Selasa, 13 Januari 2015

My Favorite Blogs

Biasanya hal yang saya lakukan sambil menyusui Tara di malam hari adalah membaca. Tapi karena Tara suka jumpalitan sambil menyusu jadi saya ngga bisa leluasa membaca buku. Untungnya, masih ada hape yang bisa dibaca xixixixi. Setelah ngintip medsos, trus saya lanjutkan blog walking ke tulisan emak-emak kece yang saya tahu. Saya suka membaca tulisan-tulisan mereka karena dari tulisan mereka saya banyak belajar bagaimana menulis yang baik dan dapet tambahan ilmu serta informasi berharga.

Ini nih, beberapa blog yang menjadi favorit saya :


Blognya mba Leyla Hana. Kebanyakan berisi tentang cerita-cerita ketiga anaknya yang lucu-lucu. Mba Ela adalah salah satu penulis yang inspiratif. Gimana ngga?, punya 3 bocah yang lagi aktif-aktifnya, tapi masih bisa aktif menulis dan terus menerbitkan buku itu, menurut saya sesuatu yang luar biasa yang bisa dilakukan seorang perempuan. Kalau sekedar nulis blog curcolan kayak punya saya ini mah biasa yah, tapi kalau bisa ngasuh tiga anak, ikut lomba blog, update blog selalu sekaligus nerbitkan novel teruuuus, bayangkan bagaimana managemen waktu dan energy beliau. 

Selain aktif nulis mba Ela juga mendirikan group menulis di FB bernama Be A Writer. Duh, udah pinter, ngga pelit lagi bagi-bagi ilmu. Selain punya blog di atas, mba Ela juga punya blog lain disini . Masih ngeluh rempong ngurus anak?, malu ah sama ibu satu ini.


Blogger yang satu ini sih kayaknya udah famous banget lah ya. Pernah saat saya hadir di acara press konference salah satu brand di Medan, saya memperkenalkan diri sebagai blogger dari komunitas KEB ( Kumpulan Emak Blogger), beberapa ada yang bertanya-tanya tentang KEB. Begitu saya nyebut nama emak yang satu ini mereka langsung ber oooooh panjang. 

Yang saya suka dari blognya mba Haya, karena tulisannya itu sederhana, to the point tapi enak banget buat dikonsumsi. Apalagi beliau adalah seorang editor, jadi sekalian belajar EYD yang baik dan benar. Trus di blognya juga banyak info-info bagaimana mengirim naskah ke media-media disertai contoh tulisan beliau yag udah malang melintang di Kompas, Republika, Analisa, etc.. etc.. Pokoknya tiap lagi malas nulis, tinggal klik blog si emak, langsung dapat semangat lagi.


Kalau mommy yang satu ini, pasti dah tahu lah ya. Selebnya facebook gitu lho. Cara menulisnya itu lho yang bikin ketagihan, dan ngga pengen ketinggalan satu tulisan pun. Khas mba jihan, selalu menulis dimulai dari buku, film, biografi, jadi ngga perlu baca buku atau filmnya malah udah dapat info aja dari beliau. Dan di akhir tulisan selalu ditutup dengan quote paten. Tulisan beliau ini yang selalu up to date dengan berita-berita masa kini membuat kalau ada isu baru langsung deh bertanya-tanya kapan nih si mba poni ini bahas di blog kecenya.


Blogger yang hobinya mendaki gunung ini kalau nulis di blog bisa kumplit-kumplit. Sebenarnya saya bukan jenis orang yang tertarik dengan wisata gunung, apalagi daki mendaki, ngga guweh banget. Tapi saya suka mengunjungi blog mba lina soalnya catatan perjalanan beliau ini komprehensif. Mulai dari cara ke gunung itu, naik apa, gimana suasananya, berapa biayanya dan dilengkapi dengan percakapan-percakapan dengan Chila putrinya mba Lina ini. Jadi kalau mau referensi soal gunung dan daki mendaki, sila tengok-tengok blognya deh. banyak informasi menarik.

Emak yang satu ini rajin banget silaturahim ke blog-blog orang, cerminan kepribadiannya yang hangat dan mudah bergaul sepertinya ( saya ngga bisa mastiin karena belum pernah ketemu langsung ). Gara-gara suka baca nama blog beliau dimana-mana plus sering banget menang lomba blog, jadi suka ngintipin blognya. Saya suka blog emak ini karena semuanya ada disitu xixixi alias campur-campur, mau cerita ngasuh anak ada, mau cerita keuangan ada, tentang kesehatan ada juga, kuliner ada, cerpen ada ,review ada, semuanya ada. Dan yang pasti karena si emak ini rajin banget ikut lomba nulis jadi pengen curi-curi ilmu darinya, hahahah ketauan deh.


Pertama tahu blog mak dame ini waktu ngetik kata" Matauli" di google, nama sekolah saya waktu SMA. Eh nyasar ke blog ini dan pas baca baru nyadar ternyata beliau ini adik kelas jaman SMA, hahahaha ketemu deh dan langsung jadi pelanggan tetap pembaca blognya. Saya suka membaca tentang kesehatan, soalnya banyak tentang macem-macem mengatasi masalah penyakit pada anak, maklum mommy newbie jadi harus banyak-banyak baca yang model beginian.


Nah kalau blogger yang satu ini bukan emak-emak, tapi bapak-bapak berpeci. Suka dengan tulisan-tulisan beliau yang bikin hati adem tentrem. ya iyalah, ustadz gitu lho. Biasanya tulisannya berupa penjabaran dari hadits-hadits atau dari al Quran, Suka ngingetin kita-kita ini yang suka sibuk sendiri dengan dunianya. Makasi ya ustadz untuk tulisan tulisannya yang suka bikin mendadak bisu xixixi.


Blog mas-mas berikutnya yang sayang sekali kalau kalian ngga pernah baca adalah blognya penulis ini. Suka geleng-geleng sendiri dengan sudut pandang dan cara berfikirnya. Penulis yang satu ini smart banget lho, dan kalau membaca tulisan-tulisannya yang biasanya mencantumkan buku-buku yang pernah dibacanya, sumpeh deh ntu buku-buku berat yang kayaknya cuma buat bantal bobo bagi saya hahaha. 

Oya , baru-baru ini ada tulisannya yang sangat menarik disini. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan mengubah hidupmu. Saya berencana, kalau lagi ngga punya ide nulis, mau menjawab satu-satu tuh pertanyaan beliau. Coba deh kalian jawab pertanyaan-pertanyaannya, satu pertanyaan bisa jadi satu postingan lho.


Kalau seorang emak buat blog untuk mendokumentasikan cerita-cerita kepada anaknya sih udah banyak ya, tapi blog  yang satu ini berisi petatah petitih seorang bapak kepada anak laki-lakinya. Tulisan beliau ini sungguh menginspirasi. Kalau malas baca satu-satu postingannya bisa langsung baca di bukunya lho " Rivers Note". Setiap habis baca blog beliau langsung deh pengen nulis hal yang serupa untuk Tara, tapi biasanya jatuhnya kok beda yah, ngga seasik tulisan bang Ochan ini hahaha. Ya udah lah memang beda lah ya style penulis beneran sama penulis wanna be.

Nah itu 10 blog yang paling sering saya kunjungi. Banyak blog-blog sobat blogger lain yang seru-seru, lain kali ah saya bakal tulis.  Tapi, walau sering intip-intip, saya jarang banget ninggalin jejak huhuhu maafin saya yah. Bukan karena malas tapi karena saya baca juga disempet-sempetin diantara waktu Tara melek ke bobo pakai hape meneh. Dan saya ngga gitu gape nulis pakai layar sentuh, suka typo sana typo sini. Jadi buat yang suka bewe ke blog saya ini, maaf ken saya yah #sungkem dulu. 

Kalau kalian, punya blog favorit ngga?, sharing dong sama kita-kita ;)



Kado Terindah Dalam Hidupku

Tahu ngga, waktu kecil  saya punya cita-cita yang lain dari yang lain. Sebelum saya mengerti kalau ada cita-cita yang disebut dokter, pilot, presiden dan lain-lain itu, saya punya satu cita-cita mulia, yaitu Ingin dapat piala biar bisa dipajang di lemari rumah dan membuat ibu saya bangga hahaha. Mulia banget kan.

Makanya kalau ada lomba-lomba tujuh belasan, saya walau malu-malu kucing tapi pasti ikutan satu dua perlombaannya. Entah itu makan kerupuk, lomba lari atau balap karung. Tujuannya cuma satu, pengen juara, dan dapet piala biar cita-cita mulia di atas bisa terwujud. Tapi ternyata, tak satu pun lomba tujuh belasan pernah saya menangkan , nasiblah punya postur imut-imut. Ikut lomba makan kerupuk kalah rakus, lomba lari kalah cepat, balap karung kalah gesit.


Sadar diri ngga bisa membanggakan ortu dari cabang olahraga dan permainan, saya cari cara lain, dengan berusaha jadi juara di kelas. Syukurnya untuk yang satu ini, sejak jaman SD sampai SMA, minimal bisa lah masuk-masuk juara. Tapii sayangnya yang namanya juara kelas itu ngga pernah dapet piala. Hadiahnya kalau ngga buku tulis, pensil, crayon, paling banter tas sekolah. Walau demikian, saya tahu, ibu saya senang sekali melihat rapor saya.

Tapi, tetep cita-cita saya untuk memajang piala di lemari rumah belum kesampaian. Kelas 4 SD saya ikut sanggar tari. Ibu saya yang daftarin, soalnya kata ibu saya memiliki bakat disitu. Senengnya bukan kepalang, karena selain saya memang suka menari, saya pun punya kesempatan buat ikutan berbagai lomba dan tampil sana sini. Beberapa kali ikut lomba, kadang menang kadang ngga. Ngga masalah, yang penting saya senang ibu senang.  Sekalinya menang, yang nyimpen piala malah pelatihnya, huhuhu.

Masih belum putus asa, saya ikutan lomba menggambar. Walau ngga bagus-bagus amat, tapi saya lumayan juga kalau disuruh melukis gunung, pohon beserta padi di sawah. Dan sayangnya saya ngga pernah menang, Aduuuh malang nian nasibku.

Tapi ya gitu, karena memang pada dasarnya saya punya jiwa juang yang tinggi, mau kalah berkali-kali juga ngga pernah kapok, kalau ada kesempatan berkompetisi ya mau-mau aja ikutan. Hanya saja, semakin kesini, hadiah perlombaan kebanyakan sudah diganti dengan bentuk lain, tidak melulu berupa piala.

Detik beranjak, bulan berganti, tahun berlalu. Impian itu tetap ada.

Dua tahun lalu, saya membaca sebuah lomba jurnalistik yang diselenggarakan sebuah brand air mineral ternama. Tanpa ragu saya mengikutinya. Sebuah tulisan dari hati saya kirimkan ke panitia. Harapan untuk menang tentu ada, namun tidak berharap terlalu muluk. Berbulan-bulan pengumuman lomba tak jua tiba. Saya pun mulai melupakannya. Sampai di suatu siang, saat sedang sibuk di kantor sebuah telepon saya terima.

" Halo Selamat siang, Dengan mba Windi Widiastuti?"
" Iya Benar"
" Saya dari Aqua Danone mba. Berhubungan dengan event AJA , kami ingin mengundang dan menanyakan kesediaan mba Windi untuk datang di acara malam penganugerahan Jurnalistik Aqua di bala bla bla....... Hari Kamis Tgl 18 April"

Hwaa, senang bukan kepalang mendengarnya. Walau belum dipastikan sebagai pemenang, namun sudah membuat hati berbunga-bunga. Namun karena pada saat itu, kondisi saya sedang hamil tua, dilema sempat menghampiri. Antara mupeng pengen eksis di acara itu tapi khawatir dengan keselamatan janin.

Singkat cerita, setelah konfirm ke panitia, akhirnya kehadiran saya bisa diwakili oleh ibu saya. Bukan main senangnya beliau waktu saya minta kesediaannya untuk berangkat ke Jakarta.

Saat tiba sesi pengumuman pemenang lomba, ternyata nama saya keluar sebagai salah satu pemenangnya. Dengan gegap gempita diiringi riuh tepuk tangan penonton, ibu  melangkah ke panggung acara. Sebuah piagam, plakat dan uang tunai diterima ibu saat itu. Acara tersebut diliput media dan disiarkan di televisi.  Ibu saya juga berkesempatan berbincang dan berfoto bersama menteri lingkungan hidup, sesuatu yang merupakan hal istimewa bagi ibu saya yang notabene seorang guru.

Itu emak saya yang di Tengah
Bersama Menteri Lingkungan Hidup ( Kiri) dan yang punya Aqua ( kanan)

Saat menonton acara tersebut di you tube saya tak kuasa menahan haru. Melihat binar bahagia di mata ibu, sesuatu yang selalu saya impikan dari dulu, akhirnya tercapai juga. Dan walau sebuah piala atau piagam tak bisa menggantikan senyum manis ibu, tapi melihat piagam tersebut kini berada di lemari rumah kami, rasanya seperti memperoleh kado terindah yang saya impikan. Bukan piagam tersebut, atau uang tunai yang saya peroleh, atau kepuasan bisa menjadi seorang pemenang yang mejadikannya indah. Tapi bisa membuat ibu saya tampil di muka umum karena prestasi yang saya lakukan, memberi rasa bangga di hatinya itulah yang membuat penghargaan Jurnalistik Aqua kemarin menjadi kado terindah untuk saya dan mungkin untuk ibu saya. Sampai hampir sebulan kemudian, tak henti ibu menceritakan hal ini kepada teman-temannya. Sungguh merupakan kebahagiaan seorang anak bisa membuat perempuan yang melahirkannya ke dunia ini tertawa senang bukan karena suatu materi.

Karena dihadiri secara langsung, maka hadiah-hadiah yang saya peroleh bisa langsung dibawa ibu pulang tanpa melalui jasa pengiriman. Syukurlah jadi bisa langsung mencairkan ceknya hahaha. Tapi sebenarnya, kalau pun harus dikirim via jasa pengiriman, saya ngga keberatan kok, apalagi kalau pakai JNE yang selama ini hampir tidak pernah mengecewakan saya.






Hadiah-hadiah yang membuat Tambah Indah :)

Anyway, semoga di masa mendatang, saya masih diberi kesempatan memperoleh kado-kado indah di hidup saya, yang tidak hanya terasa indah untuk diri saya tapi juga indah untuk orang-orang yang saya sayangi.

Nah, kalau kalian, kado terindah apa yang pernah kalian peroleh dalam hidup. Sharing dong.






Senin, 12 Januari 2015

Kebiasaan Yang Ingin Ditinggalkan di Tahun 2015

Eh saya punya tips paling jitu untuk nyari ide nulis. Sering-sering aja dengerin Delta FM di pagi hari. Biasanya mereka membahas satu hal yang berbeda-beda setiap mengudara. Nah tadi pagi tuh, temanya tentang kebiasan jelek apa di tahun 2014 lalu yang ingin kita ubah di tahun ini.

Mikir dulu ah, apa ya kira-kira. Kalau saya sih, punya satu kebiasaan yang mau saya ubah, yaitu kebiasaan TRSO, xixixi alias ntra besok.. ntar besok alias menunda-nunda pekerjaan. Bukan soal pekerjaan di kantor sih, tapi paling sering menunda keinginan menulis. Jadi misalnya, lagi di jalan kepikiran sesuatu yang pengen ditulis, gitu nyampe rumah, " Ah ntar ah main dulu sama Tara, kalo dia udah tidur baru nulis". Begitu Tara tidur, " Ah main game bentar dulu, dua seri aja", abis main game " Intip path dulu lah, baca-baca news feed di FB sekalian", eh gitu lihat jam udah jam 11 malam, ngantuk, bobok deh. Laaah kapan nulisnya.

Pokoknya di tahun ini KUDU berubah. Ngga boleh TARSO tarso lagi.

Kalau kalian, apa nih kebiasaan jelek yang mau dihilangkan?

Jumat, 09 Januari 2015

Kado Yang Aku Mau



Dari jaman kuliahan sampai sekarang, sukaaa banget sama empat emak kece di atas. Heran deh, lihat serial-serial Hollywood itu kok bisa yah bikin karakter-karakter yang menarik, yang berbeda-beda tapi ngga bikin kita membenci salah satunya. Bree yang perfeksionis, Susan yang ceroboh, Lynette yang keras kepala, bahkan Garielle yang gila belanja dan matre malah membuat jalan cerita makin asik untuk diikuti, Jadi semuanya fair gitu, punya sisi baik dan sisi buruk, punya alasan di balik kisah masing-masing, keren lah. Beda banget dengan sinetron kita, karakternya pasti yang satu baiiiik baget sampe cenderung bego dan bikin pengen garuk-garuk lantai sangking gemesnya kita, dan yang lain pasti juahat banget sampe buat para ibu-ibu pengen ngejambak dan ngelemparin beliau kalau ketemu di dunia nyata.


Dari keempat karakter emak-emak yang putus asa itu, kayaknya saya paling mirip dengan Lynette, xixixi terkadang sempat mikir, ya ampuuun si Lynette ini ngeselin banget sih, dan langsung nyadar, upps kayaknya guweh juga gitu deh. Lynette tuh selalu menganggap pikirannya yang benar, dan selalu berusaha menghandle semuanya di bawah kendali dia, seolah-olah kalau ngga ada dia semua berantakan. " She needs to be needed" kata Tom suaminya. Duileeeee itu... itu.... guweh banget hahahaha, makanya sama temen-temen kantor yang ngerti sifat saya yang satu ini, suka dimanfaatin, semua kerjaan yang berat-berat dikasihin ke saya dengan tambahan kata-kata manis " Kak, ngga bisa kami ngerjainnya, cuma kakak la yang bisa ini ", and tanpa sadar langsung saya giling tuh kerjaan, hahaha gw bego atau apa yah, capee deh.

Dan yang paling saya suka dari serial emak keceh ini, ceritanya itu real, bisa terjadi di sekitar kita, bisa saja terjadi pada diri kita, dan sepanjang cerita bertabur quote-quote keren. Biasanya dibuka di awal cerita, kemudian ditutup juga di akhir episode. Kayaknya si Marc Cherry itu punya kamus kumpulan kalimat keren apa gimana gitu, soalnya susunan kalimat para pemain itu nendang banget.

" Oh my God Susan, Not everything is about You ", kata Bree kesal. Tsaaah, sadar ngga sih kita tuh sering banget ngerasa apa-apa itu is about me, dikit-dikit sensi, pundungan, marah dicuekin, padahal ya namanya orang mah punya masalah masing-masing.

" Good Friend will gives what is asked her friend, but Great friend always understanding what her friend's need", ah saya lupa tepatnya gimana, tapi kira-kira artinya teman baik itu bakal ngasih apapun yang diminta temannya, sedangkan teman yang hebat selalu mengerti apa yang paling dibutuhkan temannya. Gitu deh, itu kejadiannya pas si Gaby lagi bangkrut, dan kamar mandinya rusak. Karena ngga punya duit buat memperbaiki saluran airnya, jadi tiap hari Gaby numpang-numpang kamar mandi Bree, tapi karena gengsi ngakunya pengen liat-liat dekorasi kamar mandinya. Nah sama si Bree, Gaby dikasih pinjaman duit yang seharusnya untuk daftar di club Golf bergengsi di kotanya. Ih dalem banget kan maknanya.

Pokoknya, dari season 1 sampai season 8 saya ngga pernah absen ngikutin serial ini.Namun, karena jam tayangnya ngga pernah pasti, dulu seinget saya pernah tayang tengah malam di Indosiar apa RCTI yah, trus tiba-tiba berhenti ngga pernah tayang lagi. Saya lanjut nontonnya di starworld, trus berhenti tayang lagi, sekarang-sekarang adanya di Be TV, kadang ada juga di KIX, ah bingung saya.

Sebagai orang Capricorn yang ngga bisa tahan sama rasa penasaran, daripada nunggu-nunggu ngga jelas nonton di tivi mending beli DVDnya ajah, ngga pake iklan lagi nontonnya. Maka mulailah saya koleksi mulai dari season 1 sampai dengan season 8, harus sabar cuy, nunggu satu season kelar baru bisa dapet DVD komplitnya.

Waktu masih di Tebing Tinggi, saya punya langganan mas-mas DVD yang biasanya nyariin tuh serial, termasuk serial Friends, Gilmore Girls, Heroes, sampe dorama Korea yang lagi ngehits. Pindah ke Jakarta, makin gampang banget mau dapetin DVD nya, tinggal ke Ambasador ajah, semua pilihan komplit plit.

Kalau lagi ngalamin yang namanya writer's block, saya suka kembali memutar salah satu CD Des house ini, biasanya dari salah satu kalimat atau kejadian di ceritanya bisa menjadi inspirasi untuk nulis. Makanya sukaaaa banget deh sama si emak-emak cantik ini.

Tapi.... dari semua season, ada satu season yang saya kelewatan, yaitu season 7. Soalnya DVD yang saya beli ngga bisa diputar khusus untuk season 7 ini saja. Makanya pas nonton season 8 berasa ada cerita yang lompat gitu. Kemarin udah nyari-nyari di Medan, tapi belum nemu penjual DVD yang kualitas gambarnya sebagus yang biasa saya beli di Ambas.

Nah berhubung tanggal 2 Januari kemarin saya ulang tahun, jadi ngarep banget deh ada yang mau ngasih saya kado DVD Desperate Housewive Season 7. Pengennya sih nitip dibeliin sama temen di Jakarta, tapi ya gitu deh, saya aja dulu waktu di Jakarta males banget kemana-mana kalau ngga ada kepentingan. So agak segan aja mau nitip-nitip sama temen.

Trus..... siapa tahu, pembaca blog ini ada yang lagi jalan-jalan ke Ambassador, iseng-iseng nemu DVD ini dan mau ngadoin buat saya hahahaha, siapa tahu yaaaa siapa tahu, namanya rezeki kan ngga bisa ditebak datangnya darimana.




Friends, ini nih kado yang paling aku mauin di tahun 2015, soalnya setiap nonton serial ini bawaan hati langsung senang, terhibur, dapat inspirasi menulis, sekalian cuci mata lihat dandanan Gaby yang cantik, gemes lihat kecerobohan Susan, belajar kesetiakawanan dari Bree, sampai bersemangat melihat energy Lynete dalam menghadapi hidup. Aaaaah, pengen banget deh punya Season 7 nya, biar komplit ceritanya.

Ntar kalo ada yang mau ngadoin saya, pan bisa dikirim ke Medan pakai jasa pengiriman JNE, cepat, aman dan ngga mahal. Ngirimnya ke Kanwil BRI Medan Jl Putri Hijau No.2 Medan ya guys, wkwkwkwkwk yakin banget ada yang mau ngirimin. 

Oya, betewe sekalian nih mau ngucapin makasih ya buat para sahabat yang sudah mendoakan kebaikan-kebaikan di hari ultah saya kemarin, semoga diijabah Allah SWT, Aamiin ya rabbal alamin.



Nah, kalau kamu, apa nih kado yang paling kamu mau di tahun ini, sharing yuks

Rabu, 07 Januari 2015

Detik Tidak Pernah Melangkah Mundur

Detik tidak pernah melangkah mundur
Dan hari akan selalu berganti
Namun pagi selalu menawarkan cerita baru

Eeeeaaaa. Xixixi keliatan banget yah saya ngga bisa move on dari film paling ngehits di jaman masih muda dulu. 2014 telah berakhir, dan seperti puisi di atas, detik tak pernah melangkah mundur, dan 2014 pun berlalulah dari pandangan mata. Membuka mata di pagi ini, mentari 2015 menyambut, membuka harapan baru kembali.

Tahun 2014 kemarin begitu banyak hal yang terjadi di negara ini. Dari bencana alam, kecelakaan pesawat, pemilihan presiden, pemilu, BBM naik, kasus Dinda, Florence, Pernikahan Raffi-Ahmad, Maju-Mundur Syahrini, Live kelahiran Ashanti-Anang, sampai pembullyuan Mulan jameela yang kayaknya abadi sepanjang tahun.

Sebagai satu titik noktah dari banyaknya penduduk di dunia ini, dimanakah peran kita di tahun 2014?

Apakah kita sudah menjadi pemeran utama di panggung sandiwara ini atau cuma cukup menjadi figuran bahkan hanya penonton?

Sejujurnya tahun 2014 ini saya merasa bukan tahunnya saya, dalam arti tidak banyak hal berarti yang saya lakukan untuk orang lain. Kebanyakan hanya berkutat di kehidupan pribadi dan keluarga. Sepertinya ghirah untuk aktualisasi diri, unjuk gigi, dan tampil di depan umum agak minim saya lakukan.

Cara paling gampang mengetahuinya? Lihat saja dari postingan di sosial media kita. Atau lihat postingan di blog ini. Sepi banget dari hal-hal yang membawa manfaat untuk orang lain. 

Melongok ke facebook, isinya setengah foto-foto Tara dan selfie-selfie ngga jelas. Sebagian lagi nyinyiran soal pilpres, dan sebagian yang lain nyinyirin berita yang membuat orang salah faham dan sempat berujung blokir dan unfriend, tsaaaah.

Bertandang ke blog ini pun, sebelas dua belas lah. Postingan hanya ikut beberapa lomba, dan yang lain cerita menye-menye ngga guna.

Ngga ngerti juga sih, sepertinya saya dalam fase " selalu mencari-cari alasan" untuk setiap hal yang di luar kendali. Namun saya akui, saya menjadi begitu bebas dalam mengemukakan pendapat, bebas dari pencitraan lah. Ada yang suka, banyak yang males. Yah begitulah hidup, selalu ada yang tidak pas, karena yang selalu pas hanya Pertamina pasti pas.

Anyway, apapun yang terjadi, di tahun ini saya merasakan kebahagiaan berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Semua berjalan sesuai rencana, selalu sehat wal afiat, bisa melihat Tara tumbuh dari hari ke hari, merupakan anugerah yang sangat saya syukuri. Mungkin tak banyak prestasi dalam hal duniawi saya raih, namun tahun ini merupakan tahun kemapanan bagi saya dan keluarga, baik dari jiwa, raga, ekonomi, tempat tinggal yang ternyata semuanya berawal dari kehadiran seorang anak.

Dari segi pekerjaan saya juga cukup puas dengan apa yang saya peroleh. Sepertinya apa yang saya lakukan di kantor memuaskan bagi saya, dalam arti sampai saat ini tidak ada komplain yang berarti dari atasan atas kinerja saya. Namun untuk lebih pastinya, mari kita lihat nanti saat penilaian kinerja, berapakan nilai saya di mata manajemen ?.

Nah, di tahun 2015 ini, saya punya 2 resolusi yang saya pengen banget menepatinya


1. Lebih Ikhlas Lebih ikhlas

Ini berkaitan dengan pekerjaan. Selama ini saya merasa di kantor itu, saya diberi pekerjaan yang lebih banyak dibanding rekan kerja lain. Pokoknya hal-hal penting, yang  berat, yang butuh effort lebih dikasih ke saya, sementara teman saya dengan jabatan yang sama dengan saya, tidak. Kemarin-kemarin sih saya suka ngeluh, ngerasa ngga adil. Walau saya bersyukur , berarti saya lebih dipercaya, namun sebagai manusia biasa terselip juga rasa ngga terima, " Lah gaji sama, kok gw harus mikir lebih berat, enak aja dia ".

Tahun 2015 ini saya mau berubah. Dulu-dulu juga saya ngga pernah itung-itungan kerja, kenapa sekarang harus pakai berhitung?. Sudahlah, saya yakin apa yang kita tanam itu yang kita tuai. Maka, mulai detik ini saya ngga mau mikirin siapa lebih banyak dikasih kerjaan, atau siapa lebih santai, pokoknya saya niatin kerja itu ibadah, bukan tergantung penilaian manusia. Lebih ikhlas lagi lebih ikhlas lagi.


2. Mengurangi aktifitas di sosial Media

Kemarin saya dapat link video gitu dari seorang teman, yang isinya begitu menyentak saya, begitu dahsyatnya sosial media bisa menjauhkan kita dari kehidupan nyata, dari orang-orang sekitar. Saya juga menyadari, media sosial yang saya ikuti, paling aktif sih di facebook, sedikit banyak telah membuat saya sedikit sok sebagai manusia, dalam arti terkadang suka pamer ngga penting, kayak pamer-pamer kelucuan anak saya, ngeshare-ngeshare foto Tara. Padahal ada beberapa teman facebook saya yang mungkin belum memiliki anak, dan siapa tau mereka tersakiti dengan postingan-postingan saya. Soalnya dulu waktu belum punya anak juga saya suka sensi kalo ngeliat temen yang hobi posting foto anaknya. Laah sekarang saya malah kayak gitu.

Jadi, untuk postingan-postingan yang menyakitkan hati siapa saja, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya yaaaaaa friend.

Ditambah lagi , waktu angot-angotnya pilpres, bisa jadi ada juga yang ngga suka  atau tersinggung dengan apa-apa yang saya tulis. Walau saya sadar, kita ngga mungkin bisa menyenangkan semua orang tapi tentu saja seharusnya kita bisa menghindar untuk menyakiti orang. Nah sepertinya tahun kemarin tuh, saya banyak tersilap jari, menulis apa yang saya anggap benar, padahal belum tentu juga benar, dan apa yang saya anggap wajar padahal bisa jadi ngga wajar bagi orang lain. Maka, untuk segala status dan tulisan saya di medsos yang menyinggung hati teman-teman, saya mohon dimaafkan yaahhh.#sungkem satu-satu.

Nah, berkaca dari itu semua, dan karena menyadari bahwa EQ saya sepertinya tak setinggi IQ saya, maka saya beresolusi di tahun 2015 ini ingin menjadi pribadi yang lebih baik, salah satunya dengan fokus di dunia nyata saja lah, keseringan tenggelam di dunia maya ngga terlalu bagus untuk saya. Ini pendapat pribadi ya, bagi yang punya pendapat lain ya monggo saja. Jadi kalau ada teman yang kangen sama saya, tsaaah, rajin-rajin saja tengok blog ini, karena Inshaa Allah kalau kegiatan ngeblog sih saya ngga mau ninggalin, lha soale ngeblog ini panggilan jiwa. Boleh juga kirim-kirim inbox, pasti saya bales, xixixixi perasaan ada yang ngangenin, biarin ah.

Udah itu saja resolusi saya. Doakan semoga saya bisa menepatinya ya. Kalau kalian, apa resolusi di tahun 2015 ini?








Selasa, 30 Desember 2014

Pray For Air Asia

“ Pesawat Air Asia Surabaya-Singapur hilang katanya”

Seorang ibu di bis menuju terminal kedatangan memberitahu. Baru beberapa saat saya, suami, Tara dan wawaknya mendarat dengan Air Asia di Kuala Namu, penerbangan Jogja-Medan pada Minggu tanggal 28 Desember 2014 lalu.

Seketika itu juga saya langsung membuka smart phone di tangan. Postingan #prayforAirAsia memenuhi timeline. Duh, lemas seketika kaki saya. Terselip rasa syukur di hati, saya dan keluarga selamat sampai tujuan. Dan bersyukur juga, saya mendengar kabar buruk itu setelah mendarat. Bisa dibayangkan kalau saya tahu sebelum terbang, bisa-bisa sepanjang perjalanan bakal ketakutan terjadi hal yang serupa.


Terbang dengan maskapai yang sama dan di hari yang sama dengan pesawat yang hilang itu, sungguh seperti sebuah sentilan halus dari Sang Pencipta. Betapa dekatnya maut mengintai kita.



Setelah 3 hari pencairan, akhirnya siang tadi puing dan penumpang pesawat ditemukan di perairan Pangkalan Bun. Melihat jasad korban yang terapung membuat bayangan buruk langsung menyerbu pikiran saya. Teringat, kemarin saat terbang bersama Tara, saya tidak memakaiakan sabuk pengaman ke Tara, sepanjang perjalanan Tara hanya saya pangku saja. Sebelum take off pramugari memang memberi pilihan, apakah saya mau memangku anak saya saja atau mau menggunakan safety belt tambahan untuk bayi. Kalau dipikir sekarang, duuuh sungguh saya takut setengah mati. Dan menyesali kenapa harus diberi pilihan oleh mba pramugari, harusnya setiap penumpang yang membawa bayi, diwajibkan memakai safety belt tambahan untuk bayinya.

Bukan mau berandai-andai, tetapi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, minimal si anak akan tetap menempel di tubuh orangtuanya, tidak terlepas. Ya Allah, sungguh saya takut sekali sekaligus menyesali keteledoran saya, Syukurnya tidak terjadi apa-apa pada kami sekeluarga.

Kalau saya ingat-ingat kembali, saya pernah berada begitu dekat dengan peristiwa kecelakaan pesawat lainya. Jatuhnya Mandala Air di Padang Bulan Medan. Pada saat itu, saya sedang menikmati semangkuk mie ayam di USU saat sebuah ledakan terjadi. Asap hitam membumbung tinggi. Saat itu, informasi tidak secepat sekarang, tidak ada orang yang update status tentang apa yang terjadi. Suara raungan mobil pemadam kebakaran langsung terdengar. Saya pikir hanya kebakaran biasa, tak lama berselang hujan turun dengan derasnya, membuat lalu lintas semakin crowded. Saya yang tidak tahu apa yang terjadi langsung pulang ke kos. Begitu sampai langsung melihat berita di Tivi. Begitu terkejutnya saya saat mengetahui bahwa ada pesawat jatuh di Jalan Jamin Ginting Medan. Tanpa membuang waktu, saya langsung kembali ke Tempat kejadian yang sayangnya sudah diblokir para petugas, namun saya masih sempat melihat jenazah di evakuasi ke sebuah truk, hitam sekali. Aduuh sungguh mengerikan pemandangan yang saya lihat. Korban berjatuhan tak berbilang banyaknya, tak hanya penumpang bahkan orang yang sedang melakukan kegiatan sehari-hari seperti supir angkot, pejalan kaki, penghuni kos pun turut menjadi korban.



Maka setiap mendengar berita kecelakaan pesawat dada ini langsung berdesir ngeri, terbayang suasana Padang Bulan pada saat itu, luluh lantak dengan puing-puing berserakan.

Banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa-peristiwa naas itu. Menyaksikan satu keluarga yang selamat dari maut “ hanya” karena tidak membaca sms pemberitahuan jadwal yang dimajukan, kembali menyentak bahwa maut memang sudah ditentukan kapan datangnya. Tak bisa dipercepat dan tak bisa diperlambat. Tidak pernah salah alamat dan tak pernah salah orang.

Penumpang yang marah dan kesal karena gagal berangkat pun akhirnya mengucap syukur tanpa henti. Bukti nyata bahwa segala yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, dan yang buruk menurut pandangan mata manusia ternyata adalah yang terbaik yang telah diaturNya.

Musibah bertubi bagi Indonesia di akhir tahun ini pun kembali menjadi rem bagi kita untuk tidak larut dalam suka cita pergantian tahun, karena nyawa yang cuma selembar ini bisa diambil kapan saja, dimana saja dan dalam keadaan apa saja.


Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya untuk para korban Air Asia, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran, dan kita yang hanya menjadi penonton dapat mengambil pelajaran dan lebih mensyukuri hidup ini.


Jumat, 05 Desember 2014

Keraslah terhadap Hidup Nak



Tara… usiamu sudah satu tahun setengah sekarang. Baru kusadari, ternyata sudah begitu lama aku tak bercengkerama denganmu melalui tulisan, melalui blog ini. Tadi pagi, saat aku meninggalkan rumah, kau masih terlelap dengan tenangnya. Nafasmu naik turun dengan teratur. Pelan sekali kucium pipi tembammu, takut membangunkanmu, karena jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Ya setiap Jum’at aku memang berangkat satu jam lebih cepat, karena mau mengikuti senam pagi di kantor. Aku sangat suka acara senam pagi itu, karena kalau tidak rame-rame di kantor nyaris tak pernah aku berolah raga.


Sepanjang perjalanan, di tengah heningnya pagi, jalanan yang masih sepi, aku banyak merenung. Tentang carut marut bangsa ini. Kebutuhan hidup yang semakin menggila, kejahatan social yang semakin marak, semuanya nak, seolah menyerbu pikiranku. Bukan, aku tak mengkhawatirkan diriku, tapi yang kucemaskan adalah bagaimana nanti kehidupan di saat kau beranjak dewasa. Apa kau bisa bertahan dengan nilai-nilai baik seperti yang kuharapkan.

Pagi ini, aku membaca berita, tentang kasus korupsi yang santer terdengar beberapa tahun lalu, yang melibatkan wakil presiden terdahulu. Berita yang kubaca sangat membingungkan nak, satu media memberitakan ia menjadi tersangka, yang lain membantahnya. Kau tahu nak, kasus korupsi yang melibatkan dana talangan di sebuah bank swasta yang dulu sempat membuat para nasabahnya menjerit histeris karena kehilangan tabungan mereka, menghabiskan waktu bertahun-tahun, bahkan hanya untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka.

Beberapa tahun belakangan ini, aku banyak mendengar kasus korupsi yang melibatkan orang-orang ternama negeri ini. Dari mentri, anggota DPR, deputi Gubernur. Ngeri nak, ngeri sekali, seolah korupsi menjadi kegiatan harian mereka.

Nak, dulu aku selalu sinis terhadap mereka itu, betapa pendeknya pikiran mereka sehingga mau memakan uang yang bukan haknya. Tapi nak, ternyata di pekerjaanku pun betapa mudahnya sebuah korupsi terjadi.  Ingat-ingatlah nak, saat kuceritakan tentang pekerjaanku, betapa kerasnya aku menjaga diri agar setiap rupiah yang kubawa pulang untkmu selalu bebas dari yang bukan hakku.

Kejadiannya sekitar dua tahun yang lalu, saat aku masih menjadi seorang Account officer, seseorang yang bertugas menyalurkan kredit kepada para nasabah nak. Saat itu, aku sedang mengerjakan paket permohonan kredit calon debitur sebesar Rp 6 Milyar.

Tiba-tiba sebuah amplop disodorkan begitu saja di meja saat aku sedang sibuk mengerjakan spreadsheet untuk menganalisa pengajuan kredit tersebut.

Eh apa-apaan ini, pikirku.

“ Ini untuk ibu, makasi udah dibantu bu” kata seorang pria separuh baya di hadapanku.

Beberapa waktu yang lalu si bapak memang mengajukan kredit sebesar Rp 2 M ke bank tempat saku bekerja dan ibumu inilah  yang mengerjakan paket kreditnya.

“ Wah maaf pak, saya tidak bisa menerimanya” kataku halus sambil menyerahkan kembali amplop tersebut

“ Ga apa-apa bu, upah capek ibu”

“ Jangan khawatir pak, saya sudah dapat upah capek tiap bulan dari perusahaan “ jawabku sambil tersenyum

“ Kalau gitu buat gantiin bensin ibu deh” Si bapak tetap keukeuh
“ Saya pakai mobil perusahaan pak, jadi minyaknya ditanggung “ Sambil kembali menyodorkan itu amplop
“ Ya sudah deh bu, ini sebagai ucapan terima kasih saya”  jawabnya belum mau menyerah

“ Kalau bapak mau berterima kasih pada saya, cukup bapak bayar angsuran tepat waktu saja setiap bulan dan jangan nunggak ya pak” Jawabku tegas

Akhirnya setelah sodor-menyodor amplop beberapa kali, amplop putih itu pun berpindah tempat dari atas mejaku kembali ke kantong si pemberi.

Kau tahu nak, susah sekali menolak pemberian yang begitu menggiurkan. Aku tidak munafik, amplop itu begitu menggoda, namun aku tahu itu bukan hakku. Saat itu kau masih berada di kandunganku, aku bertekad sebisa mungkin sejak kau ada di dunia ini, aku ingin mengajarkan hal-hal baik padamu. Bukankah memang seperti itu tugas seorang ibu?.

Kejadian tersebut tidak sekali dua kali aku alami, hampir di tiap realisasi kredit aku mengalaminya. Sebagai seorang Account Officer, indikasi suap dari calon debitur memang kerap terjadi. Walaupun kebanyakan mereka memberi setelah kredit mendapat putusan yang artinya konflik kepentingan sudah berlalu tetapi tetap saja yang namanya pemberian-pemberian seperti itu bisa digolongkan kepada gratifikasi . Hal yang sangat dilarang di tempatku bekerja dan sungguh sangat kuhindari.

Kau jangan kagum dulu padaku nak, akan kuceritakan bagaimana kasus serupa pernah juga terjadi pada ayahmu.

Saat itu, ayahmu masih dinas di kebun sawit nak. Ia mengerjakan proyek pembangunan rumah dan jalan. Kau tahu nak, untuk proyek-proyek seperti itu banyak sekali godaan untuk menerima amplop-amplop tebal dari para kontraktor. Tapi aku tahu tak sekalipun ayahmu menerimanya.

Tak kehabisan akal, mereka mencoba segala cara untuk bisa memberikan sesuatu kepada ayahmu. Terkadang amplop berisi uang itu diselipkan di bawah pintu rumah kita, kutemukan pada pagi hari saat mau membuka pintu.  Pernah juga, kami tidak tahu kapan dan bagaimana, berkrat-krat minuman kaleng, berkardus syrup dan parcel telah bertumpuk di garasi. Bayangkan nak, betapa susah melepaskan diri dari suap dan gratifikasi yang merupakan cikal bakal dari tindakan korupsi.

Akhirnya minuman kaleng dan parcel tersebut kami bagi-bagikan ke tetangga yang kurang mampu. Mau bagaimana lagi, kami tidak tahu siapa pengirimnya.

Nak di jaman ini, kau mungkin tidak tahu bahwa sudah menjadi hal lazim di semua instansi, mau berurusan dengan apapun harus ada uang tunai.

Pernah suatu saat aku mengurus surat keterangan harga tanah di kelurahan setempat. Padahal surat itu hanya berisikan keterangan harga limit atas dan bawah tanah berdasarkan data penjualan tanah terakhir yang pernah ada di daerah tersebut. Yang membuat suratnya juga ibumu ini, yang mengetik juga,  hanya saja aku butuh tanda tangan dari si lurah plus stempel untuk mengesahkannya. Sampai satu jam aku menunggu, surat itu tidak ditanda tangani juga. Alasannya banyak kerjaan lah, ada tamu lah. Akhirnya karena aku keburu waktu dan masih banyak pekerjaan lain, kusodorkan saja selembar uang biru, dan tidak sampai lima menit kemudian surat tersebut sudah terlipat rapi dan diserahkan kepadaku. Aaah nak, saat itu aku merasa berdosa padamu.

Dari situ aku sadar nak, bahwa budaya korupsi itu bukan salah si koruptor saja, tapi juga dibantu oleh masyarakat seperti aku ini yang apa-apa maunya enak, tidak ikut prosedur dan terlalu lemah untuk sekedar menunggu.

Padahal dalam riwayat Imam At-Turmudzi, Rasulullah saw bersabda, “Allah melaknat orang yang menyuap dan menerima suap” (HR. Tirmidzi). Imam Ahmad dan Hakim juga meriwayatkan hadits: “Rasulullah saw melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap, dan yang menjadi perantara.”

Hii ngeri sekali nak, bagaimana kebiasaan jelek tersebut yang kelihatan biasa ternyata bisa membuat sang pencipta murka. Mulai hari itu nak, aku tidak pernah kembali ke kelurahan itu,

Karena itu nak, ingat-ingatlah selalu, saat kau besar nanti jika kau harus berurusan dengan aparat, dengan sebuah instansi, dengan sebuah kantor atau apapun, dimana mereka menyebabkan kau menunggu, bersabarlah nak, tak perlu kau ambil jalan pintas untuk memudahkanmu.

Korupsi yang kebanyakan orang berfikir bahwa itu hanya bisa terjadi dalam satuan jumlah uang bermilyar rupiah ternyata juga rentan terjadi untuk jumlah ecek-ecek yang mungkin hanya senilai sepiring martabak.

Tak apalah kau sedikit susah dalam menjalani hidup ini, berusaha keras untuk mewujudkan mimpimu, tapi jangan sekali-kali terbersit niat di hatimu untuk memberikan uang-uang pelicin kepada siapapun. Karena tanpa kita sadari, kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita anggap biasa itulah yang menyebabkan suap, gratifikasi dan korupsi dianggap maklum, karena kita pun memakluminya. Karena sejatinya nak, hal-hal baik yang kita harapkan terjadi pada negeri ini haruslah kita mulai dari diri kita sendiri.

Keraslah terhadap hidupmu nak, agar kehidupan lunak kepadamu.