Selasa, 15 Januari 2013

Mulutmu Harimaumu


Hari ini timeline media social baik twitter, facebook, blog, kompasiana ramai membicarakan pernyataan seorang calon hakim agung. Benarlah kata penyanyi Bob Tutupoli

“ Memang lidah tak bertulang,
Tak terbatas kata-kata
Tinggi gunung sribu janji
Lain di muluuut lain di hati”

Terselip salah kata sangat fatal akibatnya. Namun untuk kasus yang ini beda, bukan lain di mulut lain di hati, tetapi apa yang terucap di mulut mencerminkan isi hati. Menunjukkan minimnya rasa empati. Jangan berharap dapat simpati.

Saat kuliah dulu, ada seorang dosen saya yang kalau bicara kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah makian, kata-kata kotor. Mungkin bermaksud untuk mencairkan suasana kelas, tapi kalau ujung-ujungnya menganggap diri begitu hebat dan merendahkan orang lain , maka dapat disimpulkan apa yang terucap adalah cerminan isi hati.

“ Jika yang keluar adalah hinaan, bisa jadi yang tersimpan di dalam memang sesuatu yang hina”.

Sungguh sial nasib si calon hakim agung, maksud hati hanya bercanda, apa daya menuai luka. Angan untuk menjadi hakim agung pun tinggal sebatas mimpi. Konfirmasi di media sambil menitikkan air mata?. Rasa-rasanya public sudah jemu dengan sandiwara ala pejabat yang seperti pepesan kosong semata. Do you think Indonesian are idiot?, think again.
Balik lagi ke judul tulisan ini “mulutmu harimaumu”. Hati-hatilah saat bicara, termasuk hati-hatilah saat menulis. Jangan sampai termakan omongan sendiri. Jangan pernah mengatakan sesuatu yang mungkin akan kau langgar di kemudian hari.

Contoh ringan, jangan pernah mencibir pengguna blackberry, siapa tahu suatu saat kau akan menggunakannya karena tuntutan pekerjaan atau tuntutan lingkungan. Itu hanya contoh yang sangat kecil. Kau tak harus membenci sesuatu jika tak ingin bersinggungan dengannya. Sama halnya dengan kau tak harus menghina para pemuja jengkol jika memang kau tak ingin memakannya.

Ada seorang teman yang dulu sempat menulis bahwa ia tidak mengerti kenapa orang lain suka sekali berinterkasi di FB, namun sekarang ia addict di dalamnya. Hey, jaman berubah, seleramu bisa berubah friend.

Mulutmu harimaumu, berhati-hatilah.

Jangan pernah meremehkan kuis hunter hanya karena kau tak suka ikut kuis kecil-kecilan karena kau tak tahu betapa senangnya memperoleh hadiah yang kelihatan seperti noktah-noktah itu namun kalau dikumpulkan bisa menjadi gundukan noktah, membentuk garis , akhirnya menjelma lukisan yang indah. It’s called portofolio.

Jangan pernah menganggap penggila lomba blog berselipkan komersilitas sebagai penulis murahan. Karena suatu saat kala kau bosan dengan rutinitas bisa jadi kau tergiur untuk menyelam di dalamnya. Apalagi saat kau mengecap manisnya sebuah kemenangan.

Mulutmu harimaumu, berhati-hatilah

Begitu pun saat kau merasa statusmu adalah status terbaik di muka bumi. Jangan remehkan para ibu rumah tangga hanya karena kau bahkan mungkin tak akan sanggup selama 24 jam penuh berkutat di dalam istana kecilmu. Siapa tahu suatu saat kau terbentur pilihan hingga memaksamu melepaskan sepatu bertumitmu dan menikmati indahnya rengekan balitamu.

Pun cibiran sinismu terhadap para perempuan bekerja, yang berjibaku meringankan beban keluarga dan sedikit memberi kesempatan pada dirinya untuk mengaktualisasikan diri. Bisa jadi, dalam hitungan hari kau pun harus berlarian bersaing dengan matahari pagi demi rezeki yang kau bawa pulang saat matahari berganti dengan rembulan.

Mulutmu harimaumu, maka kerangkenglah dengan rantai yang akan menjagamu. Karena bisa jadi hari ini ia memakan lawan, besok-besok kau yang ditelannya

Mulutku harimauku, ia pernah melumatku bulat-bulat. Jangan sampai kau pun mengalaminya teman.

RIP M.Daming Sanusi

Jumat, 11 Januari 2013

Blogger di Tahun 2013


Tahun ini menginjak tahun ke empat saya aktif di dunia yang benar-benar membuat saya merasa nyaman, adem tentram dan menjadi apa maunya saya. Dunia blogger. Kegiatan ngeblog ini sudah saya jalani sejak tahun 2009 akhir. Dan Alhamdulillah banyak sekali manfaat yang saya dapat dari aktivitas ini. DI samping sebagai terapi menulis bagi diri saya pribadi, sebagai ajang latihan menulis, mengeluarkan ide, dan yang ngga kalah menariknya adalah ajang mengais rezeki. Yup, rezeki itu bisa datang dari pintu dan dari media apa saja. Setidaknya itu menurut pengalaman saya.

Awalnya saya menganggap blog sebagai tempat curhat atau diary online istilahnya, namun lama kelamaan saya merasakan arti blog lebih dari itu. Semakin hari semakin ingin menulis yang bisa memberi manfaat kepada orang lain disamping sebagai ajang curhat. Bisa dibilang inginnya curhat tapi yang elegan gitu, jadi ngga sekedar tempat menggalau.

Di tahun 2012, saya banyak mendapat rezeki dari kegiatan blogging, dari sekedar ikut giveaway yang berhadiah kecil-kecil sampai ikutan lomba yang diadain oleh pihak professional. Rasanya begitu terpacu begitu melihat peserta yang mengikuti adalah para blogger senior yang sudah malang melintang dan tidak asing lagi di dunia bernama blog. Walau tidak banyak, beberapa tulisan yang saya ikuti berhasil menyabet juara, diantaranya:

§     Pemenang Pertama Lomba Blog Aktivis Award, dapet duit 
§     Pemenang ke-4 lomba Blog LG , dapet voucher belanja
§     Pemenang utama lomba Blog Streetdirectory, dapet Samsung Galaxy Pocket
§     Pemenang Pertama Lomba Blog Sharp, dapet TV LCD
§     Pemenang ke-4 Lomba Blog Modena, dapet Oven Toaster.
§     Pemenang lomba blog kerjasama Blogfam dan Gradien Mediatama, hadiahnya buku sama royalti
§     Finalis Lomba Blog Telkomsel Paling Indonesia, tulisannya dibukukan dan menjadi cinderamataTelkomsel 

Hadiahnya juga lumayan membuat saya menarik sudut-sudut bibir. Yeaaah, saya jadi semakin semangat ngeblog.

Tahun 2013 ini saya yakin kesempatan untuk berkarya dan menunjukkan eksistensi semakin terbuka bagi para blogger yang memang serius ingin terjun sebagai blogger. Hey, blogger juga profesi lo, ngga kalah bergengsi dibanding profesi sebagai penulis novel atau cerpenis.  

Saya melihat para pihak owner produk komersial semakin menyadari pentingnya promosi melaui dunia maya. Apalagi promosi melalui para blogger yang cenderung lebih membumi dan terasa nyata, karena disampaikan dengan bahasa sehari-hari dan jauh dari kesan ngiklan. Apalagi dana yang dikeluarkan sangat jauh dibawah standar promosi melalui media lain seperti radio, surat kabar ataupun televise. Makanya saya yakin di tahun 2013 ini semakin banyak lagi lomba blog yang melibatkan produk-produk dengan branded yang sudah dikenal luas di masyarakat.

Tidak hanya untuk review produk, bahkan untuk meperkenalkan toko online yang baru buka, atau di dunia nyata istilah kerennya Grand Opening pun sangat mudah dilakukan dengan melibatkan para blogger.  Dari segi ekonomi, lingkungan, budaya juga para pihak yang terlibat di dalamnya mulai menyadari peranan para blogger dalam menyebarkan dan mensosialisasikan program-program yang ingin mereka sasarkan ke masyarakat luas. Terlihat dari berbagai lomba blog di tahun 2012 seperti lomba AIDS, lomba budaya batik, lomba yang diadakan MPR, DPR, hingga lomba bertema lingkungan yang tentu saja dibutuhkan kemampuan lebih dari sekedar curhat untuk mengikutinya apalagi sampai memenangkannya.

Para blogger sepertinya akan semakin menemukan suntikan semangat double di tahun 2013, karena semakin banyak juga komunitas blogger yang akan menampung dan mewadahi kegiatan ngeblog. Ngeblog akhirnya menjadi suatu kegiatan yang diakui di dunia kepenulisan dan di dunia pergaulan. Ibaratnya para blogger itu anak gaulnya dunia maya.

Namun walau demikian, saya tidak terlau mendukung kegiatan ngeblog yang hanya mengejar page view, atau komentar sebagai tolok ukur keberhasilan seorang blogger. Karena banyaknya silent rider yang cenderung hanya suka membaca tanpa pernah meninggalkan jejak. Walau tak dapat ditampik, kualitas tulisan akan sangat bepengaruh terhadap jumlah kunjungan dan jumlah komentar. Namun, jangan sampai hal tersebut membuat para new blogger berputus asa.

Ke depan di tahun 2013, sebagai blogger sejati, saya ingin kegiatan ngeblog ini tidak hanya membawa manfaat secara moril dan psikologis. Kepuasan batin tetap menjadi hal yang utama, karena bagi saya ngeblog itu salah satunya untuk mengalihkan pikiran sejenak dari padatnya kegiatan di dunia kerja sehari-hari. Ke depannya, semoga ngeblog bisa mendatangkan income bagi saya dan membuka peluang lebih besar baik dalam hal pergaulan, kemampuan menulis dan mungkin juga dalam hal pekerjaan.

So, tahun 2013 ini saatnya para blogger unjuk gigi dan mendulang manfaat lebih dari kegiatan ngeblog. 

Are You ready???


Tulisan ini diikutkan dalam Liga Blogger Pekan Pertama Tahun 2012


Kamis, 10 Januari 2013

Cara Buat Shortlink Di Twitter

Karena keseringan ikut lomba jadi dipaksa buat nyari-nyari yang sebelumnya ngga diketahui. Sekarang ini para penyelenggara lomba mewajibkan pesertanya untuk memilki akun twitter, trus kita juga harus mentwit url tulisan kita. Nah terkadang url yang di twit harus dalam bentuk shortlink.

Caranya gampang banget kok, cekidot


  1. Masuk ke https://bitly.com/
  2. Login dengan menggunakan akun twitter kita.
  3. Trus muncul tampilan berikut :

4. Copykan Url yang mau kita buat shortlinknya di dalam kotak yang ada tulisan Paste a Link Here, Enter
 5. Ntar muncul tampilan berikut


6. Yang dilingkari merah itu adalah Shortlink yang udah jadi
7. Copykan aja ke twitter kita
8. Udah jadiiii.

Gampang kaan. Ngga hanya untuk twitter lo, untuk ke FB juga  bisa. Selamat Mencoba :)

Aku Berbatik, Cause I Love Batik

( Pemenang 3 Lomba Blog Berbatik.com )


Sebelum batik sepopuler seperti saat ini, saya tahu kain batik hanya dalam bentuk kain panjang, daster atau kain bawahan untuk kebaya. Kalau di daerah saya, biasanya batik kain panjang tersebut atau yang biasa disebut jarik menjadi primadona pada saat-saat kelahiran bayi ke muka bumi. Ibu saya biasanya menyetok jarik tersebut dalam jumlah banyak di rumah. Sehingga sewaktu-waktu, saat akan menghadiri acara penabalan nama, tinggal membungkus kain tersebut sebagai kado.


Selain acara penabalan nama bayi, kain batik ini pun sering muncul di perhelatan-perhelatan yang mengusung nilai-nilai tradisional. Contohnya di acara pernikahan adat jawa, dalam prosesi temu pengantin, si orang tua akan melingkarkan batik kain panjang ke sekeliling tubuh pengantin dan menariknya dengan kedua tangan seolah-olah sedang menggendong pengantin ke pelaminan.

Di samping hadir di acara-acara penuh suka cita, batik kain panjang ini pun tidak pernah absen bahkan menemani sampai akhir hayat pemiliknya. Dalam prosesi pengurusan jenazah, batik kain panjang ini digunakan mulai sebagai alas saat memandikan jenazah sampai saat mengkafani. Sebagai penutup si mayit pun digunakan batik.

Sebagai daster, saya sering meilhat ibu saya memakainya di rumah. Kata ibu saya, pakai daster batik itu semriwing, dingin dan nyaman. Kalau melihat lagi koleksi foto-foto jaman ibu baheula, ibu saya menggunakan batik sebagai padanan untuk busana kebayanya. Saya pun menggunakan batik sebagai padanan kebaya pernikahan saya.

Bawahan Batik,Tradisional tapi Tetap Modern

Ternyata secara tidak sadar, batik selalu hadir di setiap kejadian penting di bumi Indonesia ini. Dengan kata lain, batik bukan hanya sebatas kain tapi lebih ke menifestasi kebudayaan yang melekat di diri kita selaku penghuni bumi Indonesia.

Ditilik dari sejarahnya, walaupun kata batik sendiri berasal dari bahasa Jawa yaitu amba dan titik yang berarti menulis titik,  namun dipercaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera dan Papua. Hmm, terserahlah, yang penting batik itu milik Indonesia.

Seperti asal katanya, batik memang merupakan suatu proses menggambar di atas sehelai kain dengan menggunakan pewarna dan malam.

Beberapa tahun belakangan ini, geliat batik semakin menggoda. Peraturan di perusahaan-perusahaan dan instansi yang mewajibkan pekerjanya menggunakan batik pada hari tertentu turut mendongkrak kepopuleran batik.

Sejujurnya kita harus berterima kasih kepada negara tetangga. Terkadang, kita tahu sesuatu itu berharga dan bernilai kalau sudah ada orang lain yang menginginkannya. Tiba-tiba saja kita tersentak oleh berita pengklaiman batik sebagai warisan budaya mereka. Padahal dari dulu kita tenang-tenang saja, menganggap batik tidak ada istimewa-istimewanya. Namun setelah kejadian itu, kita seperti kebakaran jenggot. Syukurlah sejak 02 Oktober 2009, batik Indonesia sudah ditetapkan menjadi warisan budaya dunia oleh Unesco. Yah bagaimanapun juga yang namanya warisan itu yang berhak ya ahli waris, tidak bisa dipindah tangan.

Dan karena termasuk warisan budaya Indonesia, jadi yang memiliki batik tidak hanya orang Jawa saja. Orang Palembang punya corak batik sendiri, Aceh punya sendiri, Bali dan Lombok juga punya sendiri. Dengan ciri kedaerahannya, membuat batik-batik daerah ini semakin mendapatkan tempat tersendiri. Berbeda dengan batik Pekalongan yang bercorak besar-besar, batik Bali dan Lombok coraknya lebih abstrak. Semakin banyak corak yang ada semakin memperkaya khasanah budaya itu sendiri.

Saya sangat beruntung menikah dengan suami yang berasal dari Kutoarjo. Mau tak mau setiap tahun kami akan mudik. Setiap mudik, tak sekalipun saya melewatkan berwisata ke kota Jogja dan Solo. Kesempatan setahun sekali itu saya manfaatkan untuk belanja aneka barang yang terbuat dari batik. Ya, saya dan suami adalah penggemar batik sejati. Dari mulai pakaian, taplak meja, sarung bantal, seprai, bahkan tempat tissue pun kami menyukai yang bercorak batik.



Tidak itu saja, rumah mungil kami pun disesaki oleh berbagai lukisan batik. Setiap tahun kami pasti berburu lukisan di kota Jogja. Mulai dari corak binatang, tumbuhan, hingga lukisan abstrak namun yang dibuat dengan cara membatik tak luput dari incaran kami.



Lukisan Batik Di Rumah Saya

Favorit saya adalah menelusuri deretan toko-toko batik di sepanjang jalan belakang keraton Jogja. Sambil memilih batik yang beraneka ragam, disana kita bisa melihat secara langsung proses pembuatan batik.

Saya begitu takjub dengan ketelatenan dan kesabaran dalam proses pembuatannya.

Yang harus dilakukan pertama kali adalah membuat desain atau motif di atas selembar kain, molani. Dulunya kain yang digunakan adalah kain mori, namun sekarang batik bisa juga dilakukan diatas kain lain seperti sutra, polyester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Biasanya digunakan pensil terlebih dahulu untuk melukis motif yang diinginkan. Pola yang telah jadi tadi kemudian dilukis dengan menggunakan canting sampai memenuhi keseluruhan permukaan kain. Karena prosesnya manual biasanya corak batik tersebut tidak akan seragam, namun disitulah letak keunikannya.



Setelah selesai dilukis, selanjutnya bagian-bagian yang tidak berwarna ( tetap berwarna putih ), contohnya untuk batik motif parang , ditutup dengan lilin (malam). Konon katanya salah satu yang mempegaruhi harga sebuah batik adalah berapa banyak warna yang diaplikasikan. Karena ada tahap penutupan dengan malam ini. Tujuannya, agar bagian yang tidak ingin berwarna terlindungi saat proses pewarnaan.

Tahap berikutnya adalah proses pewarnaan untuk bagian yang tidak tertutup malam. Caranya dengan mencelupkan ke cairan pewarna. Setelah dicelup, kain tersebut dijemur dan dikeringkan. Berikutnya setelah kering dilakukan proses pembatikan lagi, yaitu melukis dengan lilin malam untuk menutup bagian yang akan dipertahankan pada pewarnaan pertama.

Kemudian dilanjutkan dengan proses pewarnaan kedua. Setelah selesai diwarnai, lilin /malam tadi dihilangkan dengan cara meletakkan kain diatas tungku yang berisi air panas. Setelah lilin malam hilang, dapat dilakukan proses pembatikan kembali . Proses ditutup dengan meluruhkan lapisan lilin yang dipakai melukis tadi, ngelorot. Setelahnya kain dicuci dan dikeringkan, lalu terciptalah sehelai kain batik yang mempesona.


Butik batik dan Galeri Lukisan Langganan Saya DI Belakang Keraton Jogja

Kalau melihat kerumitan prosesnya, wajarlah harga yang dibandrol untuk sehelai batik tulis pun lumayan tinggi. Bagaimana tidak?, untuk pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu sampai 3 bulan lamanya.

Karena proses yang memakan waktu cukup lama dan harga yang relative mahal tersebut, pembuatan batik pun disiasati dengan metode cap. Proses pembuatannya menggunakan cap yang telah dibentuk sesuai motif yang diinginkan. Makanya coraknya cenderung seragam di setiap bagian kain, berbeda dengan batik tulis yang kemungkinan tidak konsisten pengulangan motifnya. Perbedaan yang mencolok adalah gambar batik cap tidak tembus pada kedua sisi kain. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif seperti halnya yang dilakukan pada batik tulis. Karena tidak serumit dan waktu yang diperlukan tidak selama proses pembuatan batik tulis, harga yang dibandrol pun relative lebih murah.

Berbatik Saat Hamil Tetap Modis
Suami saya sangat menyukai jenis batik tulis, karena kualitasnya yang tinggi, bagian depan dan belakang kain bolak balik sama. Salah satu alasan ia menyukai batik tulis adalah karena coraknya yang biasanya hanya ada 1 macam untuk satu ukuran. Jadi lebih eksklusif dan kemungkinan kembaran dengan orang lain kecil.

Dengan harga yang tidak murah tersebut, perlakuan saya terhadap batik ini pun lebih istimewa dibanding perlakuan terhadap busana lain. Untuk pencucian, saya menggunakan cairan khusus untuk mencuci batik. Biasanya ada dijual di toko-toko yang menjual batik. Kalau tidak kotor sekali, paling saya hanya merendamnya. Kemudian saat dijemur, tidak perlu diperas, langsung dijemur saja, tarik-tarik sedikit ujungnya untuk menghindari kusut. Usahakan untuk tidak langsung terkena cahaya matahari, biar tidak bladus. Agak sedikit repot memang, tapi tidak mengapa, biar batiknya lebih awet dan bisa dipakai dalam waktu lama.

Dari segala jenis kain yang saya tahu, batik memang mempunyai kekhasan dan kekhususan yang menakjubkan. Entah bagaimana formulanya, yang pasti batik bisa dipakai dalam segala suasana. Dari mulai untuk daster, baju kerja, baju kondangan sampai untuk baju main. Mau dipadankan dengan kain oke, dengan rok atau celana bahan matching, dengan jeans chic dan keren. Jadi tidak aneh sekarang melihat pemandangan remaja hangout di mall memakai batik. Saya pun turut tertular. Kalau kondangan pakai batik itu sudah biasa, tapi saya suka sekali mengenakan batik ke berbagai tempat, nonton bioskop bersama suami, sampai liburan ke Bali pun saya tetap memakai batik. Motif batik favorit saya adalah Mega Mendung dan motif Parang.

Nge-mall Tetep Berbatik
Motif Favorit Saya, Mega Mendung



Motif Mega Mendung, yang merupakan batik khas dari Cirebon memiliki filosofi yang sangat dalam. Saya suka karena kesannya mistis dan misterius. Dengan corak berbentuk awan berarak besar-besar menambah keindahan motif ini. Konon katanya, awan melambangkan dunia atas, bebas dan melambangkan Ketuhanan. Warna biru yang juga merupakan warna asal dari motif ini melambangkan warna langit yang luas, tenang, bersahabat serta melambangkan  hujan yang dinanti-nantikan sebagai pembawa kesuburan dan kehidupan.

Batik Parang
Sedangkan motif parang, sepintas terlihat seperti lilitan huruf S membentuk garis diagonal. Bentuk dasar huruf S diambil dari ombak samudara yang menggambarkan semangat tidak pernah padam. Sama seperti ombak, batik parang menggambarkan semangat pantang menyerah dan menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus baik itu dalam arti memperbaiki diri, maupun pertalian keluarga. Motif ini merupakan motif dasar yang paling tua. Dahulu, motif parang sangat dikeramatkan dan hanya ornag-orang tertentu yang  boleh mengenakannya. Misalnya digunakan oleh Senopati sepulang perang dengan membawa kemenangan. Batik parang digunakan untuk memberi kabar gembira pada raja. Kalau sekarang sih, siapa saja bisa mengenakan batik dengan motif ini. Coraknya yang unik memang membuat pemakainya terlihat menarik

Kalau beberapa tahun yang lalu, berburu batik saya lakukan hanya saat mudik ke Jogja, saat ini saya bisa melakukannya kapan saja. Di kota saya Medan yang sebenarnya kotanya orang batak, namun toko batik sudah banyak menjamur disana sini. Butik batik pun sudah ramai bermunculan di mall-mall besar kota ini. Dari yang sudah memiliki brand nasional sampai yang tidak bermerk.  Bahkan kalau saya malas keluar rumah, saya cukup berselancar via internet di rumah, karena toko batik online pun bisa memenuhi kebutuhan saya. Tanpa harus pulang ke Jawa, saya bisa memuaskan hobi berbatik di mana saja.


Jauh-Jauh Ke Bali Tetap Berbatik :)

Salah satu situs butik online yang menjual aneka macam produk batik adalah berbatik.com. Keistimewaan situs ini dibanding situs belanja batik online lainnya adalah semua produk yang ditawarkan merupakan produk batik cap dan tulis, bukan tekstil print motif batik, jadi semua produknya adalah handmade. Mulai dari busana batik, tas, sepatu, aksesoris, perlengkapan rumah tangga dan juga kain nusantara lainnya.

Tas Laptop dan Casing HP ku juga batik
Berawal dari rasa nasionalisme sang founder Heri Fikrio yang melihat batik dijual di departemen store di London dengan harga yang mahal sekali. Namun sayang, meskipun berasal dari Indonesia, brand batik tersebut justru bukan brand batik Indonesia. Berangkat dari situ,kemudian lahirlah ide untuk mempromosikan batik Indonesia. Di mulai dari akun facebook hingga akhirnya menjual batik secara online.

Yang unik dari situs belanja ini adalah , Berbatik.com mengkhususkan diri sebagai situs belanja online yang mempertemukan pengusaha, perancang busana dan aksesori berbahan batik serta kain nusantara dengan para pecintanya. Seperti saya, salah satunya.

Jadi situs ini tidak hanya meudahkan pembeli tapi juga bermanfaat bagi penjual. Penjual bisa focus memikirkan desain dan produksi karena masalah pembayaran dan pengiriman sudah dilakukan pihak pengelola berbatik.com. Jadi malah menghemat ongkos teknologi, marketing dan bisa meningkatkan brand awareness terhadap produknya.

Beberapa Produk di Berbatik.com. Ngga pasaran

Dengan begitu, hal ini pun menguntungkan pembeli, karena produk yang ditawarkan adalah produk dengan kualitas tinggi. Meski berkualitas, harga yang ditawarkan sangat bersaing mulai dari 200 ribuan hingga 2 jutaan.

Bagi saya yang menyukai batik dan pernak-perniknya, situs ini merupakan one stop shopping untuk produk batik berkualitas. Apalagi saat ini sudah bisa menggunakan kartu kredit dalam transaksi pembayaran, semakin memudahkan para pembelinya.

Dengan adanya situs online seperti ini, memungkinkan baik dikenal sampai ke dunia internasional. Hal ini juga mencegah batik tergerus masa dan hilang ditelan jaman.

Semoga saja ke depannya batik benar-benar bisa mendunia. Kalau kemarin-kemarin para pemimpian dunia seperti Nelson Mandela, Obama, Clinton ngga ragu pakai batik, ditambah lagi para artis seperti Jessica Alba dan teman-temannya juga enjoy aja pakai batik, masa kita yang punya ngga sih.



Ayo berbatik, kalau tidak kita yang memelihara kelestariannya, siapa lagi?. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi ?.



Sumber:

http://swa.co.id/youngsterinc/startup/dari-jalan-di-london-lahirlah-berbatik-com
http://umzaragallery.com/2011/04/14/motif-batik-parang-filosofi-makna-dan-pola/
http://Wikipedia/batik-mega-mendung






Sinamot ( Cerita Dari Sumut )

Rangkaian Bunga Uang

“ Berapa sinamot yang diberi calon suamimu win?, pasti besar lah ya, kan kerja di BUMN”

Pertanyaan tersebut beberapa tahun yang lalu berhamburan dari orang-orang sekitar saat saya akan melangsungkan pernikahan dengan suami. Ada yang bertanya terang-terangan, ada yang menduga-duga bahkan tak sedikit yang menyarankan ini itu.

“ Minimal 3 ikat lah win, kau kan sarjana”

Atau

“ Wah, ibunya windi panen nih, soalnya kau kan perempuan bekerja win, lain dong sama yang ngga kerja”

Merupakan hal yang lumrah, di daerah saya yang notabene masih masuk dalam wilayah Sumatera Utara mempertanyakan hal-hal di atas.

Sinamot dalam bahasa batak adalah sejumlah uang yang diberikan calon mempelai pria kepada ibu mempelai wanita sebagai balas jasa karena telah membesarkan dan mendidik si anak sehingga menjadi wanita yang siap diperistrinya. Walapun jaman sudah modern, teknologi sudah canggih, namun kebiasaan yang dulunya hanya dilakukan oleh suku batak, akhirnya malah menjadi kebiasaan dan keharusan di daerah saya. Saya yang notabene tinggal di kota Medan, ibukotanya SUMUT pun masih mengikuti kebiasaan tersebut. Padahal ayah saya bersuku Jawa. Namun karena ibu saya berdarah Batak Mandailing, tak pelak, sinamot pun menjadi salah satu syarat dalam melangsungkan pernikahan.

Sinamot

Karena merupakan balas jasa pada sang ibu, maka sudah menjadi aturan tidak tertulis bahwa besarnya jumlah sinamot tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal. Diantaranya pendidikan dan pekerjaan si wanita. Jadi semakin tinggi pendidikannya, maka semakin besarlah sinamot yang harus diserahkan si pria. Sekilas terdengar seperti menjual anak, namun pada kenyataannya menurut saya, sinamot ini seperti bentuk pengakuan terhadap hasil didikan orangtua. Tak heran, jika yang dilamar adalah seorang dokter, si pria pasti harus menguras lebih banyak lagi koceknya. Nilai tambah lagi jika si wanita telah bekerja, karena dianggap nantinya ia akan turut mencari nafkah dan membantu si suami.

Makanya, teman-teman kantor banyak yang menduga-duga berapa kira-kira sinamot yang diberikan suami kepada saya. Karena selain pendidikan saya S1, saya juga bekerja di sebuah bank BUMN. Kalau dipikir-pikir sekarang rasanya lucu. Padahal saya kuliah dan bekerja dulu sama sekali tidak memikirkan hal tersebut.
Yang paling susah dari proses pemberian sinamottersebut adalah menyampaikan kepada calon suami. Bagaimana tidak?. Kalau kebetulan si pria berasal dari Sumatera Utara juga pastilah ia sudah mengerti, namun lain ceritanya kalau berasal dari daerah dan suku yang memiliki budaya berbeda.

Untunglah walau suami saya berasal dari Jogja namun karena sebelumnya ia telah mencari tahu mengenai adat istiadat di daerah saya, masalah penyampaian tidak menemui kendala yang berarti. Bahkan ternyata suami sudah mempersiapkannya dengan matang. Setelah melamar saya secara pribadi di sebuah kafe, ia langsung terang-terangan menanyakan perihal sinamotatau biasa disebut uang hangus tersebut kepada saya.
Proses yang biasa terjadi, si pria akan menyampaikan ke wanita kesanggupannya dalam menyediakan uang hangus tersebut. Kemudian si wanita akan menyampaikan kepada ibunya. Kalau si ibu cocok, berarti dicapai kata sepakat, namun kalau belum pas, maka perundingan akan berlanjut. Menurut pengalaman saya, tidak jarang suatu pernikahan gagal  berlangsung, jika tak kunjung dicapai kesepakatan antara kedua belah pihak. Untunglah hal tersebut tidak terjadi pada keluarga saya. Tanpa banyak tanya, ibu langsung menyetujui saja jumlah yang disanggupi suami. Alhamdulillah, kasihan juga saya, kalau sampai ibu saya mintanya kebesaran.

Tak cukup sampai disitu, setelah kata sepakat diambil, prosesi menjelang pernikahan masih panjang.Calon mempelai pria harus datang dulu bersama keluarga dekatnya yang terdiri dari orangtua dan beberapa kerabat saja, namanya  meresek.  Disini acara masih setengah formil, hanya berupa perkenalan antara keluarga pria dan wanita. Saat inilah disampaikan maksud dan tujuan  kedatangannya sekaligus dibicarakan jumlah sinamot yang secara tidak resmi telah disepakati sebelumnya.


Tahap selanjutnya, melamar secara resmi dengan didampingi orangtua dan kerabatnya, martuppol. Yang menarik di acara martuppol tersebut adalah adanya acara berbalas pantun yang sungguh sayang untuk dilewatkan. Mungkin karena dipengaruhi oleh adat melayu, makanya diselipkan pantun didalamnya.

Martupol atau lamaran sekaligus hantaran biasanya hanya berselang beberapa minggu setelah meresek. Di martupol ini, si pria akan membawa semua yang telah disepakati di acara meresek. Barang-barang yang biasanya disyaratkan adalah:

Tepak Sirih

Tepak sirih,sebuah kotak yang didalamnya berisi daun sirih, kapur sirih, dan berbagai macam bunga. Nantinya, si tepak ini sebagai pembuka acara lamaran. Pihak pria akan menyerahkannya kepada orang yang dituakan di pihak wanita. Tepak tersebut ditutup oleh sebuah kain ulos. Dengan diterimanya tepak ditandai dengan dimakannya sirih oleh orang yang dituakan tadi, maka kedatangan keluarga pria dianggap sudah diterima di keluarga calon mempelai wanita. Oya, konon dipercaya, kalau seorang gadis yang belum ada jodohnya memakan sirih yang ada di tepak, maka tak lama ia akan menemukan jodohnya. Maka, berlomba-lombalah para gadis memakannya. Siapa tahu cepat dapat jodoh.

Selain tepak sirih, barang-barang lain yang harus dibawa adalah seperangkat isi kamar, yang terdiri dari tempat tidur, lemari dan toilet. Kemudian perlengkapan calon mempelai wanita , sepasang kebaya, sepatu, tas, pakaian dalam, kosmetik. Peralatan sholat, mukena, sajadah, sarung. Juga peralatan mandi seperti sabun, shampoo, lotion, sikat gigi, macem-macem lah. Sebagai syarat juga dibawa beraneka macam minuman, seperti teh,kopi,gula. Wah kalau diungkus dalam keranjang, hantarannya bisa mencapai sepuluh keranjang bahkan lebih.


Kebaya dibentuk mawar

Dalam acara hantaran ini, nantinya pembawa acara akan menyebutkan satu persatu barang yang dibawa si pria. Setiap satu barang disebut, maka dihantarkanlah keranjang yang berisi barang yang dimaksud ke tangan si ibu mempelai wanita. Sampai terakhir yang disebut adalah jumlah sinamotyang telah disepakati sebelumnya. Penyebutan jumlah tersebut di muka umum salah satunya menunjukkan rasa bangga si ibu atas nilai putrinya. Walaupun bukan berarti harga diri si anak setara dengan uang yang diberi, namun penyebutan angka tersebut merupakan acara yang paling ditunggu-tunggu.

Handuk Dan Peralatan Mandi
Biasanya para tetangga pun datang ke acara hantaran hanya untuk mengetahui berapa sinamot yang diberikan. Tak jarang jumlah tersebut menjadi gunjingan berhari-hari kalau menurut para tetangga tak sesuai. Namun ada juga orang yang tidak mau sinamotnya disebut secara terbuka. Seperti saat acara hantaran saya. Atas permintaan suami dan saya, jumlah sinamot tidak disebutkan. Untunglah ibu saya pun tidak menganggap hal tersebut suatu keharusan. Bukannya malu karena jumlahnya sedikit, tapi karena saya memang tidak ingin orang lain di luar keluarga mengetahuinya. Biarlah mereka menduga-duga saja. Karena menurut saya pribadi, hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus dibangga-banggakan.

Semua prosesi tadi yang paling memegang peranan adalah ibu si wanita. Setelah uang hangus diberi, dengan menggunakan kain/ulos si ibu akan menggendong dan membawa uang tersebut ke kamar, tempat dimana putrinya berada. Wah, acaranya akan menjadi haru, karena si ibu akan memutar-mutar kain berisi uang tersebut ke atas kepala anaknya dan mendoakan putrinya dengan doa semoga apa yang diberi si calon pria menjadi berkah bagi mereka.

Setelah rangkaian acara selesai, selanjutnya akan ditetapkan tanggal dan hari pernikahan. Berbeda dengan suku jawa yang biasanya melihat dari hari baik hari buruk berdasarkan weton si calon pengantin, penentuan tanggal di sumatera terkesan lebih simple. Tinggal ditentukan tanggal yang kiranya semua pihak tidak keberatan. Begitu saja. Setidaknya itu menurut pengalaman saya.

Tas,Sepatu dan Kosmetik

Sekilas kalau mengetahui adat di Sumatera Utara rasanya ribet sekali untuk melangsungkan pernikahan. Namun, ada sisi positifnya, bahwa pernikahan itu bukanlah suatu hal yang main-main. Perlu keseriusan untuk menjalaninya. Dan dengan keribetannya, saya merasa hal tersebut cukup melindungi pihak wanita dari keisengan para pria.

Sering saya mendengar celutukan teman yang bukan orang sumut berkata, “ Wah kalau nikah sama orang Medan itu ngajak bangkrut”.

Dipikir-pikir memang sepertinya iya. Belum-belum si pria sudah pusing tujuh keliling memikirkan dana yang harus dikeluarkannya. Namun jangan khawatir, banyak ibu yang kemudian akan mengembalikan uang hangusnya kepada pasangan pengantin tersebut lagi. Mungkin tidak seluruhnya, namun cukup membuat lega bagi pasangan pengantin baru.

Setelah itu semua, prosesi pernikahan masih berlanjut.

Yang membedakan pengantin sumut dengan daerah lain salah satunya adalah pakaian. Banyak jenis pakaian adat Sumut. Dari pakaian batak Toba, Karo, hingga Mandailing. Karena ibu saya suku Mandailing, maka mau tak mau saya pun mengenakan baju adat Mandailing. Ya ampuun, hiasan kepalanya yang dibeut bolang itu berat banget. Saya sampai migren saat memakainya. Namun entah kenapa, saya melihat, siapapun yang mengenakan baju adat Mandailing tersebut, aura kecantikannya begitu terpancar. Makanya saya tidak keberatan memakainya, karena disamping warnanya yang cerah yaitu merah, juga membuat saya tampil cantik eksotis.

Baju Adat Mandailing

Satu lagi, istimewanya pengantin Sumut dalam hal ini Mandailing. Alat musik yang digunakan saat acara berlangsung adalah gondang Sembilan. Terdiri dari Sembilan buah gendang denga berbagai ukuran. Tidak tanggung-tanggung, acara adat ini bisa berlangsung tiga hari tiga malam. Bayangkan saja seperti apa lelahnya si pengantin. Tak heran di hari ketiga, biasanya pengatin memakai kaca mata hitam untuk menutupi lingkar hitam di matanya.

Gondang ini dimainkan dengan lagu pengiring yang sendu mendayu-dayu. Pasangan pengantin akan menari mengikuti iringan lagu. Kalau di Jawa ada acara sungkem, maka di adat mandailing, sungkemnya sambil menari ala tor-tor.

Prosesi Tarian Batak, Saat adik Saya Menikah

Namun lagi-lagi untunglah, saya tidak mengalaminya. Bukan karena tidak mau, namun karena keterbatasan waktu, apalagi keluarga suami yang berasal dari Jogja tidak bisa terlalu lama tinggal, maka acara pernikahan saya cukup ringkas tanpa mengurangi nilai adat istiadat di dalamnya.

Kalau mengingat-ingat kembali saat pernikahan berlangsung saya dan suami sering menertawakannya. Dimana saat salah satu kerabat ibu saya memberi nasehat dalam bahasa Mandailing, saya dan suami cuma pandang-pandangan sambil tersenyum, tak mengerti apa yang dikatakannya.

Awalnya keluarga suami sempat shock dan agak kaget dengan panjangnya prosesi dari mulai lamaran sampai pernikahan. Namun, mereka senang mengikutinya, karena melihat hal baru yang tidak ditemui di tanah Jawa.

Bagaimanapun ribet dan melelahkannya prosesi pernikahan yang saya alami, namun ada kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri di hati. Bahwa saya telah ikut melestarikan kekayaan budaya bangsa dan nenek moyang. Saya rasa tidak ada salahnya sebagai generasi penerus , kita mengabulkan dan menuruti keinginan orangtua di hari pernikahan . Merupakan bentuk bakti sebelum meninggalkan rumah yang telah membesarkan kita.

Sepulang dari bulan madu dan kembali masuk kantor, kembali teman-teman usil bertanya kepada saya, “ Jadi berapa win sinamotmu?”

“ Seharga satu buah mobil” jawab saya enteng.



Fot : Koleksi Pribadi

Selasa, 08 Januari 2013

Be A Writer

Saat mengikuti seminar Asma Nadia beberapa waktu yang lalu, mba Asma mengatakan salah satu cara menyuburkan semangat menulis adalah ikut komunitas penulis. Benar sekali, menurut saya dengan bergabung dalam suatu komunitas penulis membuat kita terpacu untuk menghasilkan tulisan. Melihat teman-teman anggota lain menelurkan karya entah puisi, cerpen, bahkan novel merupakan cambuk bagi saya pribadi untuk menyusul prestasi mereka.

Dan saya beruntung sekali bisa terdampar di salah satu grup penulis yang luar biasa. Grup ini bermarkas di FB. Tidak sembarangan orang bisa bergabung disana. Ada seleksi yang sangat ketat untuk bisa nyemplung di dalamnya. Kebanyakan dari anggotanya adalah para kontributor dalam sebuah antologi yang diadakan oleh si pendirinya yaitu mba Leyla Hana. 

Tidak seperti kebanyakan grup yang saya ikuti yang anggotanya bisa beratus bahkan sampai ribuan orang, grup ini hanya membatasi sampai 100 orang saja. Jangan harap kamu bisa duduk-duduk santai di dalamnya. Bu kepseknya sangat disiplin. Ada jadwal yang harus dipatuhi para anggota, dari Senin sampai Minggu. Bahkan secara berkala akan diadakan seleksi ulang, bagi anggota yang tidak aktif, ngga pernah posting tulisan, ngga pernah komen , ngga pernah berinteraksi maka akan diremove dari grup ini. Kesannya kejam banget yah. Tapi ternyata cara tersebut ampuh membuat anak didiknya menjadi disiplin dan serius selama berada di sana. Sayang juga kan kalau sebuah grup hanya untuk main-main doang, ngga ada manfaat yang bisa kita ambil dari menjadi anggotanya.

Disana kita diatur dan dibagi untuk piket mingguan. Petugas piket wajib memposting tulisan yang terdiri dari Catatan Harian, Cerpen, Resensi buku atau film. Boleh juga posting yang seneng-seneng kayak promo buku, info lomba sampai free day, mau posting apa saja boleh. Nyenengin banget kan?.

Tujuan pendiri grup ini sangat jelas, bersama-sama mewujudkan mimpi untuk menjadi seorang penulis. Bukan berarti harus menjadi penulis novel atau cerpenis, tapi penulis apa saja. Saya yang notabene sangat kurang kemampuan menulis fiksinya pun diterima dengan hangat disini. Dari seratus orang tersebut berbagai kemampuan bercampur dan berkolaborasi. Dari penulis puisi, novelis, cerpenis, blogger sampai yang ngakunya menjadi penulis status. Ibarat raw blend, segala macam buah sehat ada disana, menambah cita rasa yang membentuk harmoni rasa yang lezat.

Setahun sudah grup ini berdiri. Suka duka bersama dijalani. Hingga akhirnya dari Grup di FB , akhirnya diputuskan untuk pindah media menjadi blog yang bisa diakses oleh semua orang. Be a Writer nama grupnya. Sesuai dengan namanya, semoga para anggotanya benar-benar bisa menjadi penulis sesuai yang diinginkan.

Silahkan berkunjung di rumah kami yang hangat ini teman. http://bawindonesia.blogspot.com/