Rabu, 25 Maret 2015

Dee's Couching Clinic Medan, Menulis Ala Dee Lestari

Setelah mupeng melihat foto-foto dan ulasan emak-emak blogger di Solo, akhirnya tiba juga giliran Medan mendapat kehormatan untuk didatangi acara sekeren Dee’s Couching Clinic, yeaaay. Oya bagi yang belum tahu, Dee’s Coaching Clinic adalah acara yang diselenggarakan oleh penerbit Bentang Pustaka di lima kota yaitu Solo, Medan, Jakarta, Surabaya, Makasar. Kota-kota ini dipilih mewakili basecampnya pembaca Dee sekaligus mewakili geografis Indonesia. Pesertanya sendiri dipilih dari pemenang lomba review novel Dee terbaru yaitu Gelombang. Saya sendiri hadir mewakili komunitas ‘Kumpulan Emak Blogger’ yang super keren itu. Aaih makmin, makasih banget yah untuk kesempatan yang telah diberikan kepada saya.

Tidak hanya saya, ada empat emak lain sebagai wakil KEB di acara ini, yaitu mak Annisa Fitri Rangkuti, mak Nurul Fauziah, mak Lia Cerya dan mak Pertiwi. Kalau dengan mak Nurul dan mak Nisa saya sudah pernah ketemu di acara Tupperware, dengan emak yang dua lagi baru kali ini, jadi sekalian Kopdar deh xixixi.


Dari kiri ke kanan: Mak Nissa, saya, Lia,Pertiwi,Nurul

Acara diadakan di Hotel Santika Diandra Medan pada hari Minggu jam 9.00 pagi. Duh, baru mau berangkat aja, anak saya Tara sudah merengek-rengek minta ikut. Rasanya tidak tega juga melihat Tara nangis gitu, tapi acara kayak gini kan tidak setiap hari ada, boleh lah ya saya sedikit egosi. Apalagi suami mengijinkan, ya sudahlah Tara tinggal dulu di rumah sama papa dan wawaknya.

Saya tiba di Santika tepat pukul 9.00 WIB, setelah isi daftar hadir, dapat gudie bag lucu, saya pun segera ke kursi yang disediakan. Sepertinya sudah hampir seluruh peserta hadir, sedangkan Dee sendiri lagi sarapan katanya. Ya sudlah daripada bengong, saya dan emak lain pun langsung curi start buat futu-futu hahaha, dasar emak narsis. Si mas panitia sampai repot menggotong-gotong banner demi foto kece kami.

Eh lagi, asik foto-foto, sekonyong-konyong seorang perempuan berambut cepak dan berkacamata masuk.  Ih kok kayak kenal ya, tanpa tedeng aling-aling saya langsung samperin,

“ Mba, ika Natassa ya?”.

“ Iya “ jawabnya ramah

Hwaaaa, langsung deh norak-norak bergembira.

“Boleh minta foto mba?”

Xixixi, langsung aja deh si mba saya gandeng, jepret jepret. Itu tangan saya ngga sopan banget lho pakai peluk-peluk sembarangan.  Girang banget ketemu Ika Natassa di acara Dee. Coba, kurang keren apalagi Ika natassa ini salah satu dari banyak penulis Indonesia yang saya kagumi. Apalagi dia juga banker seperti saya, jadi berasa sok kenal sok dekat gitu. Ntar saya certain sendiri deh soal Ika Natassa di postingan lain.


With Ika Natassa

Acara pun dibuka MC yang gokil, lumayan membuat kita-kita ketawa pagi-pagi. Sambil menunggu Dee datang, si mba MC melempar beberapa pertanyaan buat kita, cepet-cepatan, siapa bisa jawab dapat hadiah buku. Dan, iya…. Di sesi ini saya dapat bukunya Claudia Kaunang karena bisa jawab pertanyaan mba MC. Hahaha, dasar emak murahan, gitu dengar kata hadiah langsung semangat 45.




Setelah bagi-bagi hadiah, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun muncullah dari pintu masuk, eng ing eng.

Wih, pertama melihat Dee langsung tersepona saya, anggun dan cantik banget. Kemarin itu, Dee pakai cardigan panjang selutut warna maruun dipadu dengan daleman hitam dan rok kedut warna coklat muda. Cantik banget deh , dan terlihat muda dibanding usianya. Acara pun langsung diambil alih oleh Dee.

Eh, saya tuh focus banget dengerin Dee ngomong, soalnya jaraknya dekat sekali, jadi lupa foto-foto jadi maaf yah kalau fotonya sedikit. Dan siap-siap, ini tulisannya panjang bener, soalnya ini bukan review tapi menceritakan kondisi disana. Kretekin jari dulu.

Asal Muasal

Jadi nih acara DCC ini digagas oleh Dee karena Dee merasa diluar sana kita itu kekurangan sumber pustaka buku tentang bagaimana caranya menulis atau baggimana sih proses kreatif penulis itu, apa yang dilakukannya, apa kesulitannya. Kalaupun ada semacam buku panduan menulis, entah ditulis oleh editor atau jurnalis jumlahnya masih sangat sedikit, terakhir yang diingat Dee itu bukunya Arswendo Atmowiloto yang berjudul “ Menulis itu gampang”. Wah saya sih belum baca bukunya, tapi jadi malah pengen nyari buku om Arswendo. Nah, . Jadi Dee itu merasa kesulitan kalau ada yang bertanya, dan nyatanya banyak sekali yang bertanya kepadanya bagaimana caranya menulis.Xixixi biasa ya yang namanya penulis best seller pasti kebanjiran pertanyaan itu. So, daripada harus jawab satu-satu, dan karena Dee dan Bentang masih punya jatah promo Gelombang untuk lima kali show lagi, jadi deh acara ini diadakan.

Tujuannya nanti Dee mau buat semacam buku panduan atau buku petualangan menulis yang berisi apa-apa yang ingin diketahui orang tentang menulis. Tapi, Dee ngga ingin ngawang-ngawang, mengira-ngira apa yang kira-kira ingin diketahui, atau kendala orang untuk menulis, makanya Dee pengen menjaring pertanyaan-pertanyaan dari penulis-penulis wanna be kayak saya, atau penulis yang sudah punya buku, yang pengen punya buku, yang cita-citanya pengen punya buku yang nanti akan dikompilasi oleh beliau.  Jadi, kita-kita ini peserta DCC adalah bahan eksperimennya Dee, wkwkwkw. Eh gpp lah ya jadi eskperimen penulis sekelas Dee, saya mah ngga nolak.

Trus yang membuat acara ini istimewa, karena disini kita bisa puas-puasin bertanya sama Dee. Dee terbuka banget untuk semua pertanyaan kita. Bahkan dee berkata bahwa “ inilah saatnya kita harus egois”. Pokoknya jangan malu-malu, jangan ragu, jangan takut, raup keuntungan sebanyak-banyaknya, ilmu yang bisa di dapat.

And here we go….


Sumber : Instagram Dewi Lestari


Untuk sesi pertama Dee membuka untuk 5 penanya. Saya ngga mau ketinggalan dong, langsung angkat tangan setinggi-tigginya, apalagi kata MC nya siapa yang paling aktif trus siapa yang live tweet nya paling oke bakal dapat hadiah Lunch bareng Dee, wadaaaw emak narsis langsung mupeng. Pertanyaannya banyak banget, saya rangkum saja ya, dan ditulis tidak berurutuan.

Cerita Dee

Dee itu senang menulis sejak kelas 5 SD tahun 1985. Ya elaa, saya mah masih umur 2 tahun saat itu, Dee udah nulis aja.  Manuskrip pertama yang diselesaikan Dee adalah pada tahun 2000.  Lama ya, iya Dee bilang ada begitu banyak naskah yang dibuatnya namun tidak selesai. Penyebabnya Karena ia merasa kesal dengan majalah-majalah yang memberi batasan jumlah halaman untuk penulis. Padahal ia bukan orang yang senang dikekang, inginnya ya kalau nulis ya nulis saja ngga usah dibatas-batasi.

Apa Modal Seorang Penulis

Yang paling utama itu, dalam menulis seorang penulis harus mempunya niat awal. Ini sangat penting tapi sering luput dari perhatian.  Kalau Dee sendiri niat dia menulis itu untuk berbagi. Kalau saya apa yaaa?, saya sih niat nulis karena menulis itu melegakan, hahaha yaela cetek amat niatnya mak. Oke, lanjut. Nah setelah punya niat, seorang penulis itu harus punya tujuan yang jelas. Mau ngapain gitu lho dengan tulisannya. Dee cerita, kalau waktu SD itu, dia sudah punya tujuan / cita-cita bahwa suatu saat nanti saat ia jalan-jalan ke toko buku, di rak buku itu ada buku yang ditulisnya. Itulah yang membuat ia terus bertahan menulis.


Nah setelah punya niat dan tujuan, seorang penulis itu harus punya ide dong yah.

Tentukan Ide Cerita


“ Ah,ideku biasa aja nih”

“ Ah ideku tidak menarik “

“ Ah ideku pasaran, sudah banyak yang nulis”

Pernah berfikir seperti itu tidak?. Saya mah pernah banget. Tiap hari malah, hahaha.

Tapi…,yang namanya ide itu ya memang tidak ada yang baru. There’s nothing new under the sun. Ya iyalah ya, coba kita ingat-ingat, cerita Romeo and Juliet mah biasa banget yah idenya. Atau Cinderella, juga idenya pasaran, sinetron kita aja banyak yang niru ide Cinderella tapi dimodif . Jadi daripada pusing, tanamkan saja dalam hati bahwa semua ide itu sama dan biasa. 

Ide itu menjadi biasa atau luar biasa ya tergantung cara penceritaannya.

Cara penceritaan itu juga tergantung dari angle yang dipilih penulis untuk mengeksekusi ide yang biasa tadi. Angle atau sudut pandang akan mengubah segalanya.

Karena itu, yang namanya penulis harus memiliki “ Kamera Penulis”. Maksudnya tuh, kalau penulis itu melihat suatu benda atau objek, kamera bakal langsung roll on, merekam semua yang dilihat. Semua yang dipotret oleh kamera penulis itu masukkanlah dalam bank data yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan saat dibutuhkan. Kayak di Perahu Kertas, mobil yang dinamai Fuad itu adalah mobil temannya Dee yang ada di bank data dia. Jadi kamera penulis inilah yang membuat angle berbeda, dengan kamera ini, penulis berlatih untuk jadi pengamat yang baik.

Angle ini bisa dituangkan dalam prolog.

Misalnya dalam buku Dee , di KPBJ. “ Cerita ini bukan terjadi di Indonesia”. Nah ini adalah prolog, yang sebenarnya mengajak pembaca untuk melihat sama-sama dari perspektif penulis. Tapi  sebenarnya kalau penulisnya yakin, prolog ini tidak dibutuhkan, langsung saja memasukkan angle yang diambil penulis ke dalam cerita. Jadi ngga perlu berlindung di dalam prolog.

Angle itu bisa dituangkan dalam kalimat pembuka. Contohnya di buku Gelombang , diawali dengan kalimat “ Hutan dapat mengubah seseorang dalam sekali sentuhan.”

Menurut Dee, kalimat pertama itu hal yang sangat penting. Jadi, saat kita nulis ya nulis saja, tapi luangkan waktu kemudian untuk mengulik kalimat pertama yang tepat. Dicari dan dipikirkan supaya dapatnya pas dan enak banget. Soalnya kalimat pertama ini semacam preambul yang mendaratkan pembaca untuk ikut dalam angle yang kita lihat.


Biar jelas, Dee kasih lagi nih contoh kalimat pertama yang endang bambang, di Bab nya Alfa, Sianjur mula-mula , “ Sehari setelah aku berulang tahun, mereka menghadiahiku kegelapan”, jedeees, kena banget yah.

Bagaimana mendapatkan Ide yang disukai Penerbit atau pasar?

Nah ini nih masalah kebanyakan penulis pemula. Belum-belum sudah memikirkan pemikiran orang lain, pemikiran penerbitlah, selera pasarlah, memikirkan pendapat oranglah. Tulislah apa yang paling menarik bagi kita. Dee menyebutnya dengan rasa gatal yang tak kunjung usai, yang kita senang banget menguliknya, yang semakin digaruk semakin enak. Kebayangkan kalau pas lagi gatal-gatalnya terus digaruk,  mertua lewat pun ngga nampak sanking asoynya hahahah.

Semua orang itu punya rasa gatal yang berbeda-beda. Makanya setiap penulis itu berbeda-beda temanya, kayak Ayu Utami yang selalu mengangkat tema politik, religiolitas dan kegilaan. Atau Djenar Maesa Ayu yang selalu mengangkat tema seksualitas.

Jadi daripada mikirin apa nih rasa gatal yang lagi trend di masyarakat, mending temukan rasa gatal kita sendiri. Karena begitu kita ketemu rasa gatal itu, maka itu akan menjadi inspirasi yang tak kunjung usai.  

Lalu jangan juga memikirkan trend. Kalau mikirin trend, trend itu selalu berubah. Kayak waktu Laskar Pelangi booming, rame-rame orang nulis tentang autobiografi novel. Saat ayat-ayat cinta Booming, berserakanlah novel-novel ala padang pasir. Gelombang trend itu memang ada masanya. Nah itu bukan tugas kita untuk memikirkannya,  Itu sebenarnya tugas penerbit, kalau kita ngga kepilih berarti kita memang ngga masuk gelombang itu.  

Jadi mikirnya bukan apa yang penerbit suka, tapi pikirkan apa yang kita suka karena itu akan menjadi motivasi kuat untuk kita menulis.

Temukan tema yang kita suka, tekuni, dari situ nanti cerita akan mengalir dengan sendirinya

Find what you love and strict To it


Takar materi yang kita punya

Misalnya nih kita punya beras sekilo, ayam 3 ekor, bisa dong kita bikin lemper buat satu RT. Tapi kalau punyanya beras satu kilo, ayam setengah, paling bisa buat lemper buat sekeluarga doang. Jadi kita harus bisa menakar, ini kira-kira materinya bisa sampai berapa halaman ya. Gunakan intuisi saja untuk menakarnya. Kalau sudah sering  baca buku dan nulis pasti tahu yah, kayak buku Gelombang itu sekitar 80.000 kata, nah kalau kita merasa sanggupnya seperempatnya ya berarti sekitar 20.000 kata atau pengen buat 200 halaman.  Dari situ baru kita tentukan target. 

Tentukan target menulis

Target menulis ini tujuannya agar sesuatu yang terihat abstrak, mustahil, ngga mungkin itu menjadi lebih konkrit, lebih relaistis. Contohnya nih, kita mau nulis buku setebal setengah dari Gelombang deh, sekitar 40.000 kata . Nah target itu harus dikuantifikasi, maksudnya dipecah-pecah. Untuk itu , seorang penulis itu harus punya deadline.

Tentukan Deadline

Misalnya kita menetapkan deadline, bahwa kita akan menyelesaikan novel itu dalam 6 bulan. Nah terus ukur diri, dalam seminggu itu kita kira-kira bisa nulis berapa hari, misal 3 hari saja bisa nulisnya. Dalam 3 hari, berarti dalam 6 bulan kita punya waktu menulis sebanyak 72 hari . Maka tinggal dibagi 40.000 kata dibagi 72 hari, dapat angka 500 kata/hari. 500 kata itu kan kira-kira dua halaman saja ( saya barusan menghitungnya ^_^). Aduh kelihatannya ringan lah ya kalau cuma dua halaman perhari. Apalagi blogger kayak eikeh, nulis 500 kata mah baru pembuka. Tapi napa sampai sekarang tetap ngga punya buku heh, ngga malu apa sama laptop #toyor diri sendiri#. Apalagi kalau target waktunya dimolorin, jadi setahun, berarti satu halaman dalam satu hari dong,. Aaah keciiil xixixi.

Jadi, target yang kita buat ini bakal menganulir ketakutan-ketakutan kita. Yang dulunya berasa gelap jadi terlihat terang benderang, yang dulunya berasa aaaah berat banget, ngga mungkin lah bisa nulis novel, jadi terasa dapat pencerahan ya ngga?.

Bahkan kalaupun kita sehari-hari bekerja, itu juga bukan masalah, tinggal tentukan berapa jam bisa menulis. Masih terasa berat kurangi target kata/halamannya, tambahkan deadline waktunya, no problem. Karena intinya bukan berapa banyak halaman atau seberapa cepat deadlinenya tapi yang penting tulisan ini selesai, bukan hanya menjadi angan-angan belaka. Kita punya time frame, dan punya target menyelesaikannya. Kalau ngga , inilah yang sering terjadi, penulis-penulis wanna be (kayak saya), yang selalu berlindung dibalik alasan “ ngga moodlah”,  Ngga punya waktulah”, “ngga fokuslah” edebre edebre edebre.


Dengan demikian, kita sudah bisa menentukan saat mulai menulis di bulan Januari, berarti di Bulan Juni tulisan kita akan selesai. Kelak saat kita sudah menjadi penulis professional, kita sudah bersahabat dengan yang namanya deadline. Tapi ingat  jangan menulis dengan alasan deadline. Karena deadline ini adalah tools untuk bisa menyelesaikan tulisan. Alasan menulis itu yah untuk berbagi, untuk mengikat ilmu, untuk melihat dunia, whatever, tapi jangan menulis karena alasan deadline, catet.

Sumber:Instagram Dewi Lestari


Ketika nulis muncul ide lain

Jika ide itu tentang buku yang lain, maka kita harus kembali kepada deadline, bahwa kita harus focus ke tujuan awal. Dee sendiri mengakui bahwa ia tidak bisa membuat dua buku secara bersamaan. Kalau ada ide lain tulis saja entah di notes entah di laptop. Garap di lain waktu, atau setelah project yang sedang kita tangani selesai.


Dee menghimbau bagi siapapun yang memiiliki ide setengah matang, buku setengah matang, cerpen setengah matang, pilih satu dan komit, kuantifikasi, jadikan ia target yang konkrit. Dan begitu kita berhasil menyelesaikannya, maka persepsi dan attitude terhadap proyek-proyek kreatif lainnya kan berubah. Mendadak , aaah sebetulya semua bisa ditaklukkan.

Bagaimana caranya membuat novel yang Page turner ( ini pertanyaan guweh)

Page turner itu maksudnya, saat kita membaca sebuah karya, kita tuh tidak bisa berhenti untuk membacanya sampai akhir.

Sebelum kesana, kita harus tahu dulu itu, sebenarnya cerita itu apa sih?.

Cerita itu adalah rangkaian sebab akibat. Begitu kita kebalik nyeritain akibat dulu baru sebab, maka yang tiba-tiba mengalir menjadi stuck. Jadi, jangan dibalik. Ini sebenarnya logika, tapi kita sering luput.

Dee sendiri baru menyadarinya saat ia menulis Madre. Dulunya ia selalu menutup bab yang belakangnya conclusive alias tertutup. Dee baru sadar bahwa yang membuat orang tertarik untuk terus membaca adalah rasa penasaran, habis ini apa yah habis ini apa yah. Penutup bab yang conclusive tidak menghadirkan perasaan seperti itu. Untuk membuat cerita yang page turner, setiap bab harus kita akhiri dengan tanda tanya.

Itu kalau ngomongin novel, kalau ngomongin kalimat, perhatikan tiap membuat kalimat,  mana yang datang duluan, sebab atau akibat. Begitu kita rapi membuatnya sebab akibat sebab akibat, walaupun ceritanya biasa saja, tapi orang akan terus mengikuti. Itu rumusnya.

Perlu ngga Diksi yang Indah, Yang menghanyutkan?

Kata-kata indah bagi Dee lebih banyak mengungkapkan diri penulis daripada isi cerita. Ia lebih senang saat membaca sebuah karya, ia ditenggelamkan dalam cerita daripada ia tahu kepiawaian penulis. Buat Dee lebih sulit menjadi penulis yang tidak kelihatan di buku, yang begitu pembaca membaca novel, langsung engage dengan ceritanya. Bukan “ Gila nih kata2nya bagus banget nih buat di instagaram” hahaha.

Ibaratnya bermain Puppet on the string ( bener ngga ya ini?). Permainan itu menarik karena dalangnya ngga kelihatan. Kita cuma melihat yang terjadi pada boneka-bonekanya. Begitu tangan dalangnya muncul imajinasi kita buyar. Begitu jugalah penulis.

Bagaimana Fiksi Yang Bagus itu ?

Fiksi yang bagus adalah fiksi yang menggabungkan imajinasi dan realitas. Fiksi yang bagus  adalah fiksi yang seimbang antara yang bokis dengan yang nyata, Kita tahu ini fiksi tapi ada beberapa hal dalam fiksi itu yang kita ingin untuk menjadi real. Contohnya di novel Partikel, bukit jambul itu tidak real, tapi begitu ditubrukkan dengan hal yang real yaitu Kota Bogor, maka seolah-olah itu nyata.

Contoh lain adalah kopi tiwus di Filosofi Kopi. Kopi tiwus itu fiksi. Namun saat Kopi tiwus ditubrukkan dalam cerita dengan petani kopi, dengan espresso, dengan cafelatte, sesuatu yang memang ada, maka seolah-olah kopi tiwus itu menjadi sesuatu yang riil.  Dengan begitu cerita punya daya samar seolah-olah riil dengan mengkombinasikan antara imajinasi dan realitas.

Jadi tubrukkan imajinasi dengan hal yang riil.

Bagaimana membangun Karakter yang hidup?

Tipsnya, beri kebiasaan dalam tokoh kita agar manusiawi.

Contohnya seperti di  “Perahu Kertas” . tokoh Kugi punya kebiasaan menghanyutkan perahu kertas, suka kura-kura ninja, suka mendengarkan lagu-lagu eighties. Hal-hal seperti itu akan membuat tokoh riil. Karena kita sendiri juga seperti itu. Ini akan membuat tokoh hidup, dan membuat realitas dan imajinasi semakin padu.

Bagaimana mengolah humor supaya terlihat cerdas

Patokannya, pastikan saat kita menulis itu kita pun ikut tertawa. Sama halnya saat kita menulis hal yang sedih kita pun ikut nangis. Karena penulis itu modalnya satu yaitu conviction, yaitu keyakinan. Untuk menimbulkan conviction itulah diperlukan riset

Pentingnya Riset

Riset dibutuhkan agar penulis menjadi yakin tentang apa yang ditulisnya. Kalau penulis sudah yakin, maka pembaca pun bisa dibuatnya percaya, walaupun itu hanya fiksi belaka.

Riset itu ada beberapa jenis:
  • Riset Pustaka : melalui buku, literature, majalah, Koran
  • Internet : seperti  link video, foto, berita internet
  • Wawancara : dengan narasumber yang pernah datang ke satu tempat atau pernah mengalami suatu kejadian
  •  Datang langsung ke suatu tempat

Dimana-mana riset itu ya sama saja, seperti itu.  Yang membedakan adalah conviction penulis. Dee mulai menggunakan narasumber saat menulis “ Akar”. Sebelum-sebelumnya, seperti di KPBJ, ia sama tidak pakai riset-risetan, murni hanya berasal pemikirannya saja.  Ngga pakai riset saja sudah keren ya tulisannya, apalagi pakai riset.

Saat melakukan riset untuk “ Akar” di tahun 2001 , Dee melakukan wawancara dengan orang yang melakukan perjalanan yang sama dengan Bodhi. Guess what, siapa nama yang diwawancarainya?. Namanya Budi, hahahaha, ngakak saya dengernya. Ia mendengarkan cerita Budi, setelah selesai, sampai di rumah, barulah Dee sadar, ada kesalahan yang dibuatnya. Bahwa yang diambil Dee dari Budi adalah hanya cerita Budi , ia belum menjadi Budi.  Maka ia kembali lagi ke si Budi, dan melakukan wawancara dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.

“Bud disana itu kayak apa, pohonnya seperti apa, ada pohon pisang ngga?, tanahnya kamu lihat warna apa, Udara disana seperti apa lembab atau gimana, bikin cepat keringetan atau ngga?”

Pokoknya ia berusaha melihat dari matanya si Budi, menggunakan panca indera Budi. Walau itu semua sih tidak ditulis di novel. Oya, hasil riset itu paling hanya 10 persen saja yang masuk dalam cerita. Tapi 90 % nya lagi bukanlah sampah, itu akan menjadi modal untuk conviction si penulis,  membuat yakin pernah disana walau belum pernah kesana, karena kita sudah meminjam panca indera si narasumber.

Jadi,  gunakan panca indera.  Kalau bertanya ke narasumber tanya apa yang ia rasakan, tekstrurnya, baunya. Hal ini yang membuat cerita tampak hidup. Bukan semata-mata karena penulis jago mendiskrisikan tapi karena ia punya conviction .

Tentang Sudut pandang tokoh

Sudut pandang itu ada tiga jenis


1. Sudut pandang orang pertama : Aku , Saya

Ini yang paling gampang dan paling dekat, karena pembaca langsung menjadi aku, langsung merasakan menjadi si tokoh. Makanya tokoh Alfa itu terasa begitu dekat karena pakai sudut pandang aku, lain ceritanya kalau memakai sudut pandang lain.

2. Sudut pandang orang kedua : kamu

Biasanya ini untuk menulis surat

3. Sudut Pandang Orang Ketiga : Dia, Mereka

Sudut pandang orang ketiga ini terbagi dua lagi, ada yang terbatas dan ada yang tidak terbatas. Terbatas itu contohnya, kita mengikuti sudut pandang si Putri, tapi hanya sebatas itu. kita tidak bisa berbicara tentang pikirannya si Dewi, kecuali kita berpindah menjadi Dewi.  

Kalau tidak terbatas itu seperti Tuhan, ia bisa tahu pikiran orang.

Disini penulis harus hati-hati. Kadang di fiksi , penulis memakai sudut pandang orang ketiga terbatas tapi bisa tahu pikiran orang, kan jadi ngga match.

Setelah tahu dasar-dasarnya, nah baru kita masuk ke bagian intinya.

Sebuah novel itu terdiri dari 3 bagian besar

  1. Pembuka/setting/pengenalan tokoh
  2. Konflik
  3. Penyelesaian
Porporsinya itu setting, pengenalan tokoh, ngga harus panjang-panjang. Nah babak kedua, itu mulai terjadi konflik, jadi babak ini yang harus banyak ditulis, harus lebih gendut dibanding bagian lain, Bagian 2 ini, dimulai saat ia keluar dari zona nyamannya. 

Kalau di Gelombang, bagian dua ini dimulai ketika ia pergi ke Jakarta. Katalisatornya adalah saat ia bertengkar dengan Togu Urat.  Di bagian 2 ini, pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan. Setiap mau ketemu jawaban, ada halangan, mau ketemu lagi ada halangan. Intinya kita menanam pertanyaan, dan mengusahakan jawabannya. Namun dijawab salah, dijawab salah, dijawab benar eh ternyata ada sesuatu dibaliknya, begitu seterusnya, sampai pertanyaan itu beneran terjawab. Kalau sudah demikian lanjut ke bagian 3, penyelesaian. Makanya bagian 3 ini ngga usah panjang. Karena begitu tidak ada pertanyaan ya sudah tidak ada yang menarik, tinggal penyelesaian.


Bagaimana teknik menyusun cerita?

Teknik setiap orang itu berbeda-beda, ada yang buat outline, ada yang buat kerangka. Untuk menulis cerita dengan ratusan halaman, teknik menyusun cerita itu perlu dilakukan agar tidak kehabisan nafas di tengah jalan.

Cara paling sederhana adalah dengan menggunakan Timeline

Seperti kisah Bodhi pada Akar. Karena memang Bodhi itu hidupnya kronologis.1978 dia ngapain, 1990 dia ngapain, kapan dia harus sampai dimana, di tahun berapa ada kejadian apa. Ini namanya menyusun peristiwa atau kejadian.


Tapi, masalahnya setiap peristiwa tidak selalu mengandung story.  Tugas penulislah menemukan cerita itu.


Itu teknik sederhana untuk novel dengan materi yang tidak terlalu kompleks.

Ada cara lain, yaitu Mind Map

Mind map ini dibuat per tokoh.kayak dibawah ini.


Contohnya Firas. Dibuat perkantong-kantong. Kantong profesi, kantong karakter, kesukaan, konflik dengan siapa, apa obsesinya . Dari situ bisa bercabang lagi, missal obsesi Firas itu bukit jambul. Nah dari bukit jambul ada lagi yang bisa diceritain, begitu seterusnya. Kita akhirnya malah punya bahan yang begitu banyak. Mendadak dari yang tadinya kosong, jadi mempunyai begitu banyak hal yang mau diceritakan. Dan ini sebaiknya dimulai dari sebelum menulis. Kenapa?

Karena dalam menulis, kayak yang dibilang di  tadi , penulis  harus punya tujuan. Jadi misalnya kita ada di A mau menuju pulau B. Nah untuk menuju ke pulau B itu, ngga cukup dipikirkan di awang-awang, tapi harus dituliskan.

Untuk itu ada cara berikutnya yaitu teknik Ciprat Ciprat

Buatlah pulau-pulau kecil yang menjadi peristirahatan sebelum sampai B sehingga penyeberangan kita menjadi pendek-pendek.





Gimana kalau tidak runut ?

Ngga masalah, yang penting kita tidak berhenti. Jadi bisa saja, pulau yang ini udah terpikir yang ini belum, terus aja gitu, lama-lama cerita itu bakal tersambung dengan sendirinya.

Kalau Mentok?

Yang paling gampang untuk menggerakkan cerita adalah bukan karakter, bukan setting tapi mulailah dengan satuan terkecil yaitu adegan. Mulailah dengan adegan, karena adegan itu sesuatu yang dinamis. Dia bukan narasi. Narasi fungsinya memperlambat, sedangkan adegan/ dialog fungsinya mempercepat tempo.

Cerita yang asik adalah cerita yang mengatur antara narasi dan dialog, seperti kalau nyetir mobil, rem-gas-rem gas.
Jadi begitu mentok, kembali ke adegan, mentok kembali ke adegan. Jadi bayangkan misalnya tokoh A, langsung pikirkan apa adegannya. Jadi langsung punya pulau baru untuk mulai mengambil tenaga lagi. Yang penting cerita jangan berhenti, karena semakin lama kita berhenti, maka kecepatannya semakin turun semakin turun, makin susah untuk ngegas dan bergerak lagi.

Dee menyebut  teknik ini dengan “ ciprat ciprat”.

Ngga perlu urut, pokoknya mana yang terpikir tulis, terfikir tulis, cipratan-cipratan ini lama –lama akan membentuk pulau besar.

Teknik lain, Teknik Karton

Biar gampang, bisa kita contoh cara Dee ini, buat empat karton besar, yang mewakili tiap babak, tempel di dinding.



Sumber : Instagram Dewi Lestari

Post it –post it yang ditempel itu merupakan adegan-adegan. Adegan yang ditulis singkat-singkat saja, misalnya Elektra ketemu bodhi. Elektra nyetrum bodhi.  Dengan menggunakan psot it-post it , cerita yang tadinya berserakan , bisa kita susun sesuka hati.

Ngga perlu nunggu tamat ngisi kartonnya baru mulai nulis, tidak mengapa mulai saja menulis sambil menemukan adegan-adegan yang bisa mengisi kekosongan.

Hwaa, sampai disini gimana nih, asik banget yah cara Dewi Lestari ngasih pemahaman soal menulis. Tapi tunggu masih panjang lho ceritanya. nanti saya lanjutkan di tulisan berikutnya yah. Tentang ide awal lahirnya Supernova, siapa yang menginspirasi Dee dalam menulis. dsb dsb  Ini nulisnya nyicil xixixi.  Tungguin yah.

Tapi ada yang penting nih diinfoin. Setelah acara selesai, diumumkanlah pemenang live tweet yang mendapatkan hadiah lunch bareng Dee. And...... eng ing eng, pemenangnya adalah..... yup saya sendiri hahaha. senangnya ^_^

Sampai ketemu di tulisan selanjutnya yah. disini nih



Jumat, 20 Maret 2015

Saat si Buah Hati Tak Kunjung Hadir

Gara-gara baca postingan seorang blogger ( lupa namanya) jadi pengen cerita bagaimana perjuangan saya dan suami untuk bisa mendapatkan keturunan. Sebenarnya sih agak-agak sungkan mau cerita di blog ini, tapi siapa tahu ya bisa bermanfaat sama orang lain.

Kalau yang sudah sering singgah di mari pasti sudah tahu dong ya kalau anak saya Tara hadir di kehidupan kami setelah kami menikah 4.5 tahun lamanya. Kalau yang belum tau, mungkin bisa baca disin

Awalnya nikah itu, saya dan suami memang ngga ada niat macam-macamlah buat nunda-nunda punya bayi.  Tapi  apa dinyana, perut saya ngga kunjung ada isinya. Xixixi iya nih, istilah orang-orang setiap ketemu saya , “ Udah isi win… udah isi..”. Yang paling saya bales dengan senyum manis kalau pertama nanya, senyum masam kalau udah beberapa kali nanya, senyum kecut kalau nanyanya dibarengin judgement “ Makanya jangan ngejar karir terus, inget usia lho”. Syiaaaal emangnya dikira hamil itu kuasa guwe sama suami apah. Padahal kan mau hamil atau tidak seseorang itu hak preogeratif yang Kuasa yah, kayak yang pernah saya tulis disini.

Terkadang empet juga mendengar orang-orang nanya-nanya. Tapi positive thinking aja kalau mereka itu peduli. Benar atau tidaknya ya mereka lah yang tahu.

Saat bulan-bulan pertama tidak ada tanda-tanda kehamilan, saya sih masih fine-fine aja. Suami juga. Apalagi kami kan bukan yang dari pacaran lama-lama gitu nikahnya. Dikenalin teman, sebulan kemudian keluarganya datang, sebulan kemudian lamaran, tiga bulan kemudian kami nikah. Praktis proses dari perkenalan sampai di pelaminan hanya memakan waktu 6 bulan saja. Jadi, yaa belum hamilnya saya malah kami manfaatin buat penjajakan, jalan-jalan dan mesra-mesraan ala remaja masa kini, eeeaaa.

Tapi, begitu setahun, mens saya masih teratur juga, tidak pernah datang terlambat sekalipun, saya mulai resah. Tapi, masih agak tenang karena saya dan suami kan tinggal terpisah, mungkin karena itu penyebabnya. Mungkin juga karena kecapekan, karena saya bolak balik Tebing Tinggi- Kisaran ( jarak 2 jam ).

Namun untuk memastikan, saya tetap berkonsultasi ke dokter kandungan. Alhamdulillah, setelah pemeriksaan awal saya dinyatakan sehat-sehat saja, tidak ada masalah apapun. Tapi saya dikasih semacam vitamin untuk menambah kesuburan. Masuk tahun kedua, belum hamil juga, kami mulai panik. Kali ini kami serius mendatangi dokter kandungan yang rekomended di Medan.Yang kata orang-orang sudah berhasil membuat pasangan yang susah hamil menjadi hamil.

Saya diperiksa , mulai dari darah, USG, HCG, wah lupa saya lah macem-macem pemeriksaannya, hasilnya? lagi-lagi dokter mengatakan bahwa saya  normal dan sehat sentosa. Oleh dokter, suami saya disuruh ikut periksa. Awalnya yang diperiksa hanya saya sendiri. Untungnya… untungnya nih suami saya mau. Ini yang paling saya syukuri dari dia. Kebanyakan suami-suami itu gengsi untuk melakukan pemeriksaan saat istri tak kunjung hamil. Alhamdulillah, suami saya bukan termasuk di dalamnya. Saat saya ajak ikutan periksa suami oke oke saja. Suami dicek mulai dari sperma sampai cek fisik. Hasilnya? Ternyata kuantitas sel sprema suami saya kurang dari jumlah normal, haduh. Terus terang saat tahu hasilnya saya khawatir suami saya bakal down. Karena katanya kan kebanyakan laki-laki seperti itu. Dan parahnya, sang dokter langsung memvonis bahwa kami tidak bisa punya anak, dhueeeeng. Kebayang ngga gimana perasaan saya, terutama perasaan suami. Wajahnya langsung pucat. Wajah saya? Ya ngga usah ditanya lah, mata ini langsung berkaca-kaca, sedih banget. Oleh si dokter kami disarankan untuk mengikuti program bayi tabung atau inseminasi buatan.

Kami pulang dengan perasaan galau. Tapi, suami menguatkan saya. “ Ngga dek, mas yakin kita akan punya anak, percaya deh, banyak-banyak berdoa aja kita yah”. Nyesss, mendengar kata-katanya perasaan saya seperti disiram air dingin, adem.  Maka, saran si dokter pun kami abaikan saja. Kami pun menjalani hari seperti biasa. Hampir setahun lamanya kami istirahat dari kunjungan ke dokter.

Saat saya dimutasi ke Jakarta, kami dapat informasi dari kakak ipar bahwa di Jakarta ada dokter andrologi. Namanya dr Nukman, kami pun segera kosultasi kesana. Dokter andrologi itu adalah dokter khusus untuk system reproduksi laki-laki. Jadi, kalau untuk wanita namanya dokter kandungan, kalau untuk pria namanya dokter andrologi. Setelah konsultasi dan dicek ini itu,tapi khusus suami saja, saya tidak diperiksa lagi. Kesimpulannya kuantitas sel sperma suami kurang. Suami dikasih obat-obatan, yang baunya ampuun deh. Oleh dokter suami saya juga disuruh banyak-banyak makan kerang dan wortel. Makanan yang dihindari itu tauge dan pisang. Ih, saya baru tahu disitu lho, ternyata tauge itu baik untuk perempuan, tapi untuk lelaki belum tentu. Saat itu, usia pernikahan kami memasuki tahun ke 4. Telinga sudah saya tulikan atas pertanyaan orang.


Saat itu di kantor saya, ada beberapa teman yang bernasib serupa, hanya bilangan tahunnya rata-rata 1-2 tahun menikah belum hamil juga. Tiba-tiba terdengar kabar teman sebelah meja kerja saya mas Gunariyadi, istrinya hamil. Wah saya senang sekali. Seperti kebanyakan pasangan suami istri yang senasib, saya pun langsung menanyakan, dia berobat dimana, apa resepnya dan tetek bengek lainnya sampai istrinya bisa hamil. Bukannya menjawab, ia malah cerita.

Bahwa dulu, saat ia menikah dengan istrinya, ia juga melalui proses yang namanya taaruf alias ga pake pacar-pacaran. Tapi karena di desanya belum terlalu familiar dengan orang yang menikah tanpa pacaran, ada juga desas-desus tetangga , curiga kalau mereka nikah karena kecelakaan ( ya elaaa, plis deh tetangga). Makanya istrinya takut dengan prasangka itu, akhirnya sempat terucap dari mulut istrinya bahwa kalau bisa mereka pacaran dulu setelah nikah, jangan dikasih anak dulu. Ucapannya itu ternyata dikabulkan Allah, bablas sampai dua tahun tak ada tanda-tanda kehamilan. Dan,kira-kira dua bulan sebelum hamil ini, mereka berdua puasa. Ngga tau nama puasanya apa, tapi niatnya adalah untuk membatalkan segala ucapan atau tindakan yang menghalangi hadirnya keturunan di keluarga mereka. Tak lama berselang istrinya pun hamil, Alhamdulillah.

Mendengar ceritanya, saya tidak langsung percaya. Saat mas Gun cerita, yang dengerin ada juga teman kami yang sudah 2 tahun belum hamil juga. Berbeda dengan saya, ia langsung mempraktekan apa yang dikatakan mas Gun. Kira-kira dua bulan setelah ia melakukan apa yang disarankan mas Gun, ia pun hamil, huwaaaa saya surprised sekali.

Akhirnya saya cerita sama suami. Saya pun menyuruh suami untuk puasa. Karena setelah saya ingat-ingat, memang saya pernah terucap sesuatu yang kurang pantas saat lagi bertengkar sama suami. Biasalah namanya lagi esmosi. Saya puasa di Jakarta, suami saya puasa di Medan. Niatnya sama, mohon ampun dan mohon agar apapun yang telah saya katakan atau tindakan saya yang menghalangi diberiNya kami keturunan dimaafkan. Begitulah intinya.

Selain itu, saya pernah dinasehatin oleh kakak ipar, bahwa saya jangan terlalu focus untuk keinginan pribadi. Tapi doakanlah orang-orang yang memiliki keinginan untuk memiliki anak juga. Karena, saat kita mendoakan hal baik untuk orang lain, maka malaikat akan mengaminkan doa kita.

Begitulah, di bulan September 2012, 4 tahun 5 bulan pernikahan kami, bersamaan dengan SK mutasi saya ke Medan, dua buah garis merah tertera jelas di test pack yang saya pakai. Setelah perjuangan panjang, ikhtiar ke dokter, doa yang tak pernah putus dan berserah diri sepenuhnya kepadaNya. Alhamdulillah … Alhamdulillah…

Jadi, untuk pasangan di luar sana yang masih terus menunggu kehadiran bauh hati tercinta, saya sarankan melakukan hal-hal ini :

  1. Segera konsultasi ke dokter, SUAMI ISTRI, jagan cuma salah satu saja. Jika dketahui ternyata suami yang bermasalah, segera beralih ke dokter andrologi, biar penanganannya lebih tepat.
  2. Namun sebelum memutuskan ke dokter siapin mental dulu untuk kemungkinan terburuk. Bagi saya ke dokter itu bentuk ikhtiar. Tapi mungkin ada juga yang berpendapat lain. Yang pasti niatin ke dokter sebagai usaha bukan harapan untuk hamil,berharapnya tetap kepada yang kuasa.
  3. Banyak banyak Berdoa pada Yang maha Kuasa, mohon ampun dan ngga ada salahnya coba puasa sunah seperti yang saya lakukan, siapa tahu memang ada kata-kata atau perbuatan kita yang menghalangi.
  4. Berserah diri seutuhnya, ikhlas dan jangan terlalu terbebani, biar pikiran tenang
  5. Doakan orang lain agar apa yang menjadi keinginannya terkabul. “ Barang siapa memudahkan urusan orang lain, maka akan Kumudahkan urusannya”. Allah tidak pernah ingkar janji.
Setelah saya hamil, banyak teman yang langsung bertanya kemana saya berobat, apa yang saya makan, dsb dsb nya. Saya ceritakan apa adanya, termasuk soal puasa itu. Seorang teman mengikuti apa yang saya lakukan, Alhamdulillah dua  bulan kemudian ia pun hamil. Jadi kami hamilnya barengan, usia kandungan saya 5 bulan, ia baru hamil muda. Wallahualam  Allah maha memiliki rahasia. Ia memberi rezeki pada siapa saja yang dikehendakinya, jangan pernah berputus asa Saudariku.

Semoga bermanfaat