teringat, di sepanjang jalan dari rumah menuju kantor, berdiri berpuluh gerai kopi. Tak jauh dari komplek perumahan saya saja, di Ringroad pusatnya kuliner di Medan beberapa warung kopi setiap hari laris manis tak pernah sepi pengunjung. Sebutlah Old Time Kopi, Kedai Kupi,Warung kopi,Kopi Cangkir, Kopi Ulee Kareng. Bergeser sedikit, di sepanjang jalan dokter Mansyur daerahnya mahasiswa USU, berserak cafe-cafe dengan menu andalan berupa kenikmatan secangkir kopi, dari mulai Caffe kopi, Kopi Republik,Kopitiam,Kedai Apek,Coffe shop,Musik Cafe,Coffe Day. Haduh sangkin banyaknya saya jadi lupa nama-namanya. Pokoknya tidak kurang dari 20 gerai kopi saya lewati setiap harinya. Saya pikir ini adalah indikasi bahwa komoditi kopi berprospek cerah.

Kopi termasuk salah satu daari 10 komoditas unggulan penyumbang devisa negara.Indonesia yang merupakan produsen kopi terbesar di dunia setelah Brazil dan Vietnam. Karena itu, kopi telah menjadi simbol yang melekat bagi Indonesia.



Kopi Indonesia itu terkenal dengan aroma dan rasanya yang aduhai. Di Sumatera uatara sendiri sebutlah kopi Sidikalang. Mendengar namanya saja, sudah tercium arona kental kopi robusta dan arabika.Sidikalang adalah salah satu Kabupaten di Sumatera Utara. terletak di dataran tinggi Sumut membuat kopi yang dihasilkan dari daerah tersebut memiliki kualitas unggulan.

Ketika kopi tumbuh di dataran tinggi, seharusnya tanaman tersebut tumbuh di atas minimal 700mdpl. Ternyata, kopi Sidikalang tumbuh di atas 1000 mdpl, sehingga kualitas biji kopi yang dihasilkan memiliki fisik dan karakter yang lebih kuat baik dari segi rasa maupun aroma. Aroma kopi Sidikalang lebih kepada repah-rempah. Inilah yang membedakan kopi Sidikalang dengan jenis kopi yang lain.

Kalau Sumut punya kopi Sidikalang, Aceh tak mau kalah, kopi Ulee karengnya benar-benar menggoyang lidah. Di Medan sendiri sudah lebih dari satu tempat ngopi dengan titel kopi aceh tersebut. Kopi aceh terkenal unik dalam rasa maupun penyajiannya. Kopi Aceh terbuat dari kopi Robusta yang dicampur dengan sedikit mentega saat pembuatannya. Kalau cara penyajiannya pasti sering dong dilihat di Tivi, seperti atraksi bartender ala Aceh. 

Pertama taruh kopi dalam gelas kecil, lau tuangkan air yang benar-benar mendidih. Setelah itu tutup gelas kopi dengan apa saja terserah yang penting uap kopi jangan keluar dari gelas. Karena uap itulah yang memberi aroma memikat dan mempertahankan rasa kopi di dalamnya. Biarkan selama tiga sampai lima menit. Kemudian silahkan diminum, hwaaaa pasti berbeda rasanya. Coba saja kalau tidak percaya. Dan tahu harga segelasnya berapa?. Jangan kaget, Tak sampai sepuluh ribu rupiah,aiiih

Indonesia boleh berbangga dengan citarasa kopi yang dimilikinya, namun negara lain juga punya kopi unggulan. Produsen kopi terbesar lain yang masih dalam satu kawasan dengan kita adalah Vietnam. Sama-sama negara di Asia Tenggara yang masuk dalam keanggotaan ASEAN, Vietnam pun menjadikan kopi sebagai komoditi unggulan di negaranya. Kalau Indonesia punya kopi luwak,kopi Toraja,kopi Sidikalang, mak Vietnam punya kopi Trung Nguyen, ikon kopi Vietnam.

Sejak Prancis meperkenalkan tanaman kopi kepada negara indo-china beberapa abad silam, pertanian kopi di Vietnam semakin berkembang pesat. Sebagai sumber mata pencaharian, para petani di Vietnam memiliki ketajaman instuisi dalam menjual harga kopi mereka. Kebanyakan dari mereka akan melihat harga kopi di pasaran London dan New York terlebih dahulu sebelum menjualnya. Mereka hanya menjual kopi saat harga benar-benar bagus. Dengan cara ini, petani kopi di Vietnam bisa hidup makmur sejahtera.

Emang gimana sih kopi Vietnam itu?

Agak berbeda dengan penyajian kopi Sidikalang maupun Ulee Kareng. Kopi diseduh sampai kental pekat, pokoknya sampai rasanya pahit banget, lalu disiram susu dengan porsi besar, bisa sampai sepertiga dari jumlah cairan kopi pekatnya. Kemudian campuran kopi dan susu tersebut disajikan dalam gelas kecil,panas-panas, masih berasap-asap. Atau kalau yang punya selera dingin, bisa dicampur dengan es batu. Kemudian disruput perlahan-lahan. Hmmmm,  serupa tapi tak sama dengan kopi unggulan Indonesia.Untuk segelas kopi vietnam yang luar biasa lezat itu kita hanya membayar seharga 5000 rupiah saja, Oh no.

Nah kopi Indonesia maupun kopi Vietnam yang rasanya tak terbantahkan itu, ternyata harga jualnya tidak terlalu tinggi. Makanya ngga heran kopi termasuk dalam daftar negative list usaha yag dibiayai bank. 

Sejak awal tahun 2013 yang lalu harga kopi yang terkenal harum di pasar dunia, mengalami keanjlokan. Permintaan yang sepi dan tawaran harga jual yang melemah membuat ekspor biji kopi nyaris stagnan. Kopi Arabika dari Aceh, hanya dihargai oleh importir Singapura seharga Rp 29.000/kg, anjlok dari harga sebelumnya Rp 38.000 - Rp 40.000/kg. Harga tersebut tidak sesuai dengan ongkos produksi kopi itu sendiri.

Harga pasar dunia yang fluktuatif membuat para eksportir tidak berani bertransaksi dan mengikat kontrak baru.. mereka memilih menunggu dan melihat kondisi ke depan.Hal tersebut, membuat banyak petani dan pengepul yang menahan untuk menjual gabah kopinya. Seperti yang diberitakan Bloomberg, sedikitnya 3000 ton gabah kopi tertahan menunggu harga kopi di pasar dunia mulai stabil

Memang sejak isu krisis global melanda Amerika, harga kopi mengalami spekulasi. Ironisnya produksi kopi Indonesia masih tergantung pada permintaan luar negeri. Sedangkan permintaan pasar domestik sendiri masih rendah.

Dan yang lebih menyedihkan, kopi Indonesia yang dihargai murah tadi oleh importir luar, kembali ke Indonesia dalam bentuk penyajian yang berbeda dan dibandrol dengan harga berkali lipat.Ouuuch

Starbucks, salah satu ikon kopi asal paman sam itu bisa-bisanya menjual secangkir kopi mencapai harga 40 ribu sama dengan harga satu kilo biji kopi Arabika dari Aceh. Padahal satu kilo kopi bisa untuk membuat berpuluh-puluh cangkir kopi, bayangkaaan... bayangkan.

Karena itu, walau Brazil adalah negara produsen kopi nomor satu di dunia, saya yakin kopi dari tanah Asia yaitu Indonesia dan Vietnam akan tetap mampu bersaing di pasar dunia.

Kenapa?

Disamping Brazil dan Vietnam, masih ada 35 negara lain di dunia ini yang merupakan negara pengekspor kopi. Columbia, India, Ethiopia, Peru,Guatemala,Mexico,Honduras, merupakan negara lain dengan pangsa pasar terbesar untuk komoditi kopi. Walaupun negara eksportir kopi demikian banyak, namuan diimbangi oleh negara pengimpornya yang berjumlah kurang lebih sama.

Tingkat persaingan suatu komoditas dapat tercerminkan dari market sharaenya. Jika suatu negara memiliki pangsa pasar ekspor yang tinggi maka dianggap memiliki daya saing tinggi pula. Tahun 2010, Brazil yang merupakan pengekspor kopi terbesar menguasai pangsa pasar ekspor sebesar 27.22 %, disusul Vietnam 18.51 % dan Indonesai di belakangnya sebesar 6.58 % dan Columbia 6.23 %.

Untuk memenuhi kebutuhan ekspor, suatu negara harus memperhatikan perkembangan produksi kopinya. sedangkan produksi kopi sangat ditentukan oleh perluasan dan produktivitas. Dilihat dari segi luas lahan, Indonesia memiliki luas areal lahan kopi yang tersesar kedua dunia setelah Brazil. Perkembangan luas areal kopi Indonesia dan Vietnam terus meningkat sepanjang waktu, sedangkan Brazil mengalami penurunan. Hal tersebut merupakan peluang bagi Indonesia dan Vietnam untuk menyaingi dan melampaui Brazil dalam hal ketersedeiaan lahan.

Namun, walaupun luas lahan kopi Indonesia lebih besar dibanding Vietnam, sayangnya tidak diikuti dengan produktivitasnya. Produksi kopi vietnam lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia.Padahal dulunya Vietnam belajar tentang kopi dari Indonesia lho,ckckckck. Ini namanya murid lebih pintar dari guru

Dari kedua hal di atas, dimana Indonesia memiliki lahan kopi yang besarnya melebihi Vietnam, sedangkan Vietnam mampu memproduksi lebih banyak kopi dari Indonesia, dapat dilakukan kerjasama simbiosis mutualisme.

Menjalang Asean Economic Community di tahun 2015 mendatang, sudah seharusnya negara-negara ASEAN bersinergi secara positif untuk menghadapi persaingan ekonomi dunia yang semakin lama semakin menggila. Negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN memiliki potensi yang sangat besar jika bersatu.Ngga usah memperdebatkan mana kopi yang lebih enak. Kopi dari Vietnam atau kopi Indonesia.

Kopi Sidikalang , kopi Ulee Kareng, kopi Toraja, kopi Luwak yang terkenal dengan aroma dan rasanya, jika dipadukan dengan teknologi dan teknik pengolahan lahan yang baik dari Vietnam tentu akan menghasilkan produktivitas kopi yang tinggi dengan cita rasa bak dari surga.



Harmonisasi kedua negara ini akan menjadikan kopi ASIA merajai pangsa pasar Eropa. Kalau hanya mengalahkan dominasi pasar kopi Brazil di dunia, saya rasa bukan hal yang mustahil.

Jadi, apakah Indonesia dan Vietnam akan mampu merebut pangsa pasar kopi di dunia???

Off Course Yes. Bersaing bukan berarti saling menjatuhkan. tapi bersinergi secara positif malah akan menguntungkan kedua belah pihak.

Biarkan Starbuscks petantang petenteng dengan logo ijo-ijonya. Selama bahan bakunya tergantung dari produksi duet maut dua negara ASEAN ini, tentu akan menguntungkan kita semua.

Dan nantinya tentu saja kopi tidak akan menjadi negative list perbankan lagi